POTPOURRI

Atasi Krisis Sampah Bali, Danantara Mulai Bangun PSEL Senilai Rp3 Triliun

Melalui proyek perdana senilai Rp3 triliun, Danantara Indonesia siap menyulap 1.500 ton sampah per hari menjadi pasokan listrik hijau untuk 100.000 rumah warga di Bali.

WWW.JERNIH.CO – ​ Lembaga Pengelola Investasi Indonesia, Danantara Indonesia, resmi melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) senilai Rp3 triliun di Bali pada hari Rabu. Momen ini menjadi tonggak sejarah dimulainya proyek perdana di bawah inisiatif pengelolaan sampah berskala nasional mereka.

Berlokasi di Desa Pedungan, Denpasar, fasilitas ini dirancang khusus untuk mengatasi masalah krisis sampah di daerah tersebut. Pabrik ini akan mengonversi limbah menjadi energi listrik menggunakan teknologi bertaraf internasional yang telah teruji.

Proyek ini merupakan tindak lanjut atas arahan langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto, yang meminta percepatan penanganan krisis sampah di Tanah Air tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, anak perusahaan Danantara, yakni PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), menggunakan teknologi pengolahan mutakhir yang kini telah diterapkan di lebih dari 50 negara.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menjelaskan bahwa teknologi yang dipilih mampu mengolah sampah baru maupun tumpukan sampah lama (legacy waste) secara optimal. Hal ini merujuk pada keberhasilan penerapan teknologi serupa yang ia saksikan langsung di Asia Timur.

“Ketika saya mengunjungi beberapa lokasi di Tiongkok dan Jepang, fasilitasnya luar biasa bersih,” ungkap Roeslani. “Di Tiongkok, ada satu pabrik yang berlokasi tepat di tengah kawasan perumahan elite karena sama sekali tidak menimbulkan bau. Mereka bahkan membangun taman baca dan taman bermain anak-anak di belakang fasilitas tersebut.”

Kehadiran fasilitas ini nantinya akan melayani pengelolaan sampah di kawasan aglomerasi padat penduduk di wilayah Denpasar dan Badung.

Dijadwalkan mulai beroperasi pada awal tahun 2028, pabrik PSEL ini akan mengolah 1.500 ton sampah per hari, atau lebih dari 500.000 ton per tahun. Dengan kapasitas tersebut, fasilitas ini secara efektif akan menyerap lebih dari 40 persen total volume timbulan sampah di Bali.

CEO PT DIM, Pandu Patria Sjahrir, menegaskan bahwa proyek ini telah melalui proses uji kelayakan yang sangat ketat, baik dari segi teknis, hukum, finansial, maupun lingkungan. Pabrik ini juga dirancang agar memenuhi standar ketat European Union Industrial Emissions Directive (EU IED).

Berdasarkan proyeksi lingkungan, keberadaan pabrik ini mampu menekan emisi terkait Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton CO2 per tahun. Selain itu, fasilitas ini juga akan menekan kebutuhan lahan TPA hingga 80 persen.

“Dari perspektif energi, inisiatif ini akan menghasilkan listrik hijau yang mampu mengaliri sekitar 100.000 rumah tangga di Bali,” tambah Sjahrir. Ia juga menyebutkan bahwa investasi senilai Rp3 triliun ini diharapkan mampu membuka 1.200 lapangan pekerjaan hijau (green jobs), yang akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.(*)

BACA JUGA: [JERNIH JAGA BUMI] Mengapa Program Waste-to-Energy di Indonesia Tidak Efisien?

Back to top button