Crispy

Kemenkes Tegaskan Belum Ada Vaksin Hantavirus

Kementerian Kesehatan RI resmi meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap Hantavirus. Dengan tingkat kematian hingga 38% dan belum adanya vaksin komersial, senjata utama kita kini ada pada kebersihan dapur. Simak protokol “Seal Up, Trap Up, Clean Up” untuk melindungi keluarga Anda dari virus.

WWW.JERNIH.CO – Seiring munculnya laporan kluster Hantavirus di tingkat global, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah meningkatkan kewaspadaan nasional. Di tengah isu yang berkembang, Kemenkes memberikan penegasan penting mengenai status penanganan medis, khususnya terkait vaksin, serta risiko nyata yang mengintai keluarga Indonesia.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa belum ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk mencegah infeksi Hantavirus pada manusia secara umum di Indonesia.

Penanganan medis yang ada saat ini masih bersifat suportif, yaitu fokus pada meredakan gejala dan membantu fungsi organ tubuh (seperti paru-paru atau ginjal) agar tetap stabil selama masa kritis.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk tidak terjebak dalam disinformasi atau teori konspirasi yang mengaitkan isu Hantavirus dengan kepentingan komersial vaksin baru. Karena obat spesifik dan vaksin belum ada, deteksi dini dan pengendalian faktor risiko lingkungan menjadi satu-satunya “senjata” utama kita.

Hantavirus bukanlah virus yang “biasa-biasa saja”. Meski jarang menular antar-manusia (kecuali pada jenis tertentu seperti virus Andes), proses penularannya dari tikus ke manusia sangat efisien melalui jalur aerosol.

Melalui inhalasi (udara), ini adalah cara paling umum. Ketika kotoran, urin, atau air liur tikus yang terinfeksi mengering, virus akan menyatu dengan debu. Saat kita menyapu atau membersihkan area tersebut, partikel virus beterbangan di udara dan terhirup masuk ke paru-paru.

Juga bisa akibat kontak langsung dengan menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang hidung atau mulut. Selain itu walaupun jarang, gigitan tikus yang membawa virus dapat langsung menginfeksi aliran darah.

BACA JUGA: Waspada Bahaya Hantavirus dari Hewan Pengerat

Tingkat fatalitasnya pun cukup mengkhawatirkan. Kemenkes mencatat tingkat kematian (CFR) Hantavirus di Indonesia bisa mencapai 13%, bahkan di beberapa kasus global (tipe HPS), angkanya bisa menyentuh 38%. Gejalanya sering mengecoh karena sangat mirip dengan flu, DBD, atau leptospirosis, sehingga banyak pasien terlambat ditangani.

Mengingat tikus adalah reservoir atau pembawa utama, maka memerangi tikus adalah harga mati. Keluarga Indonesia dapat menerapkan metode “Seal Up, Trap Up, Clean Up” yang direkomendasikan ahli kesehatan, yakni;

Seal Up (Tutup Akses)

Tikus dapat masuk melalui celah sekecil diameter pensil. Periksa setiap sudut rumah, terutama di bawah wastafel, celah pintu, dan saluran pembuangan. Gunakan kawat kasa baja atau semen untuk menutup lubang-lubang tersebut.

Trap Up (Perangkap)

Gunakan perangkap tikus di area yang sering dilalui. Hindari penggunaan racun tikus di dalam rumah jika Anda memiliki anak kecil atau hewan peliharaan. Jika menggunakan racun, pastikan bangkai tikus segera ditemukan dan dibuang dengan aman.

Clean Up (Pembersihan yang Benar)

Ini adalah bagian paling krusial. Jangan pernah menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering. Gunakan masker dan sarung tangan. Semprot area yang terkontaminasi dengan cairan disinfektan atau karbol. Biarkan selama 5-10 menit agar virus mati sebelum dibersihkan dengan kain pel basah.

Jangan lupa pastikan makanan selalu disimpan dalam wadah tertutup rapat (plastik tebal, kaca, atau logam) agar tidak mengundang tikus masuk ke dapur.(*)

BACA JUGA: Teror Hantavirus di Samudra Atlantik: Tiga Penumpang Kapal Pesiar Tewas, Satu Kritis

Back to top button