Crispy

Kiamat Strategis Tel Aviv: Media Israel Akui Perang Melawan Iran Berakhir dengan Kekalahan Total

JERNIH — Kampanye militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel untuk menundukkan Teheran gagal total dalam mencapai target strategisnya. Sejumlah media terkemuka Israel secara serentak mengakui bahwa akhir dari perang ini justru meninggalkan posisi Tel Aviv dalam kondisi paling terisolasi dan tertekan sepanjang sejarah.

Surat kabar terbesar Israel, Israel Hayom, dalam laporan utamanya yang terbit hari Minggu (14/06/2026), mengakui dengan getir bahwa rezim Teheran tetap berdiri kokoh dan seluruh cadangan uranium yang diperkaya masih berada di tangan Iran. Meski Israel sempat melancarkan serangan udara masif, mereka gagal total mengubah peta kekuatan regional. Iran justru keluar dari perang ini dengan posisi yang jauh lebih kuat dibanding sebelum perang pecah pada 27 Februari tahun lalu.

Kekhawatiran terbesar Tel Aviv kini menjadi kenyataan. Israel Hayom membongkar bahwa saat ini sebuah Nota Kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran sedang dimatangkan. Kesepakatan baru ini mencakup dua poin krusial yakni Iran akan segera membuka kembali blokade Selat Hormuz guna menstabilkan harga energi global. AS juga akan mengizinkan Iran untuk kembali masuk secara bertahap ke dalam sistem ekonomi dan pasar perdagangan global.

Sinyal balik arah Washington ini dipertegas oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyatakan dengan gamblang bahwa ke depan, Amerika Serikat hanya akan bertindak murni demi mengejar kepentingannya sendiri.

Kemarahan Elite Tel Aviv

Dibalik layar pemerintahan Benjamin Netanyahu, gelombang frustrasi dan kemarahan kini diarahkan langsung kepada Presiden AS Donald Trump. Sejumlah lingkaran dalam pemerintahan Israel bahkan mulai menggunakan kata dalam bahasa Ibrani yang bermakna “Pengkhianatan” untuk menggambarkan sikap Trump.

“Trump telah menipu kita, dan sekarang kita yang harus menanggung akibatnya. Israel tidak lagi dilibatkan dalam alur diplomasi ini dan kita tidak punya kekuatan untuk memengaruhinya,” ungkap seorang pejabat senior Israel kepada harian Yedioth Ahronoth.

Para pejabat Israel dilaporkan “sangat syok” melihat arah negosiasi AS-Iran. “Mereka (AS) mengguyur Iran dengan uang, dan Teheran mendapatkan semua yang mereka inginkan. Iran akan membangun kekuatan rudal yang masif, dan kita dipaksa menguras anggaran raksasa hanya untuk membeli rudal pencegat,” tambah pejabat tersebut.

Kritik tajam juga datang dari internal parlemen. Anggota Knesset (Parlemen Israel) dikecam karena sibuk melakukan manuver politik domestik dan sepenuhnya buta terhadap lubang jebakan strategis (strategic quagmire) dengan Iran.

Berdasarkan laporan investigasi Koresponden Politik Channel 13, Moriah Asraf, dan Pemimpin Oposisi Yair Lapid, ada beberapa poin kekalahan mutlak Israel dalam perjanjian baru AS-Iran.

AS sama sekali tidak memasukkan klausul pembongkaran infrastruktur nuklir Iran. Selain itu juga tidak ada pemindahan atau penyitaan terhadap cadangan uranium yang telah diperkaya oleh Teheran serta tidak ada pembatasan atau sanksi baru terhadap program rudal balistik milik Iran.

Sementara klaim pemerintah bahwa militer Israel memiliki ruang bebas untuk menghancurkan Hezbollah di Lebanon terbukti hanya kebohongan publik tanpa kredibilitas, karena perbatasan utara hingga hari ini masih dihujani tembakan.

“Kesepakatan yang sedang dibentuk ini sama sekali tidak mencapai satu pun target perang yang telah ditetapkan oleh Israel. Rezim di Iran masih berdiri, program rudal mereka eksis, dan Teheran tetap mampu membangun kembali program nuklirnya kapan saja,” tegas Pemimpin Oposisi Israel, Yair Lapid, pada hari Minggu (14/6/2026).

Di sisi lain, boikot internasional dari negara-negara Eropa di segala sektor kedokteran, akademik, hingga ekonomi kini semakin meluas, menjepit posisi diplomatik Israel ke titik nadir tanpa adanya rencana strategis yang jelas dari kabinet Netanyahu.

Back to top button