Rudal Iran Kini Jauh Lebih Presisi, Mematikan, dan ‘Mustahil’ Dicegat Israel

Pengakuan dari mantan pejabat tinggi Pentagon dan eks-Panglima Angkatan Laut Israel mengenai rontoknya sistem pertahanan udara Israel (Iron Dome/Arrow) oleh rudal generasi baru Iran adalah sebuah tamparan keras bagi narasi militer barat selama ini.
JERNIH — Teknologi rudal balistik Iran dilaporkan telah mengalami lompatan yang mengerikan. Mantan penasihat Kepala Operasi Angkatan Laut AS di Pentagon, Profesor Theodore Postol, secara terbuka mengakui bahwa rudal-rudal milik Teheran kini menjadi jauh lebih akurat, destruktif, dan berada pada level yang mustahil untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Dalam wawancara televisi Going Underground yang disiarkan pada Sabtu (13/06/2026), pakar militer terkemuka ini secara jantan mengakui bahwa prediksi awalnya salah besar terkait kekuatan destruktif Iran terhadap Tel Aviv.
“Berdasarkan data lama yang saya kumpulkan, saya sempat memperkirakan Iran hanya bisa memberikan kerusakan signifikan yang moderat jika perang meluas. Ternyata saya salah. Iran kini memiliki seluruh generasi rudal baru yang jauh lebih mumpuni dan saya ingin tegaskan: mustahil untuk dicegat,” ujar Profesor Theodore Postol.
Postol membeberkan beberapa fakta teknis mengapa lini pertahanan udara Israel (Air Defenses) kedodoran menghadapi serangan terbaru Teheran. Kemampuan rudal balistik Iran saat ini melompat jauh melampaui apa yang terlihat pada awal konflik, bahkan dibandingkan dengan perang Juni 2025 lalu.
Generasi rudal baru Iran membawa hulu ledak (warheads) berukuran masif dengan daya hancur berlipat ganda. Iran juga memiliki pasokan rudal presisi ini dalam jumlah sangat besar, memungkinkan mereka mengunci dan menghancurkan target-target bernilai strategis tinggi milik Israel secara fokus.
Postol menyebut upaya pertahanan udara Israel melawan rudal balistik Iran sebagai tindakan yang “konyol”. Menurutnya, sistem pertahanan udara konvensional hampir tidak memiliki kapabilitas sama sekali untuk menahan laju penetrasi rudal balistik cepat, terlebih ketika dikombinasikan dengan serangan kawanan drone.
Lebih lanjut, Postol menepis narasi Barat yang menyebut Iran sebagai “poros instabilitas nuklir” di Timur Tengah. Ia justru menunjuk Israel sebagai aktor utama ketidakstabilan tersebut karena ambisi politik elitnya. “Kepemimpinan politik Israel nekat mendorong negara mereka ke titik kritis, bahkan di saat kepemimpinan militer mereka sendiri sudah berteriak bahwa mereka sudah di ujung tanduk (on the ropes),” tegasnya.
Terbongkar, Kerusakan Israel Sangat Masif
Pengakuan mengejutkan dari Pentagon ini diperkuat internal militer Israel sendiri. Mantan Panglima Angkatan Laut Israel, Eliezer Marom, mengakui bahwa serangan rudal Iran telah menimbulkan kerugian yang luar biasa besar di wilayah pendudukan.
Berbicara kepada surat kabar Israel Maariv, Marom membongkar fakta yang selama ini ditutupi oleh pemerintah Benjamin Netanyahu dari publik melalui aturan sensor militer yang ketat.
“Kita telah melihat apa yang bisa dilakukan oleh rentetan rudal Iran, bahkan dalam jumlah yang terbatas sekalipun. Kerusakan di Israel ini sangat besar, benar-benar masif (enormous). Sebagian besar dari kerusakan ini tetap tidak terlihat dan tidak diketahui oleh publik karena adanya sensor militer yang ketat,” bongkar Eliezer Marom.
Marom juga memperingatkan bahwa industri militer Iran saat ini mampu mempertahankan “kecepatan produksi rudal balistik dalam skala raksasa.”
Pernyataan frustrasi para elite militer ini mencuat menyusul aksi balasan masif (retaliatory strikes) yang diluncurkan Iran pada 7 Juni 2026 lalu. Serangan itu merupakan respons Teheran atas agresi brutal Israel di pinggiran selatan Beirut. Dalam serangan 7 Juni tersebut, rudal-rudal Iran berhasil menembus barikade dan menghantam sejumlah situs militer paling sensitif di wilayah utara Palestina yang diduduki Israel.
Hingga saat ini, otoritas keamanan Israel masih menolak untuk merilis rincian kerugian materi maupun korban jiwa demi menjaga moral masyarakat sipil serta mempertahankan klaim semu mengenai “kesuksesan strategi” perang mereka.






