Crispy

Lampu Kuning bagi Netanyahu, Koalisi Baru ‘Together’ Siap Ambil Alih Takhta Israel

JERNIH – Peta politik Israel berguncang hebat setelah dua rival terberat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi mengumumkan penggabungan kekuatan pada Minggu (26/4/2026). Langkah ini diambil dengan satu tujuan tunggal: mendepak Netanyahu dari kursi kekuasaan pada pemilu mendatang yang dijadwalkan akhir tahun ini.

Dua mantan Perdana Menteri tersebut sepakat melebur partai mereka—”Bennett 2026″ dan “Yesh Atid” (Ada Masa Depan)—menjadi satu entitas politik baru bernama “Together” (Bersama) di bawah kepemimpinan Naftali Bennett.

Naftali Bennett (54), mantan komando tentara yang kini menjadi jutawan teknologi, menyatakan bahwa sudah saatnya Israel membuka babak baru setelah didominasi oleh figur polarisasi seperti Netanyahu selama tiga dekade. “Setelah 30 tahun, inilah saatnya berpisah dengan Netanyahu dan membuka lembaran baru bagi Israel,” tegas Bennett.

Koalisi ini bukan yang pertama bagi mereka. Pada 2021, duet ini sukses mengakhiri kekuasaan 12 tahun berturut-turut Netanyahu, meski pemerintahan koalisi mereka saat itu hanya bertahan 18 bulan karena perpecahan internal yang tajam.

Kredibilitas Netanyahu kini berada di titik nadir. Meskipun Israel melakukan operasi militer besar-besaran, Bennett dan Lapid mengkritik keras kegagalan Netanyahu dalam mengubah keuntungan militer menjadi “kemenangan strategis” atas Iran, Hezbollah di Lebanon, maupun Hamas di Gaza.

Ketegangan regional yang tak kunjung usai selama dua tahun terakhir telah menyebabkan jumlah kematian militer tertinggi dalam beberapa dekade, membuat publik Israel mulai meragukan kepemimpinan sang “Mr. Security”.

Isu Domestik: Pajak dan Wajib Militer

Selain isu perang, Yair Lapid (62) membawa suara kelas menengah sekuler Israel yang semakin geram. Mereka merasa menanggung beban pajak dan wajib militer yang tidak adil, sementara sekutu politik ultra-religius Netanyahu terus menuntut pengecualian wajib militer bagi komunitas mereka.

Isu ini menjadi “bom waktu” bagi Netanyahu, terutama setelah militer memperingatkan bahwa pasukan mereka sudah sangat kelelahan (over-stretched) akibat konflik yang berkepanjangan.

Belajar dari kegagalan koalisi 2021, Bennett menegaskan bahwa kali ini ia tidak akan menjalin koalisi dengan partai-partai Arab. Ia juga menutup pintu bagi penyerahan lahan apa pun kepada pihak Palestina untuk pembentukan negara independen. Langkah ini diambil untuk menarik kembali pemilih sayap kanan yang kecewa dengan Netanyahu namun tetap konservatif.

Berdasarkan survei terbaru dari N12 News per 23 April partai Likud (Netanyahu) diprediksi meraih 25 kursi dari total 120 kursi Knesset, sementara Together (Bennett-Lapid) diprediksi meraih 28 kursi (gabungan potensi Bennett 21 dan Lapid 7). Sedangkan konfigurasi koalisi, blok kanan-religius Netanyahu diprediksi hanya mengantongi 50 kursi, sementara koalisi Bennett-Lapid diprediksi mampu merangkul faksi kecil lainnya untuk mencapai ambang batas 60 kursi.

Netanyahu sendiri merespons sinis penggabungan ini dengan mengunggah foto lama Bennett, Lapid, dan Mansour Abbas (tokoh partai Arab) di Telegram dengan caption: “Mereka melakukannya sekali, mereka akan melakukannya lagi,” sebagai upaya menakut-nakuti pemilih sayap kanan.

Perbandingan Profil Duet “Together”:

FiturNaftali Bennett (54)Yair Lapid (62)
Latar BelakangEks Komando Tentara & Jutawan Teknologi.Eks Presenter TV & Penulis Lagu.
Basis MassaSayap Kanan, Nasionalis, Pemukim.Kelas Menengah Sekuler, Liberal.
Isu UtamaKeamanan Strategis & Ketegasan terhadap Iran.Keadilan Sosial, Pajak, & Wajib Militer.

Back to top button