MEMBACA PEMAKAN BUAH SEBAGAI KUMPULAN MITOS, SIMBOL, DAN KETIDAKTAHUAN

Pada pandangan pertama, ceritanya mungkin tampak sederhana: seorang pria tertangkap sedang memakan buah di halaman kerajaan. Seorang penulis seperti Noorca M. Massardi mampu mengubah tindakan yang tampak sederhana itu menjadi bom simbolik yang memicu rangkaian makna. Pemakan Buah terasa seperti labirin kecil karena memiliki lorong-lorong rahasia di berbagai tempat. Menjadi semakin jelas bahwa makanan pria aneh itu bukan sekadar makanan, taman itu bukan sekadar taman, dan persidangan di awal cerita bukan sekadar perkara hukum biasa.
Awal yang menarik dari buku ini didasarkan pada sebuah ayat Al-Qur’an (QS. Al-Kahfi ayat 65) yang menceritakan pertemuan Nabi Musa dengan sosok misterius dalam tradisi Islam yang dikenal sebagai Nabi Khidr. Kutipan ini tampak sederhana, tetapi langsung memberi tahu pembaca bahwa cerita yang akan mereka baca memiliki dimensi spiritual dan intelektual. Dalam kisah tersebut, Khidr adalah sosok yang memiliki pengetahuan dari Tuhan yang bahkan tidak dapat dipahami oleh Nabi Musa. Dengan menempatkan ayat ini di halaman pertama, penulis seolah ingin mengatakan bahwa tokoh laki-laki dalam cerita ini, yang belum disebutkan namanya, mungkin berada pada jalur simbolik yang sama: seorang pengelana pengetahuan yang tidak mengikuti aturan manusia atau logika formal.
Kemudian, pria misterius itu menyebutkan namanya yang sederhana: “Hadir.” Jika biasanya nama dipahami sebagai identitas tetap, nama ini sangat menarik. Menjadi “hadir” berarti berada di sini dan saat ini. Hudhur dalam tasawuf berarti kesadaran penuh akan momen kini. Tampaknya penulis ingin menghapus masa lalu dan masa depan tokoh ini ketika memilih kata tersebut sebagai namanya. Ia tidak memiliki masa lalu yang jelas, dokumen apa pun, bahkan tanggal lahir. Ia hanya hidup, berjalan, dan melihat dunia. Ketiadaan identitas ini menjadi sindiran tajam terhadap konsep negara modern. Hal pertama yang disoroti jaksa tentang Hadir adalah bahwa ia melanggar hukum kependudukan karena tidak memiliki identitas resmi. Di dunia yang penuh aturan, dokumen, kartu identitas, dan nomor registrasi, kehidupan seseorang sering diukur melalui hal-hal tersebut. Sebuah pertanyaan sederhana dalam buku ini mengajak berpikir: apakah seseorang benar-benar ada jika tidak tercatat dalam sistem negara?
Peristiwa pemakan buah menjadi pusat cerita dan langsung memiliki makna mitologis yang kuat. Tidak dapat dipungkiri bahwa ini merujuk pada kisah Adam dan Hawa yang memakan buah pengetahuan di Taman Eden. Dalam kisah itu, buah terlarang melambangkan kesadaran manusia tentang benar dan salah, konsekuensi kebebasan, dan pengetahuan. Gagasan yang sama muncul kembali dalam Pemakan Buah, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Buah itu tumbuh di Taman Rahasia negara, tetapi belum pernah dimakan oleh Raja. Buah tersebut selalu matang, harum, dan tidak pernah membusuk. Ia tampak seperti makhluk hidup sekaligus tanda dari Tuhan.
Keanehan semakin terasa ketika Hadir mengatakan bahwa buah itu memanggilnya. Ia tidak sekadar melihat lalu memakannya; ia merasa ada sesuatu yang mendorongnya. Dalam banyak tradisi spiritual, pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang memilih siapa yang mencarinya. Terkadang kebenaran menemukan orang yang siap menerimanya.
Suasana persidangan Hadir juga sangat berbeda dari persidangan biasa. Suasana ini mengingatkan pada novel The Trial karya Franz Kafka, dengan tuduhan yang rumit, ketiadaan saksi, dan logika hukum yang absurd. Dalam banyak karya Kafka, tokohnya menghadapi sistem hukum yang tidak benar-benar ia pahami. Nuansa serupa muncul ketika Hadir menjawab setiap pertanyaan dengan logika yang tidak disetujui oleh hakim dan jaksa. Percakapan di pengadilan pun mengingatkan pada metode filsafat Socrates, yang sering membongkar keyakinan orang melalui pertanyaan sederhana yang menyentuh inti pemikiran. Hadir melakukan hal yang sama. Ketika jaksa mengatakan bahwa buah itu milik Raja, ia bertanya, “Sejak kapan manusia benar-benar memiliki pohon yang tumbuh dari tanah, mendapatkan air dari hujan, dan cahaya dari matahari?”
Nama negara tempat peristiwa ini terjadi, Terrajannah, juga menarik. Nama ini terdengar seperti gabungan kata Latin “terra” yang berarti bumi dan kata Arab “jannah” yang berarti surga. Kerajaan ini dapat dipahami sebagai metafora surga dunia yang menyimpan rahasia besar. Nama Sri Baduga, ayah Raja Maha, mengingatkan pada Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, tokoh sejarah Sunda yang sering dianggap sebagai simbol kejayaan Kerajaan Pajajaran. Ini menunjukkan bahwa dunia fiksi dalam buku ini terhubung dengan ingatan kolektif masa lalu.
Taman Rahasia tempat buah terlarang tumbuh jelas terinspirasi dari Taman Eden. Namun berbeda dari kisah kitab suci, taman ini tidak dijaga oleh Tuhan, melainkan oleh manusia. Larangan memakan buah bukan karena perintah ilahi, melainkan karena struktur kekuasaan yang menjaga rahasia tertentu. Buah itu berada dalam kondisi yang aneh: tidak pernah membusuk dan selalu siap dimakan. Dalam konteks ini, buah tampaknya melambangkan pengetahuan yang selalu ada tetapi tidak pernah benar-benar dimanfaatkan oleh penguasa.
Perjalanan panjang Hadir dari timur ke barat juga merupakan simbol kuat. Timur sering dianggap sebagai tempat lahirnya matahari, simbol awal kehidupan dan kesadaran. Barat, tempat matahari terbenam, melambangkan akhir perjalanan atau pencapaian kebijaksanaan. Banyak mitos dan karya sastra menggunakan perjalanan dari timur ke barat sebagai metafora pencarian pengetahuan. Dalam perjalanannya, Hadir awalnya memakan bunga sebelum kemudian beralih ke buah. Bunga melambangkan keindahan dan gaya, sedangkan buah melambangkan hasil dan pengalaman. Ia bahkan beberapa kali mabuk karena bunga yang dimakannya, yang dapat dibaca sebagai sindiran halus terhadap romantisisme yang terlalu terpesona oleh keindahan tanpa pemahaman mendalam.
Kemudian Hadir mulai memakan buah dan memberi nama pada masing-masingnya. Memberi nama adalah bagian penting dalam kisah Adam dalam Kitab Kejadian, di mana Adam menjadi manusia pertama yang menamai makhluk hidup. Dalam wawancara, Hadir menyebut beberapa buah imajiner seperti Buah Fajar, Buah Sunyi, dan Buah Cahaya Tersembunyi. Nama-nama ini menyerupai simbol spiritual. Misalnya, Buah Sunyi dikatakan membantu seseorang memahami pesan alam, yang mengingatkan pada ajaran Taoisme dan tasawuf yang menekankan pentingnya keheningan.
Raja Maha adalah tokoh yang berada dalam posisi sulit. Ia mengetahui rahasia besar tentang buah, tetapi tidak benar-benar memahaminya. Ia hanya memiliki kitab warisan dari ayahnya, yang memberinya pengetahuan turun-temurun, bukan pengalaman langsung. Sementara itu, muncul kelompok misterius bernama Sekte Aliran Iman yang berkumpul di bangunan berbentuk piramida. Bentuk piramida sering dikaitkan dengan pengetahuan kuno dan kelompok rahasia seperti Freemasonry dan Rosicrucianisme, menambah nuansa misterius dalam cerita.
Buku ini juga menyebut negeri kuno bernama Terratlantis, yang mengingatkan pada mitos Atlantis. Hal ini memberi kesan bahwa cerita ini tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi juga tentang peradaban yang telah hilang. Nuansa modern muncul melalui penggunaan media sosial. Persidangan tidak berakhir, melainkan menjadi viral. Percakapan Hadir tersebar luas dan menjadikannya simbol perlawanan, bukan tersangka. Dalam era informasi, muncul pertanyaan penting: siapa yang menentukan kebenaran? Apakah hukum, kekuasaan, atau viralitas?
Salah satu pernyataan paling mengejutkan dari Hadir adalah bahwa penjara, tembok, bahkan negara hanyalah ilusi. Ini mengingatkan pada filsafat idealisme, yang menyatakan bahwa realitas sangat dipengaruhi oleh persepsi. Ia juga memiliki pandangan unik tentang waktu. Bagi Hadir, waktu tidak berjalan lurus, melainkan berputar dalam siklus tanpa akhir, mirip dengan konsep pengulangan abadi dari Friedrich Nietzsche.
Pada akhirnya, buah terlarang dalam buku ini bukan sekadar objek, melainkan cermin yang memantulkan sikap manusia terhadap pengetahuan. Hadir seolah menyatakan bahwa manusia tidak berani memakannya karena takut pada apa yang akan mereka ketahui. Dengan demikian, Pemakan Buah bukan sekadar cerita tentang seorang pria yang memakan buah di halaman kerajaan, tetapi metafora besar tentang hubungan antara pengetahuan, kekuasaan, dan keberanian manusia untuk melampaui batas sistem.
Kolofon menyebutkan bahwa buku ini berjudul Pemakan Buah dan pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 2026 oleh Penerbit Buku Kompas. Buku ini terdiri dari sekitar 232 halaman dengan ukuran 14 x 21 cm, dan dicetak oleh PT Gramedia Jakarta. Pada halaman terakhir, pembaca tidak hanya menemukan kisah tentang seorang pengelana yang memakan buah. Pertanyaan yang tersisa justru lebih menggelisahkan: berapa banyak “buah terlarang” yang ada di dunia ini, dan berapa banyak dari kita yang cukup berani untuk memakannya?
IRZI






