POTPOURRISpiritus

Setetes Embun: DR. Takashi Nagai-Nagasaki

Sebagai murid-murid Yesus kita adalah domba yang akan selalu merasa aman dalam tuntunan dan lindungan-Nya. Tak perlu mencari keamanan dan kenyamanan di tempat lain karena Yesus adalah jaminan kita.

Penulis: P. Kimy Ndelo, CSsR

JERNIH-Kemarin sore saya dan teman-teman Redemptoris di Komunitas Nagasaki, Jepang, mengunjungi Museum Bom Atom Nagasaki. Di balik cerita tentang kehancuran dan penderitaan yang tak terlukiskan akibat ledakan bom atom pada tanggal 9 Agustus 1945, ada sebuah nama yang tak akan pernah terlupakan: Dr. Takashi Nagai, yang dibaptis dengan nama Paulus.

Dia termasuk korban bom atom. Istri dan anaknya juga meninggal karena ledakan bom atom. Fotonya yang paling ikonik adalah ketika dia memegang rosario yang dia temukan dalam debu rumahnya yang hancur tak tersisa.

Dalam luka dan kepedihan hatinya, sebagai seorang dokter dia tetap menaruh perhatian dan menolong para korban. Dia mengabaikan penderitaannya sendiri demi menolong orang lain. Walau dia sendiri menderita penyakit leukimia, dia tetap bersemangat membuat penelitian medis tentang korban bom atom untuk membantu para korban. Sebagai Asisten Profesor kemudian menjadi Profesor di Medical College Nagasaki, hasil penelitian dan pengajarannya sangat menolong begitu banyak orang yang menderita akibat bom atom. Dia kemudian meninggal enam tahun setelah ledakan bom atom Nagasaki.

Kesaksian iman Takashi Nagai merupakan contoh nyata betapa dia sangat menghidupi pesan Kristus agar menjadi gembala bagi domba-domba-Nya. Bahwa dia setia menolong mereka yang terluka untuk disembuhkan, mereka yang kehausan mendapatkan air jernih. Bahwa mereka yang ditolongnya, walaupun bukan miliknya tetapi dia setia kepada mereka karena panggilan hidupnya sebagai seorang dokter. Dia adalah gembala yang sesungguhnya.

**

Orang Yahudi mempunyai legenda yang menarik untuk menjelaskan mengapa Musa yang dipilih Allah untuk menjadi pemimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

Pada suatu hari Musa sedang menggembalakan domba Yitro, mertuanya. Saat itu seekor domba menghilang. Musa mencari domba itu kemana-mana sampai akhirnya menemukan domba itu sedang minum di sebuah telaga. Ketika Musa menemukan domba itu dia berkata: “Saya tidak tahu bahwa engkau ternyata berlari menghilang karena haus. Sekarang engkau pasti kelelahan.” Dia lalu memanggul domba itu di punggungnya dan membawa pulang kepada kawanannya.

Saat itulah Yahweh menampakkan diri kepadanya dan berkata: “Karena engkau menaruh belaskasihan kepada seekor domba yang bukan milikmu, engkau pasti bisa memimpin umat-Ku, Israel”.

Satu hal yang sering luput dari perhatian tentang gembala adalah bahwa domba-domba yang dijaga, dipelihara dan dituntunnya, tak selamanya adalah miliknya. Bisa jadi itu milik keluarganya, atau bahkan milik orang lain sama sekali.

Istilah “gembala” identik dengan kasih yang total, ketulusan, komitmen dan pengorbanan. Seorang gembala akan mencurahkan seluruh hidupnya untuk domba-domba gembalaannya.

Dalam perumpamaan Injil hari ini (Yoh 10,1-14) Yesus membandingkan diri-Nya dengan Gembala dan Pintu. Sebagai Gembala, Dia dikenal dan mengenal domba-dombanya. Dia diikuti oleh domba-dombanya. Dia memimpin domba-domba ke padang rumput yang hijau dan ke air yang tenang. Sebagai Gembala, Dia juga adalah “pemelihara jiwa” (1 Pet 2,25).

Sebagai Pintu, Dia adalah mediator yang melaluinya gembala dan domba keluar masuk. Ada fungsi kepengantaraan dan perlindungan disini. Yesus memberikan jaminan bahwa siapa pun yang memasuki kandang melalui Dia akan aman dan dirawat dengan baik. Hidupnya terjamin sepenuhnya.

Sebagai murid-murid Yesus kita adalah domba yang akan selalu merasa aman dalam tuntunan dan lindungan-Nya. Tak perlu mencari keamanan dan kenyamanan di tempat lain karena Yesus adalah jaminan kita.

Sebagai murid-murid Yesus kita juga bisa menjadi gembala bagi mereka yang dipercayakan kepada kita dengan meniru teladan-Nya. Tak perlu harus memiliki domba untuk menjadi gembala yang baik.

Takashi Nagai adalah contoh yang hidup bagi kita.

(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara/Pastoran Redemptoris Nagasaki-Jepang)

Back to top button