Merasa Dikhianati Trump! Israel Tak Diajak dalam Perjanjian Damai AS-Iran

JERNIH — Retaknya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel bukan lagi sekadar rumor. Tel Aviv dilaporkan benar-benar disingkirkan dan dibikin “buta” oleh pemerintahan Donald Trump dalam kesepakatan damai raksasa antara Washington dan Teheran. Pihak Israel bahkan mengaku sama sekali tidak diperlihatkan draf dokumen perjanjian tersebut.
Skandal pembungkaman sekutu ini dibongkar oleh seorang pejabat tinggi pemerintah Israel kepada NBC News, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. Fakta ini sekaligus menelanjangi kebohongan publik yang sempat dilontarkan oleh Donald Trump sebelumnya.
“Tak lama setelah Presiden Trump mengklaim bahwa dirinya telah memberikan salinan dokumen perjanjian tersebut kepada Israel, sumber internal pemerintahan justru mengonfirmasi bahwa Israel belum melihat sama sekali rancangan itu,” tulis NBC News dalam laporannya yang dikutip Kamis (18/6/2026).
Ketegangan di balik layar antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dilaporkan telah mencapai titik didih. Trump dikabarkan mengamuk besar karena operasi militer Israel ke Lebanon dinilai sengaja digulirkan Netanyahu untuk menyabotase nota kesepahaman damai yang sedang ia susun bersama Iran.
Dalam pertemuan KTT G7 di Prancis pada Selasa (16/6/2026), Trump bahkan dilaporkan menggunakan kata-kata makian kasar dan terang-terangan menyebut Netanyahu “gila” di depan para pemimpin dunia.
“Tanpa saya, Israel itu tidak akan ada!” semprot Trump dengan nada tinggi, mengingatkan Tel Aviv akan besarnya ketergantungan militer mereka pada perlindungan Washington.
Nasib Politik Netanyahu Berada di Ujung Tanduk
Kabar disingkirkannya Israel dari meja perundingan global ini menjadi pukulan telak yang menghantam nasib politik Benjamin Netanyahu. Pasalnya, sang perdana menteri harus menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) krusial penentu karier politiknya sebelum akhir Oktober mendatang.
Di dalam negeri, posisi Netanyahu semakin terjepit. Berdasarkan jajak pendapat Institut Demokrasi Israel dua pekan lalu, sebanyak 57,5% warga Israel menyatakan tidak percaya pada perjanjian AS-Iran tersebut karena dinilai justru membahayakan keamanan nasional Tel Aviv. Para oposisi langsung memanfaatkan momentum ini untuk menyudutkan Netanyahu habis-habisan karena dinilai lembek dan gagal melumpuhkan Iran.
Mantan Perdana Menter Israel, Ehud Barak, secara terbuka menyindir keangkuhan diplomasi Netanyahu yang berujung pada pengkhianatan oleh Trump.
“Israel sekarang harus menanggung akibat dari keangkuhan dan kebutaan Netanyahu, serta akibat dari upayanya yang coba-coba memanipulasi Trump. Iran sekarang malah makin kuat, sedangkan Israel makin lemah. Ini adalah kesalahan besar Netanyahu. Dia sudah gagal total,” cetus Ehud Barak dalam wawancara Senin lalu.
Nada kecaman yang tidak kalah mematikan juga ditembakkan oleh Yair Lapid, rival kuat yang digadang-gadang akan menumbangkan posisi Netanyahu dalam pemilu tahun ini.
“Rancangan kesepakatan damai (AS-Iran) itu adalah salah satu kegagalan paling memalukan dalam sejarah politik luar negeri dan keamanan Israel, dan itu sepenuhnya terjadi karena kesalahan fatal Netanyahu,” tambah Lapid.






