Oikos

Perang Iran Picu Inflasi AS Tembus 4,2%, Trump Bikin Heboh: “Saya Suka Inflasi!”

JERNIH – Amerika Serikat resmi mencatatkan lonjakan inflasi ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir setelah menembus angka 4,2% secara tahunan (yoy) pada Mei 2026. Menariknya, Presiden AS Donald Trump justru memicu kontroversi hebat di tengah tekanan ekonomi warganya dengan menyatakan “gembira” atas laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) tersebut.

Pemicu utama meroketnya Indeks Harga Konsumen (CPI) ini adalah lonjakan gila-gilaan pada sektor energi, menyusul pecahnya perang terbuka antara aliansi AS-Israel melawan Iran yang telah berkecamuk selama lebih dari tiga bulan terakhir.

“Saya menyukainya. Angkanya sangat bagus. Tahu apa yang benar-benar saya suka? Saya suka inflasi,” cetus Trump secara blak-blakan kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis (11/06/2026).

Pernyataan “nyeleneh” ini langsung menjadi peluru panas bagi kubu oposisi. Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, langsung menyerang Trump lewat platform X: “Penghinaannya terhadap rakyat tidak mengenal batas.”

Sadar pernyataannya memicu kegaduhan politik menjelang Pemilu Sela pada November mendatang, Trump segera melakukan manuver klarifikasi dalam wawancara khusus dengan New York Post. Trump mengklaim ucapannya dipotong di luar konteks. Maksud aslinya adalah ia “senang” karena angka inflasi 4,2% itu terhitung jauh lebih rendah dari prediksi awal para ekonom, mengingat AS sedang terlibat perang besar di Timur Tengah.

Trump membeberkan bahwa militer AS baru saja menggelar operasi malam hari untuk menyita “jutaan barel” minyak mentah dari wilayah Iran guna menstabilkan pasokan global. Ia juga optimistis harga energi akan terjun bebas ke level sebelum perang (di kisaran USD 1,85 per galon seperti saat ia mengunjungi Iowa awal tahun lalu) begitu konflik bersenjata dengan Tehran selesai.

Meski demikian, fakta di pasar bursa menunjukkan hal berbeda: harga minyak acuan global (Brent crude) masih nangkring di level tinggi akibat blokade Selat Hormuz oleh militer Iran yang memotong seperlima pasokan energi dunia.

Rapor Merah Domestik AS Akibat Dampak Perang

Kenaikan CPI pada Mei 2026 menandai inflasi AS yang melonjak selama tiga bulan berturut-turut. Rumah tangga di AS mulai tercekik oleh biaya hidup yang meroket, meskipun posisinya masih jauh di bawah puncak inflasi era Joe Biden pada 2022 lalu (9,1%).

Berikut adalah rincian sektor pengeluaran warga AS yang mengalami pembengkakan harga per Mei 2026:

Sektor PengeluaranKondisi / Realita di Lapangan (Per Juni 2026)
Bahan Bakar (Bensin)Rata-rata melejit ke USD 4,15 per galon, melonjak tajam dari USD 2,98 per galon pada 28 Februari lalu saat serangan perdana ke Iran dimulai.
Tagihan Energi Rumah TanggaTarif listrik dan gas melonjak hampir 25% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sektor Jasa & TransportasiBLS mencatat kenaikan signifikan pada biaya tiket pesawat, layanan kesehatan, rekreasi, serta biaya komunikasi.

Dilema inflasi ini menjadi ujian yang sangat berat bagi Gubernur baru bank sentral AS (The Fed), Kevin Warsh, menjelang rapat penentuan suku bunga perdananya pekan depan. Sesuai mandat baku ekonomi, demi menekan peredaran uang dan meredam belanja masyarakat agar inflasi kembali ke target ideal 2%, The Fed biasanya harus mengambil langkah agresif yakni menaikkan suku bunga acuan.

Padahal, sebelum Warsh menjabat, Trump berkali-kali menekan The Fed untuk segera memangkas suku bunga demi menggairahkan ekonomi domestik. Pengamat ekonomi memperkirakan suku bunga AS bulan depan akan tertahan di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Namun, jika data inflasi terus bandel di atas 4%, Kevin Warsh dipastikan tidak punya pilihan selain menaikkan suku bunga—sebuah keputusan yang sangat tidak disukai oleh Trump.

Di sisi lain, para pakar ekonomi memperingatkan bahwa pemulihan jalur distribusi logistik global via Selat Hormuz baru bisa normal paling cepat pada tahun 2027, dengan catatan perang di Timur Tengah bisa diredam dalam waktu dekat.

Back to top button