Crispy

Pasukan Elite Israel Masuk Jebakan Batman di Lebanon Selatan, 4 Prajurit Luka Kritis Dihantam RPG

JERNIH — Eskalasi bersenjata di perbatasan utara kembali memakan korban. Sebuah unit infanteri militer Israel dilaporkan masuk ke dalam jebakan penyergapan (ambush) mematikan yang dilancarkan oleh para pejuang perlawanan (Al-Muqawamah) di kota Beit Yahoun, Lebanon Selatan, Kamis waktu setempat.

Media internal Israel mengonfirmasi bahwa insiden baku tembak sengit tersebut menyebabkan empat prajurit Israel terluka, di mana beberapa di antaranya kini berada dalam kondisi kritis.

Para korban terkonfirmasi merupakan personel dari Brigade ke-769. Militer Israel bahkan harus mengerahkan helikopter evakuasi darurat di tengah hujan peluru untuk melarikan para korban menuju Rumah Sakit Rambam di Haifa.

Penyergapan taktis ini berjalan sangat cepat. Berdasarkan laporan di lapangan, para pejuang perlawanan mengunci pergerakan unit infanteri Israel yang mencoba merangsek masuk ke Beit Yahoun, lalu menghujani mereka dari jarak dekat menggunakan kombinasi roket RPG (Rocket-Propelled Grenade) dan rentetan senapan mesin otomatis.

Tak lama sebelum insiden penyergapan berdarah di Beit Yahoun ini bocor ke media, komando militer Israel sebenarnya telah mengonfirmasi kematian satu tentaranya di Lebanon Selatan. Namun, pihak militer memilih pelit bicara dan hanya menyebut kematian itu terjadi akibat “aktivitas operasional” tanpa merinci kronologi kejadian.

Merespons hancurnya unit infanteri mereka, militer Israel langsung melancarkan aksi balas dendam buta. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan, artileri berat Israel membombardir pinggiran kota Baraachit dan Beit Yahoun dengan sedikitnya 10 proyektil meriam, dibarengi dengan aksi sapuan tembakan senapan mesin ke arah pemukiman.

Pihak Perlawanan Islam (Islamic Resistance) langsung mengeluarkan pernyataan keras bahwa operasi militer yang terus digeber Israel di Lebanon Selatan merupakan “pelanggaran terang-terangan” terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru berumur jagung. Mereka menegaskan saat ini tengah memantau dan mencatat setiap jengkal pelanggaran yang dilakukan Tel Aviv.

Sebagaimana diketahui, rezim Israel sebelumnya terpaksa meredam agresinya di Lebanon Selatan setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman darurat demi memulai negosiasi damai di Swiss. Namun, meski Hizbullah diklaim mematuhi aturan gencatan senjata tersebut, pasukan pendudukan Israel justru terus melakukan provokasi dengan menyerang dan menewaskan banyak warga sipil Lebanon sepanjang pekan ini.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menunjukkan sikap keras kepala. Pada Kamis kemarin, ia mendeklarasikan bahwa Israel akan terus menduduki wilayah Lebanon selama hal itu dirasa perlu, sembari mengakui bahwa negaranya kini memang tengah terlibat dalam “perang regional” yang sangat luas.

“Saya telah menginstruksikan militer untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan demi menjamin keamanan warga di wilayah utara. Operasi militer dan prosedur taktis kami akan terus berjalan mengikuti dinamika di lapangan,” cetus Netanyahu kepada pers.

Dengan nada jemawa, Netanyahu juga mengeklaim bahwa poros Iran, Hizbullah, dan Hamas kini sudah kehabisan bensin dan tidak bisa berbuat banyak lagi untuk membalas Israel.

“Kami telah mengubah total aturan main di kawasan ini. Kami telah meruntuhkan tembok ketakutan mereka, dan kami telah membuktikan betapa mematikannya cengkeraman tangan besi kami,” sesumbar Netanyahu, mengabaikan fakta bahwa pasukannya baru saja menjadi bulan-bulanan di dalam hutan Lebanon Selatan.

Back to top button