AS Tutupi Kehancuran Pangkalan di Tangan Iran, Israel Turun Tangan Kirim Iron Dome Selamatkan UEA

JERNIH – Presiden Donald Trump mungkin telah mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah hancur lebur dalam serangan “Operation Epic Fury”. Namun, di balik narasi kemenangan tersebut, sebuah kenyataan pahit mulai terkuak. Arsitektur pertahanan Amerika Serikat di Asia Barat kini berada dalam kondisi paling rapuh sejak berakhirnya Perang Dingin.
Laporan terbaru dari NBC News dan analisis intelijen sumber terbuka mengungkap bahwa kerusakan fasilitas militer Amerika di Teluk jauh lebih parah daripada yang diakui Pentagon. Bahkan, saking masifnya serangan drone dan rudal Iran, Israel dilaporkan secara rahasia mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk mencegah keruntuhan total pertahanan sekutunya.
Salah satu insiden paling memalukan bagi militer Amerika terjadi di Camp Buehring, Kuwait. Dalam sebuah peristiwa yang kini disebut oleh para pakar militer sebagai “momen Top Gun”, sebuah jet tempur tua jenis F-5 milik Iran berhasil menyelinap melalui celah perisai udara canggih AS.
Pesawat tersebut berhasil meluncurkan serangan langsung ke pangkalan tersebut, menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade sebuah pesawat tempur lawan berhasil menghantam basis militer AS. Ironisnya, jet F-5 merupakan pesawat era 1970-an yang dalam film Hollywood Top Gun digunakan sebagai pesawat agresor simulasi. Di dunia nyata, pesawat “antik” ini justru mempermalukan teknologi abad ke-21 milik Pentagon.
Analisis dari American Enterprise Institute (AEI) menunjukkan bahwa Iran tidak sekadar membalas secara sporadis. Mereka melakukan serangan presisi ke titik-titik saraf kekuatan AS. Sebanyak 100 target di 11 pangkalan militer yang tersebar di tujuh negara (Qatar, UEA, Bahrain, Yordania, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi) berhasil dihantam.
Kerusakan yang tercatat meliputi:
- Bahrain: Markas besar Armada Kelima AS (5th Fleet) mengalami kerusakan struktural serius. Pakar politik Marc Lynch menyebut pangkalan ini sekarang “terlalu rentan” untuk digunakan kembali sebagai pusat komando permanen.
- Qatar: Landasan pacu di Al-Udeid, pangkalan udara terbesar AS di kawasan, hancur terkena rudal.
- Kuwait: Gudang senjata dan hanggar pesawat di pangkalan Ali Al Salem hancur total.
- Irak: Fasilitas penyimpanan senjata di Erbil menderita kerusakan hebat.
Mackenzie Eaglen dari AEI memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai lebih dari US$5 miliar. Angka ini belum termasuk penggantian sistem radar, pesawat tempur yang hancur di hanggar, dan peralatan satelit yang bernilai jauh lebih mahal. “Iran secara efektif membuat infrastruktur keunggulan Amerika menjadi tidak berguna hanya dalam waktu satu bulan,” tambah Lynch.
Di tengah hujan api dari Iran, sebuah kolaborasi bersejarah terjadi di balik layar. Berdasarkan laporan Axios, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara rahasia menyetujui pengiriman satu baterai Iron Dome beserta puluhan tentara IDF ke Uni Emirat Arab.
Langkah ini diambil setelah UEA dihujani sekitar 2.250 drone dan 560 rudal balistik serta jelajah. Meskipun UEA memiliki sistem THAAD dan Patriot dari AS, densitas serangan Iran menciptakan kejenuhan pada sistem pertahanan yang ada. Iron Dome dikerahkan sebagai lapisan tambahan untuk mencegat drone-drone rendah yang sering lolos dari radar besar.
Ini adalah pertama kalinya Israel mengirimkan sistem Iron Dome operasional ke luar negeri untuk digunakan dalam pertempuran nyata. Keberhasilan sistem ini mencegat lusinan proyektil Iran di langit Emirat mempertegas kekuatan aliansi Abraham Accords yang dibentuk pada tahun 2020.
Taktik “Blackout” dan Ketidakmampuan Intelijen
Mengapa kerusakan ini tidak diketahui publik lebih awal? Investigasi menunjukkan adanya upaya sistematis dari pemerintah AS untuk menutupi skala kerugian. Pentagon dilaporkan meminta penyedia citra satelit komersial untuk membatasi atau menghapus foto-foto terbaru dari pangkalan militer yang terkena dampak di Timur Tengah.
Namun, analis seperti Aadil Brar berhasil melacak data meski ada pembatasan tersebut. Air Marshal (Purn) Anil Chopra dari Angkatan Udara India berpendapat bahwa AS meremehkan kemampuan Iran dalam melakukan serangan swarm (kawanan) drone. “Banyak platform udara besar milik AS tergeletak di tempat terbuka tanpa perlindungan memadai, menjadikannya target empuk bagi drone Iran,” jelasnya.
Di dalam negeri, kemarahan mulai memuncak. Beberapa anggota legislatif dari Partai Republik menyuarakan ketidaksenangan mereka secara tertutup kepada pejabat senior Pentagon. Mereka merasa dibohongi mengenai efektivitas pertahanan udara AS.
“Tidak ada yang tahu apa pun. Kami telah bertanya selama berminggu-minggu dan tidak mendapatkan rincian spesifik, padahal Pentagon meminta anggaran rekor tertinggi,” ujar salah satu anggota Kongres.
Perang 40 hari ini telah mengubah persepsi dunia terhadap kekuatan militer AS di Teluk. Strategi Iran yang menggunakan kombinasi senjata murah (drone) untuk menghancurkan aset mahal (radar dan pesawat) telah mengekspos celah besar dalam doktrin keamanan Amerika.
Kini, pertanyaannya bukan lagi kapan AS akan membangun kembali pangkalan-pangkalan tersebut, tetapi apakah pangkalan itu masih layak dipertahankan jika berada dalam jangkauan tembak presisi Iran. Dengan rusaknya infrastruktur Armada Kelima di Bahrain dan keraguan atas keamanan di Qatar, peta kekuatan militer di Asia Barat telah bergeser secara permanen.






