Crispy

Popularitas Netanyahu Runtuh di Wilayah Utara Israel dan Merosot Tajam di 36 Negara

  • Popularitas Benjamin Netanyahu di dua medan sekaligus, di dalam negeri (domestik Israel, khususnya wilayah utara) dan di panggung internasional secara global.
  • Netanyahu “diserang” oleh konstituen sayap kanannya sendiri di Israel Utara karena dianggap kurang tegas, sementara di luar negeri justru dikutuk karena dianggap terlalu agresif.

JERNIH — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kini menghadapi tekanan ganda yang luar biasa berat. Dua hasil survei terbaru membongkar fakta bahwa dukungan politik terhadap Netanyahu runtuh secara dramatis di wilayah permukiman utara Israel akibat kegagalan penanganan perang di Lebanon. Di saat bersamaan, sentimen global di 36 negara juga kompak bergeser menjauhi Israel dan kepemimpinannya.

Di ranah domestik, hasil survei bulan Mei yang dirilis oleh Agam Labs dari Hebrew University (dibagikan eksklusif kepada Reuters) menunjukkan bahwa para pemilih di wilayah utara pendudukan berbalik arah meninggalkan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu.

Kawasan utara, yang sebelumnya dikenal sebagai basis lumbung suara kuat bagi Partai Likud, kini mengalami pembalikan peta politik yang sangat dramatis akibat perang dengan Lebanon dan operasi pertahanan dari Hizbullah. Hanya 23 persen pemukim di wilayah utara yang menyatakan akan kembali memilih Partai Likud pada pemilu mendatang. Angka ini merosot tajam dibandingkan dengan 35 persen dukungan pada pemilu tahun 2022.

Sementara sebanyak 70 persen responden di wilayah utara menyatakan sangat tidak puas (disapprove) terhadap cara pemerintah Netanyahu mengelola konfrontasi militer dengan Lebanon. Penurunan ini tidak hanya memukul Likud, tetapi juga menyeret jatuh elektabilitas blok sayap kanan secara keseluruhan. Sebaliknya, partai-partai oposisi dilaporkan mendapatkan lonjakan simpati yang signifikan menjelang pemilu yang diprediksi digelar Oktober mendatang.

“Kami melihat pergeseran yang sangat dramatis. Perubahan pola memilih di wilayah utara ini hampir memutarbalikkan total perilaku elektoral mereka di masa lalu,” ungkap Nimrod Nir, peneliti dari Agam Labs.

Frustrasi warga utara, seperti di wilayah Kiryat Shmona, tetap meninggi meski Washington sempat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata awal pekan ini. Mereka menilai kesepakatan tersebut sangat rapuh. Beberapa pemukim bahkan merasa Netanyahu terlalu tunduk pada tekanan eksternal Amerika Serikat yang dinilai melemahkan posisi militer Israel.

“Saya tidak malu untuk mengakui bahwa saya memilih pemerintah ini pada pemilu lalu, tetapi kenyataannya sekarang, yang mengelolanya justru Presiden Trump,” ketus salah satu pemukim kepada Reuters.

Dari 36 Negara, Tidak Ada Satu Pun yang Menilai Positif

Sentimen negatif di dalam negeri sejalan dengan hasil riset berskala masif yang dirilis oleh Pew Research Center. Melibatkan 44.657 responden di 36 negara, studi ini menegaskan bahwa posisi internasional Israel berada di titik nadir:

Secara global, menunjukkan 67 persen masyarakat dunia memandang negatif Israel, dan hanya 25 persen yang memandang positif. Dari total 36 negara yang disurvei, tidak ada satu pun negara yang mencatatkan mayoritas suara positif untuk Israel.

Kemerosotan citra ini justru paling kentara terjadi di negara-negara yang selama ini menjadi mitra tradisional atau sekutu dekat Israel. Pew mencatat kenaikan sentimen negatif yang signifikan dalam satu tahun terakhir di beberapa negara:

Di Korea Selatan mencatat lonjakan sentimen negatif tertinggi di atas 10 persen, diikuti Nigeria sebesar di atas 9 persen. Jerman Barat dan Argentina naik di atas 9 persen. Inggris naik  di atas 8 persen, sementara Polandia, Australia, dan Kanada merangkak naik antara 5 hingga 8 persen. Bahkan di Hungaria—yang dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat Netanyahu di Eropa—54 persen warganya kini memandang Israel secara negatif.

Di Eropa Barat penolakan keras didominasi oleh masyarakat Italia, Spanyol, dan Prancis. Italia bahkan mencatatkan angka ketidakpercayaan tertinggi terhadap figur kepemimpinan Netanyahu, yakni mencapai 88 persen.

ama seperti tren sebelumnya, riset ini mempertegas adanya jurang pemisah yang lebar antar-generasi di dunia Barat. Di Amerika Serikat misalnya, 74 persen anak muda usia 18–34 tahun memandang negatif Israel, berbanding 49 persen di kalangan usia di atas 50 tahun. Dari segi ideologi politik AS, 83 persen kelompok liberal (kiri) memandang negatif, berbanding 37 persen di kelompok konservatif (kanan).

Menariknya, Pew juga memotret adanya pembelahan sikap yang sangat jelas di internal komunitas Yahudi Amerika (American Jews). Sebanyak 64 persen warga Yahudi Amerika masih memegang pandangan positif terhadap Israel secara umum. Namun, 56 persen dari mereka secara tegas menyatakan memiliki sedikit atau bahkan tidak ada kepercayaan sama sekali terhadap kemampuan Benjamin Netanyahu dalam memimpin urusan global.

Back to top button