CrispyVeritas

Prihatin Situasi HAM, Filsuf Jerman Jurgen Habermas Tolak Penghargaan Buku UEA

Sosiolog dan filsuf terkemuka Jerman, Habermas, tak terkalahkan hanya oleh uang satu juta dirham atau sekitar Rp 4 miliar itu

JERNIH–Sosiolog dan filsuf terkemuka Jerman, Jürgen Habermas, menolak penghargaan buku dari Uni Emirat Arab (UEA). Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan hari Minggu (2/5) lalu, dia mengutarakan kekhawatirannya tenang situasi hak asasi manusia (HAM) di negara Teluk itu.

“Saya sebelumnya telah menyatakan kesediaan saya untuk menerima Penghargaan Buku Sheikh Zayed tahun ini. Namun kemudian saya sadar, itu adalah keputusan yang salah, yang saya perbaiki dengan ini,” kata sosiolog berusia 91 tahun, yang dikenal sebagai salah satu pendiri “Mahzab Frankfurt” di Jerman.

Jurgen Habermas, saat ini 91 tahun

Habermas menerangkan, ketika dia mendapat kabar tentang penghargaan yang diberikan atas publikasinya, dia menganggap itu kabar baik karena buku-bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Karena itu dia sebenarnya siap berangkat ke Abu Dhabi untuk menerima penghargaan dan uang senilai 1 juta dirham (atau sekitar Rp 4 miliar) itu.

Dia mengaku tidak cukup membaca dan mencari informasi tentang institusi yang memberikan penghargaan itu di Abu Dhabi, yang sangat dekat dengan penguasa.

Penghargaan buku dengan hadiah uang tertinggi

Sheikh Zayed Book Award adalah penghargaan buku dengan nilai hadiah uang tertinggi di dunia. Komite buku berada di bawah naungan Putera Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed. Penghargaan itu mengusung nama ayahnya, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, kepala dinasti dan penguasa Abu Dhabi selama 30 tahun lebih, yang meninggal tahun 2004.

Penghargaan tersebut diberikan setiap tahun kepada individu dan penerbit “yang tulisan dan terjemahan bukunya dalam bidang humaniora memperkaya intelektual, budaya, sastra dan kehidupan sosial Arab,” kata panitia.

Penghargaan itu biasanya diserahkan secara resmi pada pembukaan Pameran Buku Internasional Abu Dhabi, yang tahun ini akan dibuka pada 23 Mei. Jürgen Habermas juga akan menyandang penghargaan sebagai “Personalitas Budaya Tahun Ini” di ajang pameran itu.

Keputusan Habermas membatalkan kepergian ke Abu Dhabi diambil setelah kritik muncul atas rencananya menerima penghargaan itu. Terutama setelah majalah berita Jerman Der Spiegel ikut mengkritik dan mempertanyakan idealisme Habermas yang selalu menekankan kebebasan berpendapat, yang bertolak belakang dengan sikapnya yang dianggap tidak kritis terhadap kondisi di Abu Dhabi.

Jürgen Habermas dikenal secara luas di kalangan internasional dan dianggap sebagai filsuf Jerman paling penting dan berpengaruh di era pasca Perang Dunia II. Mahzab Frankfurt melahirkan berbagai pendekatan teoritis dan filosofis atas berbagai masalah sosial. Banyak tulisan dan buku Habermas yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Jürgen Habermas memang selalu menekankan pentingnya kebebasan berpendapat sebagai salah satu elemen utama demokrasi yang bertujuan menyejahterakan warga. Melalui komunikasi yang disebutnya “diskurs”, elemen-elemen masyarakat harus “berdiskusi secara rasional”, bebas dari tekanan, untuk mencapai kesejahteraan dan kehidupan bersama yang rukun dan adil.

Namun Abu Dhabi sering dikritik berbagai organisasi hak asasi manusia karena situasi hak asasi yang buruk. Penguasa dengan ketat mengontrol media dan menghukum individu yang dianggap berseberangan atau mengkritik kebijakan penguasa terlalu keras. [DPA/AP]

Back to top button