PSG Kini Layak Dijuluki Penguasa Baru Eropa

Lahir di tahun 1970 dan sempat dicap sebagai tim tanpa sejarah yang rapuh mental, Paris Saint-Germain resmi meruntuhkan semua sinisme global. Dipimpin kepemimpinan Marquinhos, magis Vitinha, hingga ketajaman Ousmane Dembélé, Les Parisiens kini menjelma dari klub kaya raya.
WWW.JERNIH.CO – Paris Saint-Germain (PSG) sukses mempertahankan gelar Liga Champions mereka setelah menumbangkan Arsenal lewat drama adu penalti yang berakhir dengan skor 4-3, menyusul hasil imbang 1-1 selama 120 menit waktu normal dan perpanjangan waktu.
Keberhasilan ini membuat Les Parisiens menjadi tim kedua setelah Real Madrid di era modern yang berhasil melakukan back-to-back juara UCL, setelah musim sebelumnya (2024/2025) menghancurkan Inter Milan 5-0.

Sejak didirikan pada tahun 1970, ambisi PSG di kancah Eropa selalu dipandang sebelah mata. Di awal partisipasi mereka di Liga Champions era 90-an (debut musim 1994/1995), PSG kerap mentok di semifinal atau perempat final.
Bahkan setelah kedatangan investasi Qatar Sports Investments (QSI) pada 2011 yang menggelontorkan dana miliaran Euro untuk membeli megabintang seperti Zlatan Ibrahimović, Neymar, hingga Lionel Messi, trofi “Si Kuping Besar” seolah memiliki kutukan tersendiri.
Tragedi Remontada Barcelona (2017) dan kekalahan di final perdananya tahun 2020 dari Bayern Munchen sempat membuat PSG dicap sebagai tim yang rapuh secara mental di panggung Eropa. Namun, semua narasi itu resmi runtuh dalam dua musim terakhir. Koleksi gelar UCL mereka kini sudah menyentuh angka 2.
Di bawah asuhan taktik brilian Luis Enrique, PSG mengarungi format baru liga UCL dengan konsistensi yang luar biasa sejak fase liga hingga fase gugur. Total pertandingan sebanyak 15 laga (Fase Liga hingga Final). Sementara produktivitas gol mencapai 34 gol di seluruh kompetisi UCL musim ini. Sedangkan soliditas lini belakang menorehkan 6 clean sheets sebelum laga final.
Kemenangan dramatis ini tidak lepas dari performa beberapa pilar utama yang tampil dingin di bawah tekanan atmosfer Budapest. Salut untuk Vitinha (Gelandang) yang ditunjuk resmi sebagai Man of the Match final UCL 2026. Ia menjadi motor serangan, menetralisir lini tengah Arsenal, dan mendikte ritme permainan dengan akurasi operan mencapai 93%.
Tentu saja hormat pada Ousmane Dembélé (Penyerang). Peraih Ballon d’Or ini menunjukkan mentalitas kelas dunia. Ketika PSG tertinggal cepat oleh gol Kai Havertz pada menit ke-5, Dembélé terus berinisiatif menelusuk ke jantung pertahanan Arsenal. Tinggal menunggu waktu bicara. Dan dengan tenang mengeksekusi penalti pada menit ke-60 setelah Khvicha Kvaratskhelia dilanggar di kotak terlarang.
Kvaratskhelia adalah inspirator sejati PSG tahun ini. Dari sisi kiri PSG ia terus mendobrak. Menggojek bola yang merupakan keahlian pemain Georgia ini.

Lalu di kana nada Hakimi, pemain senior PSG yang kerap menelusuk sampai ke depan. Ia jagi assist yang mengalirkan bola cepat dan taktis ke pasukan depan.
Jadi tak heran jika serangan PSG bisa di sisi kiri maupun kanan. Sama imbang. Di belakang ada Marquinhos dan Lucas Beraldo. Menghadapi gempuran adu penalti, Beraldo mencetak gol penalti keempat PSG dengan dingin, sementara kepemimpinan kapten Marquinhos menjaga fokus mental tim tetap kokoh setelah eksekusi Nuno Mendes sempat digagalkan David Raya.
PSG menunjukkan performa bagusnya. Sebaliknya Arsenal bak kehilangan pola. Kekalahan menyakitkan di Budapest ini memperpanjang puasa gelar Liga Champions bagi Arsenal.
The Gunners belum pernah sekalipun memenangkan trofi UCL sepanjang sejarah klub berdiri. Ini merupakan final kedua mereka dalam 20 tahun terakhir (setelah kalah dari Barcelona pada final 2006).
Puskas Aréna malam itu berubah menjadi distrik Paris kedua. Diperkirakan lebih dari 30.000 fans PSG melakukan perjalanan invasi ke Budapest. Tribun utara stadion benar-benar dipenuhi oleh koreografi raksasa khas Collectif Ultras Paris (CUP) yang menyalakan flare merah dan biru saat peluit panjang berbunyi, menciptakan kepulan asap kemenangan di langit Hungaria.
“Ini adalah pembuktian! Dulu mereka bilang kami tidak punya sejarah. Sekarang, kami membuat sejarah baru yang bahkan tidak bisa disentuh oleh tim-tim Inggris yang sombong,” ujar Jean-Christophe (34), salah satu fans setia PSG. Kegembiraan para fans tidak hanya terjadi di Budapest; menara Eiffel di Paris langsung bermandikan cahaya lampu khusus sesaat setelah Gabriel gagal mengeksekusi penaltinya, menandakan bahwa Paris masih memegang takhta tertinggi sepak bola Eropa. Kemenangan dua kali berturut-turut bukan kebetulan.(*)
BACA JUGA: Final Liga Champions; PSG Juara Eropa, Taktik Enrique Bungkam “Bus” Arsenal di Budapest






