Crispy

Rudal Hipersonik ‘Dark Eagle’ AS Bakal Dikerahkan ke Timur Tengah untuk Incar Iran

JERNIH – Amerika Serikat tengah mempertimbangkan langkah militer paling berani di era pemerintahan Presiden Donald Trump dengan rencana pengerahan sistem rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah. Senjata super cepat ini disiapkan untuk melumpuhkan situs peluncuran rudal Iran yang berada jauh di pedalaman.

Laporan Bloomberg pada Kamis (30/4/2026) menyebutkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah secara resmi meminta pengerahan sistem rudal hipersonik milik Angkatan Darat tersebut.

Permintaan pengerahan rudal ini dipicu oleh intelijen yang menyebut Iran telah memindahkan platform peluncuran rudal balistik mereka ke lokasi yang lebih dalam. Lokasi-lokasi baru ini dilaporkan berada di luar jangkauan senjata presisi AS saat ini (seperti Precision Strike Missile atau PrSM) yang hanya mampu menghantam target dalam radius 300 mil (480 km).

Dengan jangkauan mencapai 1.725 mil (2.775 km), Dark Eagle mampu menghantam jantung wilayah Iran dari jarak yang sangat aman. Jika disetujui, ini akan menjadi penggunaan operasional pertama rudal hipersonik dalam sejarah militer Amerika Serikat.

Hal ini cukup mengejutkan karena Pentagon belum menyatakan sistem ini siap tempur 100% setelah serangkaian kegagalan uji coba sejak 2021. AS berusaha mengejar ketertinggalan dan sangat berambisi mensejajarkan diri dengan Rusia dan China yang sudah lebih dulu mengoperasikan rudal hipersonik mereka.

Dark Eagle memiliki kecepatan melebihi Mach 5 (lima kali kecepatan suara). Teknologinya menggunakan sistem boost-glide, di mana roket akan meluncurkan badan pemandu ke atmosfer, lalu meluncur turun dengan manuver yang sangat lincah untuk menghindari sistem pertahanan udara musuh. Salah satu keunggulannya adalah sulit dideteksi dan hampir mustahil dicegat oleh teknologi pertahanan udara konvensional saat ini.

Meski gencatan senjata telah disepakati sejak 9 April 2026, situasi tetap mencekam. Sejak 13 April, AS telah melakukan blokade laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz. Pengerahan Dark Eagle dipandang sebagai persiapan serangan tambahan jika Presiden Trump memutuskan untuk meningkatkan tekanan militer lebih lanjut. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan keputusan resmi terkait permintaan CENTCOM tersebut karena sifatnya yang masih rahasia.

Back to top button