
Meski berlangsung dalam suasana santai, forum ini memperlihatkan bahwa alumni Sabang 17 tetap memiliki kepedulian kuat terhadap arah perjalanan Indonesia. Dari ruang sederhana itu, gagasan-gagasan terus dipertukarkan—menegaskan bahwa diskusi tentang masa depan bangsa selalu menemukan jalannya.
JERNIH– Silaturahmi Pemikiran dan Halal Bihalal Alumni Sabang 17, terutama para aktivis era 1970-an, yang digelar di Jalan Sabang 17, Bandung, Rabu (22/4/2026), berkembang melampaui sekadar ajang temu kangen. Forum ini menjelma menjadi ruang pertukaran gagasan, membahas isu-isu strategis nasional, mulai dari ekonomi, energi, hingga arah kebijakan publik ke depan.
Acara dibuka sejak pukul 10.00 WIB dengan rangkaian sambutan, diawali oleh Ketua Panitia Ir Muhamad Najib, dilanjutkan Dr Berliana Kartakusumah sebagai ketua YAHMI, Dr Syaiful Rahman selaku ketua DKM, serta penyampaian kata kunci oleh Prof Laode M Kamaludin. Setelah itu, forum berlanjut ke sesi berbagi yang berlangsung hingga sore hari.
Dalam sesi berbagi, hadir sejumlah narasumber, di antaranya Prof Didin S Damanhuri, Dr Ahmad Doli Kurnia, dan Dr Surya Darma. Wakil Rektor Universitas Padjadjaran, Prof Widya Setyabudi yang sebelumnya dijadwalkan turut berbicara, berhalangan hadir karena kondisi kesehatan. Diskusi dipandu mantan Rektor UNPAD, Prof Ganjar Kurnia dan diikuti puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi hingga tokoh masyarakat.
Isu ekonomi nasional menjadi salah satu topik yang mengemuka. Prof Didin S Damanhuri menekankan pentingnya memperkuat fondasi ekonomi rakyat di tengah tekanan global yang semakin kompleks. Ia menilai pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari angka semata, tetapi harus memastikan distribusi kesejahteraan berjalan lebih merata.
Sementara itu, Dr Ahmad Doli Kurnia menyoroti dinamika politik dan kebijakan publik yang dinilainya harus semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya konsistensi kebijakan dan komunikasi politik yang sehat agar kepercayaan publik tidak tergerus.
Di sektor energi, Dr Surya Darma mengangkat potensi besar energi terbarukan Indonesia, khususnya panas bumi, yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Ia mendorong adanya langkah-langkah strategis yang lebih berani untuk mempercepat transisi energi nasional.
Selain itu, para pembicara juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia sebagai faktor penentu dalam menghadapi perubahan global. Tantangan ke depan, menurut mereka, tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat.
Diskusi berlangsung dinamis dan cair. Para peserta turut menyampaikan pandangan dan pengalaman, termasuk perlunya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Sejumlah tokoh yang hadir, seperti Prof Yuddy Chrisnandi, Dr Suherman Saleh, Dr Happy Bone Zulkarnain, dr Murnisari, Syamsu Yusuf, Komaruddin Rachmat, hingga K.H. Asmui Mansur, ikut memperkaya perspektif forum.
Meski berlangsung dalam suasana santai, forum ini memperlihatkan bahwa alumni Sabang 17 tetap memiliki kepedulian kuat terhadap arah perjalanan Indonesia. Dari ruang sederhana itu, gagasan-gagasan terus dipertukarkan—menegaskan bahwa diskusi tentang masa depan bangsa selalu menemukan jalannya.


