Tragis! Relawan Mesir Penggagas Nobar Piala Dunia Gaza Tewas Dihantam Rudal Israel

JERNIH — Sebuah ironi memilukan terjadi di Jalur Gaza. Di saat miliaran pasang mata di seluruh dunia bersiap menyaksikan laga dramatis babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Mesir dan Argentina, seorang aktivis kemanusiaan asal Mesir yang mendedikasikan hidupnya untuk menghibur warga Palestina lewat sepak bola justru tewas dalam serangan udara Israel pada Selasa (7/7/2026) malam.
Korban adalah Mohammed Fawaz Al-Wahidi, Manajer Hubungan Masyarakat untuk Komite Relief Mesir di Gaza. Al-Wahidi gugur setelah rudal Israel menghantam mobil sipil yang ia tumpangi di lingkungan Sabra, Kota Gaza.
Menurut laporan Palestinian Information Centre, serangan udara mematikan tersebut tidak hanya merenggut nyawa Al-Wahidi, melainkan juga menewaskan dua warga Palestina lainnya, termasuk seorang anak kecil, serta melukai beberapa orang di sekitar lokasi kejadian.
Ironisnya, beberapa saat sebelum mobilnya dihantam rudal di dekat gedung gubernuran Gaza di Sabra, Al-Wahidi baru saja menghadiri pertemuan rekonsiliasi komunitas bersama warga lokal.
Tragedi ini terjadi hanya hitungan jam sebelum Komite Relief Mesir dijadwalkan menggelar acara nonton bareng (nobar) akbar laga Mesir vs Argentina. Laga itu sendiri akhirnya dimenangkan oleh Argentina dengan skor 3-2 setelah tertinggal 0-2 terlebih dahulu—sebuah pertandingan emosional yang belakangan diwarnai keputusan wasit yang kontroversial.
Acara nobar yang diinisiasi oleh Al-Wahidi tersebut sebenarnya dirancang sebagai ruang pelarian singkat bagi warga Palestina dari trauma perang berkepanjangan dan krisis kemanusiaan hebat yang mencengkeram Jalur Gaza akibat blokade udara.
Selain menjabat sebagai Humas, Al-Wahidi juga memimpin Kantor Mukhtar dan Tetua Keluarga di Komite Relief Mesir—sebuah departemen krusial yang bertanggung jawab atas rekonsiliasi komunitas dan penyelesaian sengketa lokal di Gaza.
Komite Relief Mesir sendiri merupakan organisasi kemanusiaan besar yang didirikan langsung di bawah arahan Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, pasca-perang Gaza tahun 2021 untuk mendukung rekonstruksi, distribusi pangan, hingga evakuasi puing-puing bangunan. Pihak organisasi menyatakan bahwa pembunuhan sekutu kemanusiaan ini memicu kekhawatiran yang sangat serius di level internasional.
“Pihak pendudukan Israel tidak hanya membunuh warga Palestina, tetapi juga sengaja melenyapkan ruang apa pun untuk kehidupan normal atau kegembiraan kolektif. Mereka menargetkan individu dan inisiatif yang memberikan secercah hiburan bagi penduduk yang dikepung,” tegas pernyataan resmi organisasi tersebut.
Insiden berdarah ini kembali menelanjangi rapuhnya komitmen gencatan senjata yang sempat disepakati sejak Oktober tahun lalu. Nyatanya, pasukan militer Israel terus melancarkan serangan udara harian, penembakan, hingga pembongkaran paksa di seluruh wilayah kantong Palestina tersebut.
Data statistik menunjukkan betapa mengerikannya pelanggaran yang terjadi di lapangan sejak gencatan senjata diumumkan. Sedikitnya 1.084 warga Palestina tewas akibat berondongan peluru dan bom Israel. Dari total korban tersebut, 258 di antaranya adalah anak-anak yang kehilangan masa depan.
Komite kemanusiaan kini mendesak komunitas internasional untuk segera menginvestigasi rentetan serangan udara tanpa henti ini, yang dinilai sebagai bagian dari kebijakan sistematis untuk merusak tatanan sipil dan memaksa warga Gaza hidup dalam ketakutan serta keterbatasan permanen.






