Desportare

Oktagon di Ruang Oval, Donald Trump Menyulap Olahraga Tarung Menjadi Senjata Politik

  • Sebanyak 14 petarung Mixed Martial Arts (MMA) papan atas dunia akan berduel di hadapan 4.000 tamu undangan eksklusif.
  • UFC menjadi alat taktis untuk merangkul ceruk pemilih yang selama ini paling sulit dijangkau: pria muda yang apatis terhadap politik.

JERNIH — Darah akan tumpah dan tinju akan melayang tepat di halaman rumput ikonik Gedung Putih. Di bawah terik matahari pertengahan Juni 2026, sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi dalam sejarah demokrasi modern Amerika Serikat sedang dipersiapkan yakni sangkar besi raksasa “The Octagon” milik Ultimate Fighting Championship (UFC) berdiri megah di South Lawn (Halaman Selatan) Gedung Putih.

Laga baku hantam distopia ini digelar bukan tanpa alasan. Acara ekstrem ini dirancang sebagai perayaan ganda: ulang tahun ke-80 Presiden AS Donald Trump yang jatuh pada hari Minggu (14/06/2026), sekaligus menyambut perayaan mentereng 250 tahun penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan AS bulan depan.

Mengutip laporan Al Jazeera, sebanyak 14 petarung Mixed Martial Arts (MMA) papan atas dunia akan berduel di hadapan 4.000 tamu undangan eksklusif. Di balik kilat lampu kamera dan riuh penonton, tersimpan sebuah manifestasi politik mutakhir. Trump, sang mantan bintang televisi dan taipan real estat, berhasil menarik olahraga tarung yang dulunya dianggap marginal, masuk ke jantung kekuasaan tertinggi dunia untuk dijadikan instrumen politik absolut.

Hubungan Trump dengan olahraga baku hantam bukanlah romansa kemarin sore. Jauh pada akhir dekade 1980-an, saat Trump sedang membangun imperium kasino dan namanya kerap menghiasi tabloid gosip, ia menangkap momentum melejitnya World Wrestling Entertainment (WWE).

Menurut Lowery Woodall, profesor dari Millersville University yang meneliti budaya gulat, Trump mengendus bisnis besar ini sejak mempromosikan ajang utama WrestleMania di dekat Trump Plaza Hotel & Casino, Atlantic City, pada 1988 dan 1989. Namun, kedekatan Trump dengan pendiri WWE, Vince McMahon, melampaui urusan cuan; itu adalah awal pembentukan mitos personalnya.

Trump kerap tampil di ring WWE sebagai versi karikatur dirinya yang hiperbolis, puncaknya dalam laga ikonis “Battle of the Billionaires” tahun 2007. Woodall menilai, ada satu kesamaan mendasar antara dunia gulat dan gaya politik Trump: keduanya memiliki hubungan yang sangat longgar dengan kebenaran.

“Dalam gulat profesional, kebenaran adalah apa pun yang dibutuhkan penonton pada momen tersebut. Narasi bisa dikonstruksi sesuka hati demi hiburan. Pola ini sangat selaras dengan bagaimana pesan-pesan politik Trump disampaikan di dunia nyata,” ungkap Woodall.

Dalam teori gulat, ada istilah Heel (tokoh antagonis/jahat) dan Baby-Face (tokoh protagonis/orang baik). Uniknya, di panggung hiburan gulat, Trump memosisikan dirinya sebagai Baby-Face—seorang miliarder pelindung yang melawan karakter Vince McMahon yang korup dan sewenang-wenang. Persona “penantang sistem yang korup” inilah yang kemudian diadopsi Trump menjadi jargon populisme “Drain the Swamp” (Kuras Jaringan Koruptor) yang berhasil mengantarkannya ke kursi kepresidenan pada Pemilu 2016.

Membidik Suara ‘Pria Muda Apatis’ via UFC

Sisa-sisa DNA industri televisi ini terus dibawa Trump saat menguasai Gedung Putih pada periode pertama (2017) dan periode kedua (2025). Ia menunjuk Linda McMahon, istri Vince McMahon, sebagai Menteri Pendidikan di kabinetnya saat ini. Linda adalah sosok di balik kebijakan kontroversial Trump yang melarang atlet transgender bertanding di olahraga kampus serta menindak tegas para demonstran pro-Palestina.

Namun jika WWE membantu membentuk personanya, maka investasi Trump pada UFC sejak awal tahun 2000-an adalah kunci sukses kembalinya ia ke puncak kekuasaan pada Pemilu 2024 lalu. UFC menjadi alat taktis untuk merangkul ceruk pemilih yang selama ini paling sulit dijangkau: pria muda yang apatis terhadap politik.

Aaron Ettinger, profesor hubungan internasional di Carleton University, Kanada, menegaskan bahwa ada agenda politik yang sangat dingin di balik tontonan brutal ini. “UFC itu agresif, sarat kekerasan, dan tidak menyisakan ruang untuk kelembutan. Ini sangat cocok dengan konsep maskulinitas yang diusung Trump. Sifatnya kasar, tidak bisa diasosiasikan dengan gerakan aktivis sayap kiri atau aktivis sosial,” urai Ettinger.

Strategi ini terbukti efektif secara elektoral. Rata-rata pertandingan UFC ditonton oleh 300 ribu hingga 2 juta pasang mata, didominasi mutlak oleh pria muda. Ekosistem UFC berkelindan erat dengan dunia podcast. Joe Rogan, komentator utama UFC sekaligus pendukung setia Trump, memiliki rata-rata 11 juta pendengar per episode. Melalui kanal-kanal inilah Trump melakukan mobilisasi massa secara masif.

Meskipun demikian, Joe Rogan sendiri sempat melayangkan kritik atas laga hari Minggu ini. Ia mempertanyakan kelayakan menggelar sabuk juara di ruang terbuka yang bisa memengaruhi hasil laga, serta etika menggelar pesta berdarah di saat AS masih terlibat dalam perang sengit melawan Iran di Timur Tengah.

Ajang tarung di Gedung Putih ini digelar bertepatan dengan dimulainya Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko. Namun jika Piala Dunia berorientasi global, Trump sengaja mendesain UFC untuk pasar domestik guna memproyeksikan citra “Warrior-Style Sporting Masculinity” (Maskulinitas Olahraga Gaya Prajurit).

Konsep ini berjalan beriringan dengan visi militer yang diusung Kepala Pentagon, Pete Hegseth, yang ingin mengembalikan “etos prajurit” tanpa kompromi pada militer AS di luar negeri.

Guna memperluas pengaruh ini ke skala internasional, Presiden UFC Dana White bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio baru saja menandatangani kesepakatan Diplomasi Olahraga. Rubio bahkan menyamakan agresivitas UFC dengan proyek pendaratan manusia di bulan dan menyebut UFC sebagai “PBB-nya dunia pertarungan”.

Kyle Kusz, profesor dari University of Rhode Island, melihat adanya kemiripan struktural antara cara Trump mengonsolidasikan kekuasaan presiden dengan tata kelola internal UFC yang semi-monopoli. UFC kerap digugat karena membatasi ruang gerak petarung dengan status pekerja kontrak, mencegah mereka mendirikan serikat pekerja, sementara keuntungan terbesar mengalir ke kantong Dana White. Struktur ini mirip gaya kapitalisme kuno akhir abad ke-19 (Robber Barons).

Mengingat Trump sempat dicemooh penonton saat menghadiri Final NBA di New York baru-baru ini, ajang UFC di Gedung Putih didesain steril dari kritik. Semua tamu disaring ketat, bahkan memo Pentagon menyebut prajurit militer yang hadir harus memenuhi standar rasio lingkar pinggang dan tinggi badan tertentu demi menjaga estetika visual acara.

Roti dan Sirkus: Di Tengah Teror Inflasi Perang

Trump memang gemar mengawinkan milestones pribadi dengan narasi patriotik. Tahun lalu, ia menggelar parade militer besar-besaran untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-79 sekaligus hari jadi Angkatan Darat AS. Namun, pertunjukan hari Minggu ini digelar pada momen domestik yang sangat rapuh.

Popularitas Trump di dalam negeri dilaporkan merosot tajam akibat perang AS-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu. Dampak perang telah memukul ekonomi warga AS, ditandai dengan meroketnya harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pokok. Walau Trump mengeklaim kesepakatan gencatan senjata dengan Iran sudah masuk tahap akhir, publik terlanjur skeptis.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru dari Reuters-Ipsos yang dirilis Kamis (11/06/2026), potret penolakan publik terlihat nyata. Hanya 16 persen warga Amerika yang menganggap laga UFC di Gedung Putih ini pantas digelar. Sementara 46 persen warga menilai acara ini sama sekali tidak pantas.

Gugatan hukum sempat dilayangkan untuk membatalkan acara ini karena dinilai melanggar izin federal. Pemerintah membela diri dengan menyatakan bahwa $$60 juta (sekitar Rp980 miliar) dana investasi telah mengalir ke proyek ini, melibatkan tujuh agen federal, meski Gedung Putih berkilah mayoritas biaya ditanggung oleh kantong UFC.

Gelaran tarung bebas di pusat kekuasaan ini memicu kritik moral yang tajam dari para akademisi. Profesor Lowery Woodall menutup analisisnya dengan sebuah kalimat satir yang menampar realitas sosial Amerika saat ini.

“Sangat sulit untuk tidak melihat acara ini sebagai potret di mana bagian masyarakat terkaya dan paling diistimewakan, duduk menonton olahraga berdarah (blood sport). Sementara di luar sana, negara mereka sedang berada dalam kekacauan ekonomi, dan rakyat kecil harus membuat keputusan luar biasa sulit hanya untuk sekadar membeli bahan makanan dan obat-obatan,” tambah Woodall.

Pada titik ini, visualisasi dari perang kelas sosial antara si kaya dan si miskin di Amerika Serikat dinilai jauh lebih brutal dan nyata, ketimbang baku hantam fisik yang terjadi di dalam sangkar besi Oktagon Halaman Selatan Gedung Putih.

Back to top button