
Masuk ke dalam kisah kelam di balik meja oval, di mana pengabdian mutlak pun tak cukup untuk menyelamatkan mereka dari amukan ego sang nakhoda. Bagaimana Trump membersihkan mereka yang jadi debu pemerintahan?
WWW.JERNIH.CO – Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada tahun 2025 membawa badai politik yang meluluhlantakkan tatanan birokrasi dan stabilitas ekonomi Amerika Serikat. Melalui agenda “America First” yang kian agresif, Trump dan kabinet setianya menjalankan pemerintahan dengan gaya otoriter yang mengutamakan loyalitas mutlak di atas kompetensi profesional.
Fenomena ini menciptakan daftar panjang “korban” di kalangan pejabat tinggi militer dan pengusaha raksasa yang awalnya sempat mendukung atau mencoba bekerja sama, namun akhirnya terlempar ke pinggir jalan akibat benturan ego dan ambisi politik sang presiden.
Elon Musk: Dari Rekan Menjadi Rival di Balik Layar
Mungkin kejutan terbesar adalah ketegangan yang muncul antara Trump dan Elon Musk. Meski Musk memainkan peran sentral sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) dan menyumbang jutaan dolar untuk kampanye, hubungan keduanya mulai retak akibat benturan kepentingan yang tak terhindarkan. Musk, dengan visinya yang teknokratis dan dominan, sering kali bertabrakan dengan menteri-menteri senior Trump seperti Menteri Perdagangan Howard Lutnick.

Musk menjadi “korban” dari egonya sendiri yang mencoba mengontrol kebijakan pemerintah layaknya mengelola perusahaan pribadi. Di satu sisi, ia dipaksa melakukan pemangkasan anggaran yang ekstrem, namun di sisi lain, kebijakan tarif tinggi Trump terhadap Tiongkok—yang dimaksudkan untuk memukul Beijing—justru mencekik rantai pasok Tesla. Ketika Musk mencoba melunakkan kebijakan perdagangan tersebut demi bisnisnya, ia dituduh “tidak setia” oleh faksi garis keras di kabinet, membuktikan bahwa dalam orbit Trump, tidak ada tempat bagi dua matahari.
Jenderal Randy George: Pembersihan di Puncak Pentagon
Di sektor militer, pengabdian puluhan tahun tidak menjadi jaminan keamanan posisi. Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Randy George, menjadi korban paling nyata dari upaya pembersihan ideologis oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Pada April 2026, George dipaksa pensiun dini secara mendadak melalui telepon saat ia sedang memimpin rapat.

Alasan di balik penyingkiran ini bukanlah kegagalan profesional, melainkan ketidaksesuaian ideologis. Hegseth, yang didukung penuh oleh ego Trump untuk “menjinakkan” Pentagon, menganggap George sebagai bagian dari “generasi lama” yang terlalu moderat dan terlalu vokal dalam mempertahankan kemandirian militer dari politik praktis. Penyingkiran George mengirimkan pesan mengerikan kepada seluruh korps perwira: bahwa kesetiaan kepada konstitusi kini berada di bawah kesetiaan personal kepada presiden.
Bill Ackman dan Para Miliarder “Tarif”
Pengusaha kaya seperti Bill Ackman, yang secara terbuka mendukung Trump pada pemilu 2024, juga harus menelan pil pahit. Ia menjadi korban dari kebijakan tarif membabi buta yang diterapkan kabinet Trump terhadap Kanada, Meksiko, dan China. Ackman dan sejumlah eksekutif Wall Street lainnya sempat memperingatkan bahwa tarif sebesar 25% akan memicu inflasi hebat dan merusak daya saing Amerika.

Namun, saran para pakar ekonomi ini diabaikan demi narasi populis Trump. Para pengusaha ini terjebak dalam posisi sulit; mereka telah memberikan mandat politik kepada seorang pemimpin yang egonya merasa lebih tahu tentang pasar daripada para pelaku pasar itu sendiri. Akibatnya, banyak investasi mereka yang terpuruk akibat perang dagang balasan yang tidak terduga, membuktikan bahwa dukungan finansial kepada Trump tidak memberikan kekebalan terhadap kebijakan yang merugikan bisnis mereka.
Pam Bondi: Sang Jaksa Agung dalam Posisi Terjepit
Pam Bondi, yang dipilih untuk memimpin Departemen Kehakiman (DOJ) setelah pengunduran diri mendadak Matt Gaetz, segera menemukan dirinya berada di tengah badai. Meskipun Bondi adalah pendukung setia Trump selama bertahun-tahun, ia menjadi “korban” dari tuntutan ego Trump yang menginginkan DOJ berfungsi sebagai alat hukum pribadi untuk membalas dendam politik.

Bondi, yang secara profesional ingin menjaga kredibilitas institusi, sering kali harus berhadapan dengan perintah yang melompati prosedur hukum standar. Ketika ia mencoba melakukan moderasi terhadap perintah eksekutif yang kontroversial, ia mulai dipandang dengan kecurigaan oleh faksi “MAGA radikal” di dalam kabinet.
Bondi berada dalam posisi yang mustahil: jika ia patuh sepenuhnya, ia menghancurkan reputasi hukumnya; jika ia melawan, ia akan segera didepak. Ia menjadi simbol bagaimana seorang profesional hukum papan atas bisa kehilangan otonominya di bawah tekanan ego kepemimpinan yang absolut.
Jamie Dimon dan Dilema Perbankan Wall Street
Meskipun tidak memegang posisi resmi di kabinet, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, sering kali disebut sebagai penasihat bayangan atau kandidat menteri. Namun, Dimon menjadi korban dari ketidakkonsistenan kebijakan ekonomi Trump. Setelah sempat memberikan sinyal positif terhadap deregulasi yang dijanjikan Trump, Dimon justru harus berhadapan dengan kebijakan isolasionisme ekonomi yang ekstrem.

Ego Trump dalam memberlakukan tarif global tanpa pandang bulu menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan yang dikelola Dimon. Setiap kali Dimon memberikan kritik melalui laporan ekonomi banknya, ia menjadi sasaran kemarahan di media sosial sang presiden. Bagi para pengusaha kelas berat seperti Dimon, mereka terjebak dalam hubungan “benci tapi rindu” di mana saran mereka hanya didengar jika sesuai dengan narasi Trump, dan dicerca jika menunjukkan realitas pasar yang pahit.
Robert F. Kennedy Jr. (RFK Jr.): Benturan Visi di Sektor Kesehatan
Sebagai kepala kesehatan (HHS), RFK Jr. membawa ego dan agenda transformatifnya sendiri yang sering kali bertabrakan dengan kepentingan industri farmasi yang sebenarnya ingin dilindungi oleh sebagian pendonor besar Trump.

RFK Jr. menjadi korban dari permainan dua kaki Trump; di satu sisi Trump membiarkannya “bermain” dengan kebijakan kesehatan, namun di sisi lain, saat kebijakan tersebut mulai mengancam stabilitas ekonomi atau hubungan dengan lobi-lobi besar, Trump tidak ragu untuk memangkas kewenangannya secara terbuka. RFK Jr. mendapati bahwa dalam kabinet Trump, visi sebesar apa pun akan selalu kalah jika mulai mengganggu popularitas atau kenyamanan politik sang presiden.
Howard Lutnick: Sang Penjaga Gerbang yang Terbakar
Sebagai Menteri Perdagangan sekaligus salah satu pemimpin tim transisi, Howard Lutnick awalnya dianggap sebagai orang paling berkuasa di bidang ekonomi. Namun, ia menjadi korban dari perang dingin internal melawan Elon Musk.

Ego Lutnick yang ingin mempertahankan kendali penuh atas penunjukan pejabat di kementeriannya berbenturan keras dengan keinginan Musk untuk menaruh orang-orang pilihannya. Dalam perselisihan ini, Trump sering kali membiarkan kedua “singa” ini bertarung di depan publik, yang pada akhirnya melemahkan otoritas Lutnick.
Ia terjepit di antara janji tarif tinggi kepada Trump dan realitas tekanan dari para CEO teknologi, menjadikannya sasaran kritik setiap kali pasar saham bereaksi negatif terhadap kebijakan perdagangan.
Marco Rubio: Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang
Menteri Luar Negeri Marco Rubio adalah contoh klasik dari tokoh yang harus mengorbankan seluruh prinsip masa lalunya demi ego sang presiden. Rubio, yang dulunya dikenal sebagai sosok “elang” (garis keras) dalam urusan luar negeri, kini sering kali terlihat seperti “korban” kebijakan luar negeri yang dilakukan lewat media sosial.

Seringkali, saat Rubio sedang menegosiasikan pakta diplomatik yang rumit dengan sekutu Eropa atau NATO, Trump akan mengeluarkan pernyataan yang sepenuhnya berlawanan. Ego Trump untuk selalu menjadi pusat perhatian dalam urusan luar negeri membuat jabatan Rubio seringkali hanya bersifat seremonial. Ia terpaksa menjadi juru bicara bagi kebijakan yang terkadang ia sendiri anggap tidak masuk akal secara geopolitik, demi menghindari pemecatan yang memalukan.
Doug Burgum: Gubernur yang Terpinggirkan
Gubernur North Dakota ini awalnya dijanjikan peran sentral sebagai “Czar Energi” untuk memimpin revolusi minyak dan gas Amerika. Namun, Burgum menjadi korban ketika ego Trump mulai beralih pada isu-isu lain yang lebih populis.

Burgum, yang memiliki latar belakang pengusaha teknologi dan kebijakan yang sangat teknis, sering kali dianggap “terlalu membosankan” oleh lingkaran dalam Trump. Ketika ia mencoba memberikan presentasi berbasis data tentang transisi energi, ia justru disingkirkan oleh tokoh-tokoh kabinet yang lebih memilih retorika politik daripada fakta lapangan.
Posisi Burgum kini menjadi simbol dari para teknokrat yang dikucilkan karena tidak mampu (atau tidak mau) mengikuti gaya komunikasi kabinet yang lebih menyerupai acara realitas televisi.
Kristi Noem: Korban Pemecatan “Whack-a-Mole”
Mantan Gubernur South Dakota yang menjabat sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri (DHS) ini menjadi salah satu korban paling mencolok di awal 2026. Noem resmi dipecat oleh Trump pada Maret 2026 setelah masa “percobaan” yang penuh gejolak.

Ego Trump merasa tidak puas dengan performa Noem dalam menangani isu imigrasi dan manajemen departemen yang dianggap kacau. Selain itu, keterlibatan Noem dalam berbagai skandal pribadi dan berita negatif di media membuat Trump—yang sangat sensitif terhadap citra publik—merasa Noem lebih menjadi beban daripada aset.
Pemecatannya memicu kritik bahwa Trump cenderung lebih cepat menyingkirkan pejabat perempuan di kabinetnya dibandingkan pejabat laki-laki yang juga didera skandal.
Michael Waltz: Dari Penasihat Menjadi Duta Besar
Michael Waltz awalnya menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional yang sangat berpengaruh. Namun, posisinya goyah akibat sebuah kesalahan teknis yang melukai ego pemerintahan: ia secara tidak sengaja memasukkan seorang jurnalis ke dalam grup chat aman (Signal) yang membahas strategi serangan militer terhadap target Houthi.

Meski tidak langsung dipecat secara memalukan, ia “dibuang” dari pusat kekuasaan di Gedung Putih dan diberi “hadiah hiburan” sebagai Duta Besar AS untuk PBB. Pergeseran ini menunjukkan bahwa di bawah Trump, satu kesalahan kecil yang mempermalukan administrasi di mata publik bisa langsung mengakhiri karier seseorang di lingkaran inti.
Lori Chavez-DeRemer: Di Bawah Pengawasan Ketat
Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer juga masuk dalam daftar “terancam.” Ia menjadi korban dari ketidakcocokan visi antara pendekatan kebijakan tenaga kerja tradisional dengan keinginan Trump yang lebih populis dan tidak terduga.

Hingga April 2026, posisinya dilaporkan sangat tidak aman karena Trump terus mempertanyakan loyalitas dan efektivitasnya dalam menjalankan agenda “America First” yang kian radikal.
Tulsi Gabbard: Target Selanjutnya?
Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard kini berada dalam posisi genting. Meskipun ia dikenal sebagai pendukung vokal, perbedaan pandangannya mengenai perang di Iran mulai mengusik ego Trump. Trump secara terbuka menyatakan bahwa Gabbard memiliki “proses berpikir yang sedikit berbeda” darinya.

Para pengamat menyebut Gabbard sebagai target “whack-a-mole” berikutnya, di mana ia harus memilih antara menekan insting kebijakan luar negerinya sendiri atau menghadapi pemecatan seperti yang dialami Bondi dan Noem.(*)
BACA JUGA: Rakyat Disuruh Hemat, Trump Malah Renovasi Gedung Putih Rp6,4 Triliun






