Crispy

AS Kembali Serang Iran, Teheran Balas Gempur Delapan Pangkalan Militer AS

JERNIH — Situasi keamanan di Timur Tengah kembali berada di ambang perang terbuka. Ketegangan eskalatif pecah pada Minggu (28/6/2026) dini hari setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan udara ke wilayah Iran Selatan. Tak butuh waktu lama, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung membalas dengan menghujani delapan pangkalan militer utama AS di kawasan Teluk menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone).

Baku hantam militer ini secara otomatis merobek nota kesepahaman gencatan senjata (Memorandum Islamabad) yang baru saja ditandatangani kedua belah pihak pada 18 Juni 2026 lalu.

Gelombang serangan dimulai saat jet tempur dan aset militer AS menggempur wilayah Qeshm dan Sirik di pesisir selatan Iran. CENTCOM berdalih serangan ini merupakan respons atas tindakan Iran yang dituduh menyerang sebuah kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa target operasi mereka adalah infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, gudang drone, serta fasilitas peletakan ranjau laut milik Iran.

Hanya berselang beberapa jam, antara pukul 02.00 hingga 03.00 subuh waktu setempat, IRGC meluncurkan operasi gabungan berskala besar yang melibatkan Angkatan Laut dan Angkatan Dirgantara mereka. IRGC mengklaim telah menghancurkan delapan fasilitas militer strategis AS di kawasan Timur Tengah.

Dua pangkalan utama yang dikonfirmasi lumpuh akibat hantaman rudal Iran meliputi Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait dan Markas Besar Armada Kelima AS (US Fifth Fleet) di Naval Support Activity Bahrain, Pelabuhan Salman.

“Tanggung jawab penuh atas pengaturan navigasi di Selat Hormuz berada di bawah yurisdiksi Iran sesuai Memorandum Islamabad. Setiap serangan di masa depan oleh AS, dengan pembenaran atau skala apa pun, akan dihadapi dengan respons yang jauh lebih keras,” tegas pernyataan resmi IRGC.

Trump Beri Peringatan Keras: “Iran Akan Lenyap!”

Merespons balasan kilat Teheran, Presiden Donald Trump langsung sesumbar memberikan ancaman mengerikan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social. Trump menegaskan AS tidak akan tinggal diam jika pelanggaran gencatan senjata terus berlanjut.

“Akan tiba saatnya di mana Amerika Serikat terpaksa untuk ‘menyelesaikan misi ini secara militer’. Jika eskalasi ini terus berlanjut, Iran akan lenyap (will cease to exist),” tulis Trump dengan nada sangar.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras agresi AS yang dinilai melanggar Pasal 2(2) Piagam PBB. Teheran menyatakan bahwa AS telah membuktikan diri sebagai rezim yang “tidak memiliki kredibilitas dalam memegang komitmen penandatanganan perjanjian.” Iran pun menegaskan hak inheren mereka untuk membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB serta meminta Dewan Keamanan PBB segera turun tangan.

Di tengah situasi yang memanas, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah mendarat di Baghdad, Irak, pada Minggu pagi. Selain menggelar konsultasi darurat mengenai perkembangan regional dengan pejabat senior Irak, kunjungan Araghchi ini mengemban misi emosional yang sangat penting.

Araghchi tengah mengoordinasikan persiapan prosesi pemakaman luar negeri untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang dinyatakan wafat/syahid baru-baru ini.

Berdasarkan jadwal resmi dari komite pemakaman, rangkaian penghormatan terakhir bagi mendiang Ali Khamenei akan berlangsung dari 4 Juli hingga 9 Juli 2026. Meskipun sebagian besar upacara diadakan di Iran, jenazah sang Pemimpin Agung dijadwalkan akan dibawa melintasi kota suci Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu, 8 Juli 2026, sebuah momen yang diprediksi bakal menggerakkan jutaan massa di tengah situasi Timur Tengah yang membara.

Back to top button