Moron

Korban Santri Keracunan MBG di Sidoarjo Tembus Ratusan Orang

Ratusan santri di Sidoarjo dilarikan ke rumah sakit usai mengonsumsi menu MBG yang diduga basi. Kesaksian sejumlah korban menyoroti rasa asam aneh pada tumis buncis baby corn sebelum gejala berdatangan.

WWW.JERNIH.CO  – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa, 1 September 2026, terus berkembang. Insiden yang semula dilaporkan terjadi di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, kemudian diketahui juga dialami penerima MBG di sejumlah lembaga pendidikan lain. Seluruh lokasi tersebut memiliki satu kesamaan, yakni menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.

Kejadian bermula setelah makanan MBG dikirim dari SPPG Kalitengah ke Pondok Pesantren Manba’ul Hikam. Berdasarkan keterangan pendamping SPPG, makanan dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan kemudian dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB.

Sebanyak sekitar 1.010 porsi disebut disiapkan untuk siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) dan MTs Manba’ul Hikam. Sebagian makanan dikonsumsi saat siang, sedangkan sebagian lainnya baru dimakan sore karena para santri masih mengikuti kegiatan pembelajaran.

Menu yang dibagikan pada hari itu terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Menu tersebut dikonfirmasi oleh pendamping SPPG dan juga dilaporkan sebagai menu yang diterima sejumlah sekolah lain dari dapur yang sama.

Beberapa jam setelah makan, gejala mulai dirasakan sejumlah santri. Laporan dari pihak pesantren menyebut keluhan mulai muncul sekitar pukul 16.00 WIB, atau sekitar empat jam setelah makan siang. Santri mengalami berbagai keluhan, antara lain pusing, mual, muntah, diare, lemas, hingga sesak napas. Jumlah santri yang mengeluhkan kondisi tersebut kemudian terus bertambah sehingga mereka dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan.

BACA JUGA: MK Larang ‘Uang Sekolah’ Dipakai buat MBG

Pada Selasa malam, ratusan santri telah mendapat penanganan di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo. Bupati Sidoarjo Subandi menyatakan tidak ada korban meninggal dalam kejadian tersebut dan meminta keluarga santri tidak panik. Sebagian pasien yang kondisinya telah membaik juga sudah diperbolehkan pulang.

Data korban kemudian terus berubah seiring dilakukannya pendataan. Pada Rabu, 2 September 2026, laporan menyebut jumlah korban telah mencapai sekitar 566 orang. Korban tidak hanya berasal dari Manba’ul Hikam, tetapi juga dari sejumlah sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Salah satu laporan menyebut kejadian tersebut melibatkan 19 lembaga pendidikan.

Sementara itu, data Dinas Kesehatan Sidoarjo yang dikutip ANTARA pada Rabu dini hari mencatat 424 santri Manba’ul Hikam dan 24 korban dari luar pesantren telah terdampak hingga pukul 00.45 WIB. Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa pendataan masih berlangsung dan jumlah korban dapat berubah.

Sejumlah santri memberikan kesaksian mengenai tumis buncis baby corn. Beberapa santri mengaku merasakan rasa yang tidak biasa, bahkan asam atau kecut, ketika mengonsumsi sayuran tersebut. Salah seorang santriwati juga dilaporkan tidak menghabiskan sayur karena rasanya terasa asam.

Temuan tersebut membuat tumis buncis baby corn menjadi salah satu bagian menu yang patut diperiksa, tetapi belum bisa disebut sebagai sumber keracunan. Bisa saja penyebabnya berasal dari bahan makanan tertentu, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau faktor lain. Kepastian harus menunggu pemeriksaan sampel makanan dan pemeriksaan medis/laboratorium.

Setelah kasus meluas ke sejumlah penerima MBG, pemerintah menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan penghentian dilakukan sambil menunggu pemeriksaan laboratorium dan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian. Pemerintah juga melakukan pemantauan terhadap seluruh sekolah dan satuan pendidikan penerima makanan dari SPPG tersebut. (*)

BACA JUGA: Di Balik Keracunan MBG: Menyingkap Bakteri, Virus, dan Racun yang Mengintai

Back to top button