POTPOURRIVeritas

Kepala MBG dari Nanik S Deyang ke Sudaryono

Proses bersih-bersih BGN belum pula tuntas, Nanik S Deyang undur karena alasan kesehatan. Bisakah Sudaryono meneruskan proses pembersihan  BGN yang nyaris jadi sarang korupsi?

WWW.JERNIH.CO – ​ Dinamika kepemimpinan di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN) kembali mencuri perhatian publik setelah perubahan mendadak di kursi tertingginya. Nanik S. Deyang secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala BGN setelah mengabdi selama kurang lebih 45 hari sejak dilantik pada 8 Juni 2026.

 Langkah ini langsung direspons cepat oleh pemerintah dengan menunjuk Sudaryono, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian, untuk mengisi posisi strategis tersebut. Pergantian kepemimpinan ini menandai dimulainya babak baru dalam pengawalan salah satu program paling krusial bagi masa depan generasi muda Indonesia, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keputusan mundurnya Nanik bukan didasari oleh persoalan politik maupun kinerja, melainkan murni karena faktor kesehatan yang membutuhkan penanganan serius. Nanik mengungkapkan bahwa dirinya harus berfokus menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri untuk mendapatkan pertimbangan medis lanjutan (second opinion).

Lewat ucapan pamit yang emosional di media sosialnya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto karena harus melepaskan jabatannya demi memprioritaskan pemulihan jiwanya. Mengedepankan rasa kemanusiaan, Presiden Prabowo menyetujui pengunduran diri tersebut.

Meski melepas peran eksekutifnya, kontribusi Nanik tidak berhenti begitu saja, sebab ia diproyeksikan untuk memimpin Dewan Pengawas BGN yang akan dibentuk guna memantau implementasi program MBG dari luar struktur operasional.

Kendati masa kepemimpinannya terbilang sangat singkat—hanya satu setengah bulan—Nanik berhasil menorehkan rekam jejak dan fondasi pembenahan tata kelola yang sangat signifikan. Di bawah arahannya, BGN bergerak cepat melakukan pembersihan dan efisiensi anggaran dengan berhasil mengidentifikasi 414 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bermasalah.

Langkah berani ini menyelamatkan sekaligus mengembalikan dana hingga ratusan miliar rupiah ke kas negara. Tak berhenti di situ, Nanik juga memimpin evaluasi massal terhadap hampir 28.000 SPPG dan mengklasifikasikan sekitar 3.000 dapur berdasarkan standar mutu. Ia bahkan memberlakukan moratorium pembukaan dapur baru di wilayah yang sudah jenuh demi mencegah pemborosan, serta membentuk 11 Tim Reformasi Total untuk membenahi birokrasi internal agar program MBG benar-benar tepat sasaran.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan Sudaryono. Penunjukan mantan Wakil Menteri Pertanian ini dinilai sangat strategis karena ia telah memahami ekosistem program MBG dari hilir hingga ke hulu, khususnya dalam hal penyediaan bahan pangan.

Tugas utama Sudaryono mencakup penyelarasan ekosistem pangan secara menyeluruh, yaitu mengintegrasikan rantai pasok bahan baku dari petani, peternak, dan nelayan lokal dengan ribuan dapur BGN di seluruh Indonesia. Selain itu, ia mengemban amanah untuk melanjutkan reformasi birokrasi yang telah dirintis Nanik, memperketat standar kualitas masakan, serta memastikan eksekusi operasional MBG berjalan lancar tanpa hambatan logistik maupun indikasi kebocoran anggaran.

Latar belakang Sudaryono di Kementerian Pertanian menjadi modal kuat untuk memperkokoh ketahanan pasokan bahan baku lokal di setiap daerah. Harapannya, di bawah nahkoda baru ini, Badan Gizi Nasional tidak hanya mampu memenuhi gizi dan nutrisi anak-anak sekolah secara merata, tetapi juga berhasil menjadikan program Makan Bergizi Gratis sebagai motor penggerak roda ekonomi bagi para petani, peternak, dan pedagang pasar tradisional di seluruh penjuru Tanah Air.(*)

BACA JUGA: Prabowo Copot Dadan Hindayana, Tunjuk Nanik S Deyang Jadi Kepala Badan Gizi Nasional yang Baru

Back to top button