Dampak Damai AS-Iran: Wall Street Meroket, Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah

JERNIH — Pasar saham Amerika Serikat (Wall Street) langsung mengalami reli penguatan massal menyusul tercapainya kesepakatan damai tentatif antara AS dan Iran. Investor global kini diliputi optimisme tinggi bahwa pemulihan jalur pasokan energi di Selat Hormuz akan segera mengakhiri kekacauan rantai pasok yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Sentimen positif ini memicu lonjakan masif pada indeks-indeks utama di bursa New York pada perdagangan Senin (15/06/2026), sekaligus mendorong minat investor untuk kembali mengambil risiko di pasar ekuitas.
Di lantai bursa saham, tercatat indeks acuan S&P 500 melesat 1,7 persen pada hari Senin, menempatkannya selangkah lagi dari rekor tertinggi sepanjang masa. Di Dow Jones, indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average merangkak naik 0,9 persen dan resmi ditutup pada rekor tertinggi barunya.
Sementara Indeks padat teknologi Nasdaq Composite melonjak tajam hingga 3,1 persen. Lompatan besar ini didorong oleh meroketnya saham SpaceX sebesar 19,6 persen. SpaceX baru saja melakukan debut pasar (IPO) terbesar dalam sejarah pada Jumat lalu, yang sekaligus resmi menobatkan Elon Musk sebagai triliuner (pemilik kekayaan bersih seribu miliar dolar/trillionaire) pertama di dunia.
Sentimen positif dari keputusan Presiden Donald Trump dan Teheran langsung menjalar ke bursa Asia pada perdagangan Senin pagi. Nikkei 225 (Jepang) sempat menembus ambang batas psikologis 70.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebelum akhirnya melandai di kisaran di atas 0,6 persen. KOSPI (Korea Selatan) menjadi indeks dengan performa terbaik tahun ini, melonjak lebih dari 2,1 persen. TAIEX (Taiwan) menguat sebesar 0,6 persen sementara Hang Seng (Hong Kong) menjadi satu-satunya yang terkoreksi, turun 1,25 persen.
“Jika disederhanakan, perdebatan investor selama ini adalah: belanja teknologi AI sangat kuat, tapi sayangnya sedang ada perang. Sekarang perang tampaknya sudah usai, jadi argumen (sisi negatif) itu gugur. Investor kini merasa jauh lebih nyaman untuk mengambil risiko,” kata Jay Goldberg, analis senior ekuitas teknologi di Seaport Research Partners, Chicago.
Sejalan dengan meredanya tensi militer, harga minyak mentah dunia langsung terjun bebas. Kontrak berjangka minyak mentah Brent anjlok hampir 5 persen ke posisi sedikit di atas $$83 per barel. Angka ini menandai level harga terendah sejak minggu pertama konflik Timur Tengah itu pecah akhir tahun lalu.
Meskipun kesepakatan payung hukum antara Washington dan Teheran membawa angin segar, para pengamat memperkirakan butuh waktu berbulan-bulan agar arus energi global benar-benar kembali normal.
Hal ini disebabkan oleh dua faktor teknis utama di lapangan. Perlunya jaminan keamanan bahwa wilayah perairan tersebut sudah bersih dari ranjau laut milik Angkatan Laut Iran.
Selain itu, berdasarkan data dari Kamar Pelayaran Internasional (International Shipping Chamber), saat ini masih ada sekitar 500 kapal tanker yang mengantre untuk melewati Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital yang biasanya membawa seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.






