Darializa Avila Chevalier: Mualaf Pembela Palestina yang Menumbangkan Raksasa Politik New York

JERNIH — Di atas kertas, ia adalah definisi dari “kemustahilan” dalam politik Amerika Serikat. Ia tidak punya modal jutaan dolar, belum pernah menduduki jabatan publik, seorang perempuan imigran, mahasiswa doktoral, aktivis jalanan, pembela vokal Palestina, dan seorang mualaf.
Namun, di daerah pemilihan New York-13—salah satu distrik paling dinamis di jantung Kota New York—perempuan berusia 32 tahun bernama Darializa Avila Chevalier ini baru saja melakukan hal yang dinilai banyak pengamat sebagai mukjizat politik: menumbangkan Adriano Espaillat, politikus senior andalan Partai Demokrat yang telah mendekam aman selama lima periode di kursi Kongres.
Kemenangan mengejutkan Avila Chevalier dalam pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat ini tidak hanya meruntuhkan status quo. Ini adalah gempa tektonik politik yang membuka jalan baginya untuk menjadi perempuan keturunan Dominika pertama dalam sejarah yang melangkah ke Capitol Hill pada pemilu November mendatang.
Di balik jabat tangan politik dan panggung kampanyenya yang riuh, ada narasi spiritual yang sunyi namun kuat dalam diri Avila Chevalier. Ia adalah satu-satunya Muslim di dalam keluarga besarnya. Keputusannya memeluk Islam sekitar tiga tahun lalu berawal dari sebuah pertanyaan polos dari seorang sahabat. “Saya menjadi mualaf tiga tahun lalu,” kenang Avila Chevalier dalam sebuah wawancara yang viral di media sosial.
“Saat itu, teman saya bertanya, ‘Mengapa kamu sudah ikut berpuasa Ramadan selama empat tahun berturut-turut tetapi belum juga mengucapkan syahadat?’ Pertanyaan itu memukul saya. Saya berpikir, benar juga, itu pertanyaan yang sangat bagus. Mengapa saya belum mengambil langkah itu?” kisahnya sembari tersenyum.
Bagi mahasiswa Columbia University ini, Islam bukan sekadar teks teologi di dalam buku, melainkan manifesto gerakan sosial yang ia lihat langsung pada teman-teman Muslimnya. Ia terpikat pada bagaimana komunitas Muslim hadir dalam aksi-aksi kemanusiaan dengan keberanian, kasih sayang, dan kegembiraan.
Kini, keimanannya bertransformasi menjadi bahan bakar politik. Di podium-podium kampanye, ia tak ragu menyelipkan doa. “Insya Allah kita akan mencapai Kongres. Saya ingin memastikan nilai-nilai keadilan itu juga hadir di ruang-ruang kekuasaan,” cetusnya.
Darah Imigran dan Slogan “Babies, Not Bombs”
Avila Chevalier tidak lahir dengan sendok perak di mulutnya. Ia adalah putri dari pasangan imigran asal Republik Dominika yang memeras keringat di tengah kerasnya kehidupan kelas pekerja di Florida. Tumbuh dalam keterbatasan ekonomi justru membentuk kompas moral politiknya: progresif, radikal, dan berpihak penuh pada mereka yang tak bersuara.
Saat menembus dinding Columbia University, Avila Chevalier tidak memilih menjadi mahasiswa menara gading. Ia mengorganisir gerakan advokasi korban kekerasan seksual di kampus, menggalang solidaritas hak mahasiswa kulit hitam, hingga berdiri di garis depan membela hak-hak warga Palestina.
Ketika maju bertarung, agenda yang dibawanya membuat gerah para elite tradisional. Ia menuntut layanan kesehatan universal, perlindungan hak penyewa rumah dari keserakahan korporasi properti, hingga pemangkasan anggaran militer.
Gaya politiknya diringkas dalam satu slogan yang menohok: “Babies, Not Bombs” (Bayi, Bukan Bom). Sebuah seruan keras untuk menghentikan pendanaan perang di luar negeri dan mengalihkannya untuk pendidikan serta kesejahteraan anak-anak di dalam negeri.
Satu hal yang membuat nama Avila Chevalier membubung tinggi di kalangan pemilih muda New York adalah keberaniannya menantang kelompok pelobi pro-Israel paling berpengaruh di Amerika Serikat, AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). Di saat politikus senior gemetar kehilangan donor, Avila Chevalier justru maju tanpa rasa takut.
“Saya tahu kita semua berhak mendapatkan seorang wakil di Kongres yang tidak bisa dibeli oleh AIPAC,” tegasnya disambut gemuruh pendukungnya.
Pergerakan Avila Chevalier di akar rumput mendapat suntikan energi raksasa ketika tokoh progresif terkemuka New York, Zohran Mamdani, memutuskan turun gunung. Mamdani ikut mengetuk pintu ke pintu rumah warga, meyakinkan pemilih bahwa angin perubahan sedang berembus. “Saya tidak bisa memikirkan orang yang lebih tepat untuk mewakili distrik ini di Kongres selain Darializa,” ujar Mamdani saat itu.
Jika ia berhasil mengunci kemenangan total pada pemilu umum November 2026, Darializa Avila Chevalier tidak hanya akan mencetak sejarah bagi komunitas imigran Dominika. Ia akan masuk ke dalam lingkaran kecil politikus Muslim di Kongres AS—membawa suara dari jalanan New York, bau tanah imigran, dan keyakinan bahwa kekuasaan sejati ada di tangan rakyat, bukan di dompet para pelobi.






