POTPOURRI

Ini Perbedaan El Nino dan La Nina

Perbedaan mendasar antara El Nino dan La Nina sebenarnya terletak pada suhu permukaan laut dan kekuatan angin pasat di Samudera Pasifik.

JERNIH- El Nino adalah kondisi ketika suhu permukaan laut diSamudera Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari kondisi normal. Ketika suhu laut di Pasifik timur menghangat, distribusi uap air dan pembentukan awan pun ikut berubah.

Awan-awan hujan yang biasanya terbentuk di wilayah Indonesia justru bergeser ke tengah Pasifik. Inilah sebabnya Indonesia sering mengalami kekeringan saat El Nino terjadi. Akibatnya cuaca jadi panas karena berkurangnya hujan. Dampak lainnya akan merambat ke berbagai sector, antara lain lahan pertanian menjadi kering, cadangan air menurun, dan risiko kebakaran hutan meningkat tajam.

La Nina adalah keadaan ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur justru lebih dingin dari biasanya. Pendinginan ini memperkuat sirkulasi atmosfer, termasuk Sirkulasi Walker yang berperan dalam pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Ketika La Nina terjadi, wilayah Indonesia menerima lebih banyak uap air. Awan hujan terbentuk lebih intens, sehingga curah hujan meningkat secara signifikan. Bahkan, dalam banyak kasus, peningkatan ini bisa mencapai 20 hingga 40 persen di atas kondisi normal.

Akibatnya, berbagai wilayah di Indonesia menjadi lebih rentan terhadap banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem lainnya.

Berikut perbedaan El Nino dan La Nina

El Nino ditandai dengan pemanasan laut di bagian timur Pasifik yang menyebabkan Indonesia kehilangan sumber hujan, sedangkan La Nina ditandai dengan pendinginan laut di wilayah yang sama sehingga justru meningkatkan pembentukan awan di Indonesia.

Perbedaan ini kemudian memengaruhi pola curah hujan musiman. Pada periode Juni hingga November, El Nino cenderung menurunkan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sementara La Nina justru meningkatkannya. Pada musim hujan, pengaruh keduanya tetap ada, meskipun dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti angin monsun.

Dengan pemahaman di atas, masyarakat sebaiknya mulai mengenali tanda-tanda awal terjadinya El Nino maupun El Nina, sehingga kesiapan dan antisipasi juga bisa dilakukan sejak dini.

Di Indonesia peristiwa El Nino kuat tercatat pada tahun 1997 ketika sebagian besar wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang drastis.

Sementara pada tahun 2010, La Nina kuat menyebabkan curah hujan yang sangat tinggi di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan dan Sulawesi. (tvl)

Back to top button