Crispy

MoU Washington-Teheran Gagal Diperpanjang, Harga Minyak Dunia Memanas ke $91

JERNIH — Pasar energi global kembali bergejolak setelah Amerika Serikat dan Iran secara resmi menyatakan tidak akan memperpanjang nota kesepahaman (MoU) yang disepakati pada Juni lalu. Berakhirnya masa negosiasi 60 hari tanpa titik temu ini langsung meniupkan angin segar bagi lonjakan harga minyak mentah dunia akibat dibukanya kembali potensi konflik terbuka di koridor strategis Selat Hormuz.

Mengutip data TradingView pada Selasa (18/8/2026), harga minyak mentah jenis Brent terkerek naik 0,41% ke level US$ 91,24 per barel. Tren serupa melanda minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS yang menguat 0,59% hingga menyentuh posisi US$ 85,00 per barel.

Kegagalan perpanjangan kesepahaman ini dipicu oleh kerasnya posisi Donald Trump yang menilai draf negosiasi yang dimediasi Pakistan tidak memenuhi standar keamanan AS—terutama terkait ambisi nuklir Teheran.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka tidak akan membuat jenis kesepakatan yang menurut saya diperlukan,” ujar Trump mengulangi penegasan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Trump bahkan mengklaim AS telah memegang “kendali penuh” atas lalu lintas energi di Selat Hormuz melalui blokade militer. Ia mengancam akan mengambil tindakan yang “jauh lebih drastis” jika dinamika kawasan memburuk.

Sebaliknya, Teheran merespons dingin retorika Washington. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kesepakatan 60 hari tersebut sudah mati sejak awal akibat pelanggaran pihak AS.

“Kami sama sekali tidak memulai negosiasi, dan AS telah melanggar kesepahaman tersebut sejak awal. Oleh karena itu, persoalan batas waktu 60 hari menjadi tidak relevan lagi,” cetus Baghaei.

Kebuntuan diplomatik ini terjadi bertepatan dengan sinyal pemulihan permintaan energi dari Tiongkok. Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, menilai harga minyak akan mendapat dorongan ganda—bukan hanya dari faktor geopolitik Selat Hormuz, melainkan juga dari lonjakan kembali impor minyak mentah oleh kilang-kilang Tiongkok.

McNally memprediksi, langkah Tiongkok melonggarkan pembatasan impor kilang demi meraup margin keuntungan produk olahan akan mengerek harga minyak mentah jenis Brent kembali menembus US$ 100 per barel dalam waktu dekat.

Back to top button