Sihir Hitam di Pompa Bensin

Kejutan 10 Juni. Seperti sulap, simsalabim angka rupiah BBM naik. Tanpa permisi, tanpa promosi.
Di depan pompa bensin yang berangka merah,
kami berdiri menatap angka-angka yang menjerat leher.
Tanpa pengumuman atau pidato basa-basi dari atas sana,
harga-harga mendadak melompat tinggi seperti disulap semalam.
Rupiah terus melemah, lunglai tak bertenaga di pasar dunia,
tapi kenapa isi dompet kami yang harus menanggung semua dosanya?
Rakyat kecil hanya bisa pasrah menerima hantaman beruntun,
menyaksikan kenyataan pahit menggilas sisa-sisa harapan yang tersisa.
Ibu-ibu di dapur sekarang memutar otak sampai mati-matian,
bingung membagi uang belanja yang nilainya makin tak punya arti.
Cabai, beras, dan minyak ikut-ikutan menggila naik harga,
membuat panci-panci di rumah lebih sering melahirkan keluhan.
Mahasiswa berjuang keras dengan uang saku yang pas-pasan,
berkejaran dengan waktu agar bisa cepat lulus dari kampus.
Kini mereka harus berjalan kaki atau menahan lapar di kosan,
sebab ongkos motor untuk bimbingan skripsi sudah tak terbayar lagi.
Para bapak pulang ke rumah dengan kepala yang hampir pecah,
memikirkan cicilan dan susu anak yang menagih tanpa ampun.
Gaji mereka tetap diam, membeku tak pernah mau ikut naik,
sementara harga bahan bakar terus terbang membakar habis masa depan.(*)
Andra Nuryadi






