Puisi

Sumpalan 20 Juta

Lantang suaramu di aspal jalanan,

Membakar terik, menantang ketidakadilan.

Almamater megah membungkus raga,

Di baris depan, kau seolah dewa.

Namun di balik asap ban yang mengepul,

Logika kritis perlahan mulai tumpul.

Seseorang berbisik dari balik pintu kaca,

Orang dalam istana, pemilik takhta.

Satu koper kecil berpindah tangan,

Menghapus lelah, membungkus kesetiaan.

Dua puluh juta rupiah, angka yang manis,

Cukup membungkam idealisme yang sinis.

Malamnya di kafe, tawa pun pecah,

Uang haram itu dibagi tanpa resah.

“Ini jatahmu, ini jatah kita,”

Katamu bangga, melupakan jelata.

Demonstrasi siang tadi hanyalah panggung,

Tempat sandiwara yang sengaja diagung.

Kau tukar suara rakyat demi seonggok rupiah,

Membuat perjuangan suci ini menjadi sampah.

Sumpah mahasiswa kini tinggal slogan mati,

Tergadai murah oleh ambisi dan gengsi.

Katanya agen perubahan yang paling murni,

Ternyata cuma boneka yang mudah dibeli.

Kau kenyang hari ini dari uang suapan,

Sambil meraba nurani yang mulai kesepian.

Besok kau akan turun ke jalan lagi,

Menjual suara dengan harga yang lebih tinggi.(*)

Back to top button