Puisi

Catatan Kegelapan di Negeri Batu Bara

Di sebuah negeri yang konon bertabur berkah dan cahaya,

Kami justru belajar membaca tanda-tanda kegelapan yang setia.

Listrik mengalir seperti nafas yang sekarat: sejenak hidup, sejenak mati,

Meninggalkan jutaan manusia dalam ketidakpastian yang mengepung hati.

Katanya batu bara kita melimpah, menggunung di perut bumi nusantara,

Nyatanya tungku-tungku pembangkit kekurangan asupan, menganga tanpa daya.

Sungguh ironi yang menusuk ulu hati sebuah bangsa yang besar,

Menjadi pengekspor batu bara nomor satu dunia, tapi listrik domestik pudar berbinar.

“Byar-pet” telah menjadi irama paksaan di waktu malam,

Ketika anak-anak gagal belajar dan ruang keluarga tenggelam dalam kelam.

Juru bicara berdalih: “Ini pemeliharaan, ini perbaikan berkala,”

Padahal kita tahu, itu cuma topeng dari salah urus yang merajalela.

Lembar-lembar permohonan maaf dicetak dengan tata bahasa yang rapi,

Namun esok hari, pemadaman yang sama terulang tanpa rasa ngeri.

Rakyat sudah muak, perkakas rumah tangga hangus dan rusak,

Jerit frustrasi terdengar dari dapur-dapur warga yang kian sesak.

Pabrik-pabrik berhenti berputar, industri mengamuk menanggung rugi,

Roda ekonomi tersendat, dihantam badai kelalaian yang tak bertepi.

Tapi dari balik meja birokrasi, seribu satu alasan selalu pandai ditenun,

Sementara peradaban kita merangkak dalam gelap, tahun demi tahun.

Andra Nuryadi

Check Also
Close
Back to top button