
Dalam diskusi itu, Tiyo berujar: “Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun.”
Oleh : Prof. Ana Nadhya Abrar*

JERNIH–Dalam menjalani hidup kuliahnya, aktivis mahasiswa tidak sekadar ingin memperoleh pengetahuan dan bisa bertahan dalam berbagai situasi. Mereka juga ingin eksis. Agar bisa eksis, mereka harus memberikan respons terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.
Kalau mereka sukses memberikan respons, mereka bisa disebut mempraktikkan adagium respondeo ergo sum—aku merespons, maka aku ada.
Tiyo Ardianto adalah aktivis mahasiswa. Jabatannya ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM. Dalam posisi ini, Tiyo merespons masalah riil dalam masyarakat. Dia menyampaikan pendapatnya tentang tragedi siswa SD yang bunuh diri di NTT. Dia juga mengkritik anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai Rp 335 triliun. Dia menuliskan semua tanggapannya itu dalam sebuah surat dan mengirimkannya kepada sebuah badan PBB, UNICEF.
Maka Tiyo bisa disebut punya kesadaran eksistensial tentang dirinya. Namun, sebagai manusia, Tiyo tetap saja usil dan iseng. Pada bagian akhir suratnya untuk UNICEF dia menulis: Help us to tell Prabowo Subianto how stupid he is as president.
Karena keusilan dan keisengan itu, masyarakat ramai membahas Tiyo. Ada yang bilang Tiyo menyerang Presiden Prabowo. Ada juga yang bilang Tiyo menghina Presiden Prabowo. Namun, ada pula yang bilang Tiyo hanya mengkritik Presiden Prabowo.
Untuk menjelaskan apa sebenarnya yang disampaikan Tiyo, Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) mengundang Tiyo untuk berdiskusi pada 17 Februari 2026. Dalam diskusi itu, Tiyo berujar: “Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun.”
Melalui ujaran itu, sebenarnya Tiyo mengkritik pemerintah. Apakah Tiyo salah? Jawabannya tentu tergantung dari perspektif yang Anda gunakan. Kalau Anda seorang pendidik, tentu Anda akan mengatakan Tiyo tidak salah. “Tiyo memiliki kesadaran kritis. Dia menyampaikannya kepada publik dengan keyakinan agar bisa membangun rasionalitas masyarakat”.
Kalau Anda seorang politisi, tentu Anda akan mengatakan Tiyo sudah terlibat politik praktis. “Dia mesti memperoleh sanksi dari UGM. Kalau dibiarkan,ini akan jadi preseden buruk buat UGM.”
Kalau Anda seorang wartawan, tentu Anda akan mengatakan Tiyo adalah saksi eksistensial ide. “Dia sudah menemukan kesimpulan dari premis yang ada. Ia menyampaikan klaim yang perlu dibuktikan.”
Taruh kata ada wartawan yang tergerak untuk membuktikan klaim Tiyo itu. Hasilnya ternyata benar. Lalu, bagaimana kita harus menyikapi Tiyo? Apakah kita akan membiarkan Tiyo diteror?
Mengikuti pengakuan Tiyo, usai mengirimkan surat ke UNICEF itu, Tiyo diteror. Katanya: “Mulai tanggal 9 Februari, ada teror yang beruntun dari nomor-nomor yang tidak dikenal dengan kontak Inggris Raya. Jadi bukan +62 tapi +44. Nadanya sejak awal adalah ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing. Mereka juga mengancam penculikan, seperti dilaporkan Tribune.Trends.com, 17 Februari 2026.”
Tentu saja kita tidak akan mentoleransi teror terhadap Tiyo. Soalnya, Tiyo mengamati realitas. Dia tidak hanya berhenti di situ. Dia melakukan transendensi terhadap realitas itu. Dia menghubungkan realitas itu dengan sesuatu yang lebih besar, kebijakan Presiden Prabowo. Hasilnya, dia bisa mengkritik kebijakan Presiden Prabowo.
Dari sisi penalaran logis, apa yang dilakukan Tiyo sudah benar. Dia sudah melewati batas-batas dirinya sendiri. Dia tidak berasyik-asyik dengan dirinya sendiri. Dia sudah menghubungkan keberadaan dirinya dengan sesuatu yang lebih besar.
Dalam konteks ini, sebenarnya Tiyo bisa menjadi teladan buat aktivis mahasiswa lain. Hanya saja sikap usil dan iseng Tiyo bisa mengganggu pendukung dan pengikut Presiden Prabowo. Ia bahkan bisa menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan mereka.
Namun, manusia, kata Fuad Hassan (2001), tidak bisa menghindari keusilan dan keisengannya. Justru dengan menunjukkan keusilan dengan keisengan itulah manusia melihat dunianya dari sudut pandang dirinya sendiri. Bila dikaitkan dengan posisi Tiyo sebagai aktivis mahasiswa, keusilan dan keisengan merupakan makna yang melekat pada diri Tiyo agar bisa disebut mempraktikkan respondeo ergo sum. [ ]
*Guru Besar Jurnalisme UGM






