
Bila dilihat lebih jauh, ternyata tidak hanya Presiden Trump yang jadi presiden bebas saat menjadi presiden. Ada lagi presiden bebas yang mirip Presiden Trump. Dia bebas melakukan apa saja selama sepuluh tahun menjadi presiden. Siapakah dia gerangan? Dialah Jokowi. Selama sepuluh tahun jadi Presiden Indonesia, dia berbuat sesuka dia (seenak udel).
Oleh : Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Sejak awal tahun 2026, Presiden AS Donald Trump mulai menunjukkan keinginannya untuk mengembalikan kejayaan Amerika Serikat. Dia ingin memuaskan obsesinya: make Amerika great again. Dia memulainya dengan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di negaranya sendiri.
Kini dia sedang merancang untuk menyerang Greenland, daerah otonom di dalam Kerajaan Denmark. Alasannya sangat patriotik: untuk mencegah agar Rusia dan Cina tidak merebut Greenland. Namun, tidak diperoleh kejelasan apakah Rusia dan Cina memang tertarik untuk menginvasi Greenland.
Yang jelas, Presiden Trump juga sedang mempertimbangkan menyerang Iran. Opsi menyerang Iran ini, kata CNN Indonesia, dipicu oleh jumlah korban akibat unjuk rasa di Teheran yang konon berjumlah lebih dari 500 orang per Minggu 11 Januari 2026.
“Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer juga sedang mempertimbangkannya. Kami sedang meninjau beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan,” kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (11/1), seperti dikutip AFP.
Kabar terakhir tentang Presiden Trump disampaikannya melalui media sosial milknya, Truth Social. Di sana, kata CNN Indonesia, 11 Januari 2026, dia mengunggah foto dirinya sebagai “Pejabat Presiden Venezuela”.
Menyimak apa yang sudah dan akan dilakukan Presiden Trump tersebut di atas, sebenarnya dia tidak berusaha mengembalikan kejayaan AS. Sebaliknya, dia sedang menjadikan imperialisme berjaya kembali. Ini tentu saja berbahaya.
Namun, siapa yang bisa mencegah Presiden Trump? Tidak ada! Dia bisa berbuat sesuka hatinya. Dia seolah-olah tidak punya ikatan emosional dengan negara-negara di luar AS, kecuali Israel. Dia tidak terkurung dalam jaringan birokrasi pemerintahnya. Wajar, bila kita menyebutnya presiden bebas.
Bila dilihat lebih jauh, ternyata tidak hanya Presiden Trump yang jadi presiden bebas saat menjadi presiden. Ada lagi presiden bebas yang mirip Presiden Trump. Dia bebas melakukan apa saja selama sepuluh tahun menjadi presiden. Siapakah dia gerangan?
Dialah Jokowi. Selama sepuluh tahun jadi Presiden Indonesia, dia berbuat sesuka dia (seenak udel). Dia bebas berbuat apa yang dia inginkan. Semua orang, mulai dari politikus, mahasiswa, pengusaha, dan pejabat pemerintah seolah-olah tersihir. Mereka hanya membisu. Ini ditegaskan oleh manusia merdeka, Said Didu, dengan mengatakan: “Sepuluh tahun dinasti Jokowi seakan bebas lakukan apa saja di NKRI”, seperti dikutip netral.news.com, 8 September 2024.
Setelah berhenti menjadi presiden, Jokowi tetap menjadi manusia bebas. Dia adukan para pengkritik ijazah S1-nya. Tidak lama kemudian para pengkritik itu jadi tersangka. Anehnya, dua dari delapan tersangka itu diterima Jokowi dengan suka cita dan hangat di rumahnya.
Kecuali itu, Jokowi bebas menyampaikan pesan apa saja yang terkait dengan kehidupan politik di Indonesia. Lucunya, pesan itu, sekalipun tidak masuk akal, jadi bahan berita juga. Beritanya kelak disiarkan juga di media massa dan media online. Lebih dari itu, dia tidak sungkan menerima kunjungan menteri yang dulu pernah menjadi anggota kabinetnya. Di berpura-pura menjadi presiden.
Apakah sebutan presiden bebas untuk Presiden Trump dan Jokowi itu keliru? Secara praktis presiden bebas adalah presiden yang berani bicara atas namanya sendiri. Dia tidak berlindung di balik ketiak orang lain. Dia tidak tergantung pada restu atasannya. Dia tidak mengharapkan petunjuk siapa saja. Dari sisi ini, tidak ada yang salah dengan predikat presiden bebas yang disematkan kepada Presiden Trump dan Jokowi. Menggunakan istilah Gen Z, mereka malah keren.
Namun, dari segi kepemimpinan, keduanya keliru. Mereka tidak berorientasi kepada nilai-nilai yang memberi hidup manusia wajar di masa depan. Mereka abai terhadap hak asasi manusia (HAM). Mereka tidak memiliki komitmen pada perangkat aturan dan hukum-hukum yang jelas (Khusus untuk Presiden Trump, tentu saja hukum-hukum internasional). Mereka tidak peduli dampak negatif yang dirasakan masyarakat terdampak kebijakannya.
Bagaimana dengan nilai kemanusiaan yang proporsional? Nilai kemanusiaan yang proporsional, kata Baptista Mondin, terdiri atas nilai intelektual dan emosional. Nilai intelektual mengacu kepada sikap waspada terhadap bujukan sewenang-wenang. Gentar terhadap ancaman pemakzulan. Berhati-hati terhadap fanatisme yang mengutamakan satu ras dan menentang rasa lain.
Sedangkan nilai emosional yang proporsional merujuk kepada rasa malu bila tidak mampu melindungi yang miskin dan tertindas. Tidak merasa bangga terhadap prestasi yang dicapai dalam memajukan negara. Merasa bersalah tidak bersikap adil dalam memberantas korupsi dan kerakusan pengusaha besar. Merasa malu dinilai tidak toleran terhadap mereka yang menderita.
Maka kepemimpinan yang keliru, nilai intelektual dan nilai emosional yang tidak proporsional milik Presiden Trump dan Jokowi-lah yang jadi penyebab mereka disebut presiden bebas. Namun, takdir sudah mengantarkan keduanya menjadi presiden. Mereka mencapai posisi itu setelah melewati proses yang panjang. Khusus untuk Indonesia, dalam proses Jokowi menjadi presiden, kita ikut berperan sebagai peserta Pemilu. Apakah kita bisa dianggap bersalah? [ ]
*Gurubesar Jurnalisme UGM






