SolilokuiVeritas

Renungan Deden Ridwan: Tempat Pulang Bernama BALGA 14

Kadang aku merasa Indonesia ini tidak selalu membutuhkan pidato besar untuk tetap utuh. Kadang bangsa ini justru diselamatkan oleh hal-hal sederhana: kopi hangat, gorengan, meja pingpong, candaan receh, dan orang-orang yang masih mau tertawa bersama tanpa sibuk mencari alasan untuk saling membenci.

JERNIH– Saudaraku. Belakangan ini aku sering merasakan, dunia berjalan terlalu bising. Orang makin mudah marah. Makin mudah curiga. Sedikit berbeda pendapat langsung bermusuhan. Sedikit berbeda pilihan langsung saling menjauh. Media sosial penuh pertengkaran. Percakapan sering berubah menjadi arena saling menjatuhkan.

Dalam suasana seperti itu, aku baru menginsafi satu hal: manusia rupanya tidak cukup hanya memiliki rumah. Manusia juga membutuhkan tempat pulang.

Bukan sekadar bangunan atau alamat di kartu identitas, melainkan ruang tempat dirinya diterima apa adanya. Tempat ia bisa tertawa tanpa takut dihakimi. Tempat ia bisa lelah tanpa harus menjelaskan segalanya.

Dan di zaman sekarang, ruang sederhana seperti itu mulai terasa mahal.

Anehnya, rasa hangat itu justru kutemukan di sebuah komunitas meja pingpong bernama BALGA 14. Bukan persatuan tenis meja (PTM) biasa!

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Cuma meja hijau. Bola kecil. Net tipis. Orang-orang berkeringat sejak pagi. Tetapi di situlah banyak manusia diam-diam sedang menyelamatkan dirinya dari kesepian.

Suasana biasanya mulai hidup ketika bunyi itu terdengar: Tak… tik… tuk… tak… tik… tuk… Lalu disusul suara teriakanku yang mungkin lebih terkenal daripada kualitas permainan pingpongku sendiri: “Huuu…Haaaa! Huu …Haaa!”

Kalau smash sedang masuk semua, teriakanku biasanya makin menjadi-jadi. Kadang selebrasinya lebih panjang daripada reli bolanya sendiri. Rasanya seperti baru saja membawa pulang emas Olimpiade, padahal lawannya cuma tetangga komplek.

Lucunya lagi, beberapa teman justru mengaku rindu suara teriakan itu kalau aku lama tidak main. Katanya: “BALGA kurang lengkap kalau belum dengar “Huu…Haa-nya Kang Deden…”    Tentu saja itu membuatku makin percaya diri. Walau kadang setelah teriak panjang, bolanya malah nyangkut di net.

Tetapi begitulah kami menikmati hidup.  Riuh. Sederhana. Penuh tawa. Bahagia.

Ketahuilah. Di BALGA 14 ada istilah khas yang selalu membuat suasana pecah: “pemain inti” dan “penjaga pelanggan.”  Kalau lagi main bagus lalu menang terus, biasanya langsung dianggap “pemain inti.” Jalannya mulai tegak. Wajahnya serius. Nasihat teknik pukulannya mulai keluar semua.

Tetapi begitu main jelek lalu kalah berturut-turut, mendadak berubah menjadi filsuf kehidupan.

“Ini bukan kalah…”

“Lagi jaga pelanggan…”

Seketika semua tertawa.

Ada pula yang berdalih dengan wajah sangat serius: “Kita ini menjaga semangat kemenangan orang lain…”  Atau: “Kalau semua menang terus, nanti olahraga ini kehilangan nilai kemanusiaannya…”  Aneh memang. Tetapi justru candaan-candaan receh seperti itulah yang membuat BALGA 14 terasa hidup.

Tak ada yang benar-benar tersinggung. Tak ada yang sibuk melindungi gengsi. Sebab di depan meja pingpong itu semua kembali setara: manusia-manusia biasa yang hanya ingin hatinya sedikit lebih ringan.

Di tengah tawa-tawa receh itulah, aku perlahan menyadari sesuatu yang mulai langka di negeri ini. BALGA 14 ternyata bukan sekadar tempat olahraga. Ia pelan-pelan menjelma menjadi ruang sosial. Ruang persaudaraan. Ruang tempat manusia belajar kembali menjadi manusia.

Di sana ada Betawi. Sunda. Jawa. Batak. Tionghoa. Arab. Ada santri. Ada pegawai. Ada pensiunan. Ada pengusaha. Ada orang masjid. Ada pula yang mungkin lebih hafal teknik backhand daripada isi ceramah Jumat. Namun ketika bola mulai menari di atas meja hijau, semua identitas itu perlahan mencair.

Tak ada yang sibuk bertanya: “Pilihan politikmu siapa?” “Ormasmu apa?” “Agamamu apa?” “Sukumu apa?”  Karena di tempat seperti itu manusia akhirnya kembali dinilai dari sesuatu yang jauh lebih penting: apakah kehadirannya membuat orang lain nyaman atau tidak.

Bukankah bangsa ini sebenarnya sedang sangat membutuhkan ruang-ruang seperti itu? Ruang tempat orang bisa duduk bersama tanpa curiga. Ruang tempat perbedaan tidak otomatis berubah menjadi permusuhan. Ruang tempat manusia bisa bercanda tanpa takut dibenci hanya karena pandangannya berbeda.

Kadang aku merasa Indonesia ini tidak selalu membutuhkan pidato besar untuk tetap utuh. Kadang bangsa ini justru diselamatkan oleh hal-hal sederhana: kopi hangat, gorengan, meja pingpong, candaan receh, dan orang-orang yang masih mau tertawa bersama tanpa sibuk mencari alasan untuk saling membenci.

Yang membuatku kagum, BALGA 14 bukan hanya hidup karena bapak-bapak. Ibu-ibunya justru luar biasa aktif. Kompak. Serius latihan. Tetapi tetap membawa suasana hangat yang membuat tempat itu terasa ibarat rumah sendiri.

Kalau ibu-ibu sudah datang, suasana biasanya langsung berubah: lebih ramai, lebih hidup, dan tentu saja… lebih banyak makanan.

Di balik semua itu, ada orang-orang yang diam-diam menjaga nyala kebersamaan itu tetap hidup. Ada Pak Tris Budi Mindarto—Pak Totok—yang bukan sekadar ketua, melainkan penggerak rasa memiliki. Ada Pak Malhan—yang sering kujuluki “Syaikh Malhan.” Seorang kiai sekaligus Ketua RW 014. Namun di BALGA 14 beliau hadir bukan sebagai tokoh yang menciptakan jarak, melainkan bak sahabat lama yang membuat siapa pun merasa diterima.

Sepakat. Sesungguhnya kekuatan BALGA 14 memang tidak terletak pada satu atau dua orang. Kedahsyatan itu lahir dari kebersamaan. Dari manusia biasa yang masih saling menyapa, sementara dunia kian sibuk menciptakan jarak.

Mungkin memang begitulah manusia. Pada akhirnya kita semua akan mencari tempat pulang. Tempat nama kita dipanggil dengan akrab. Tempat tawa terasa tulus. Tempat kehadiran kita dirindukan, bukan sekadar dihitung.

Suatu pagi nanti, ketika matahari baru naik di Pamulang Permai 1, ketika embun belum sepenuhnya hilang dari ujung daun, ketika kopi mulai mengepul pelan di sudut meja, bola-bola kecil itu tampaknya akan kembali menari di atas meja hijau.

Tak… tik… tuk.. tak… tik… tuk…

Lalu suara itu bergema pecah ke udara: “Huuu…Haaa!  Huu! Haa!…”

Tawa menyambutnya. Orang-orang kembali berkumpul tanpa curiga. Tanpa kebencian. Tanpa merasa paling benar sendiri.

Di tempat sederhana seperti itulah, bangsa ini diam-diam masih belajar bertahan. Bukan semata karena pidato para pemimpin. Bukan pula karena gemuruh politik yang tiap hari memenuhi layar televisi. Akan tetapi karena masih ada sudut-sudut kecil tempat manusia tetap mau duduk bersama. Masih ada kopi yang dibagi sambil tertawa. Masih ada tangan yang saling menepuk bahu setelah kalah bermain. Masih ada suara gaduh yang justru membuat hati terasa pulang.

Wahai saudaraku, renungkanlah. Selama tempat-tempat kecil laksana BALGA 14 masih hidup, harapan tentang Indonesia yang keren, hangat, dan guyub tampaknya belum benar-benar hilang.[]

Back to top button