Solilokui

Sukses Pemimpin

Untuk negara seluas, sebesar dan semajemuk Indonesia diperlukan kepemimpinan negarawan yang memiliki keluasan mentalitas dan tanggung jawab yang lebih besar, melampaui kepentingan ambisinya sendiri.

Oleh   :  Yudi Latif

JERNIH– Saudaraku, yang tersulit dalam melewati ujian hidup itu bukanlah mengejar sukses manusia sebagai  individu, melainkan sukses manusia sebagai masyarakat.

Yudi Latif

Kumpulan individu sukses belum  tentu melahirkan masyarakat sukses, karena masyarakat sebagai entitas  kolektif lebih dari total penjumlahan orang per orang. Sukses masyarakat  memerlukan penyatuan dan koherensi sukses individu ke dalam cita-cita, konsepsi, pranata, gerak, dan maslahat bersama.

Demi sukses masyarakat, individu yang sukses di suatu bidang kadang dituntut  bisa  menahan  diri  untuk tidak mengambil  peran  yang dapat menghambat sukses masyarakat.  Pengusaha yang sukses belum tentu bisa jadi  pemimpin  politik  yang  sukses.

Dalam  memimpin perusahaan, sukses seseorang diukur dari keberhasilan memperjuangkan kepentingan-keuntungan perusahaannya.  Dalam  politik,  sukses seseorang  diukur  dari keberhasilan memperjuangkan  kepentingan-keuntungan  seluruh  rakyat,  yang bisa jadi  menuntut  pengorbanan perusahaannya sendiri.

Dalam memimpin perusahaan, kesuksesan bisa diraih dengan kecerdikan menginvestasikan  uang.  Dalam  politik,  sukses  masyarakat  justru memerlukan  batas  moral  penetrasi  uang.

Begitu pun artis terkenal, bahkan lulusan terbaik universitas ternama luar negeri, tak otomatis pantas memangku jabatan politik, tanpa kecukupan jam terbang dalam urusan sosial kebangsaan. Dalam kehidupan publik ditandai oleh retakan dan ketidakadilan sosial, modal kepemimpinan yang diperlukan adalah kemampuan merawat persatuan dan keadilan.

Untuk negara seluas, sebesar dan semajemuk Indonesia diperlukan kepemimpinan negarawan yang memiliki keluasan mentalitas dan tanggung jawab yang lebih besar, melampaui kepentingan ambisinya sendiri.

Agar  bisa melayani kepentingan umum, seorang pemimpin harus bisa ber-“puasa” dari godaan nafsu “al-takâtsur” (gila harta, kuasa, hormat,  popularitas) yang tak ada habisnya hingga masuk liang lahat.

Bagi  pemimpin  sejati,  kebahagiaan  tertinggi terletak dalam kemampuan merengkuh makna terluhur kekuasaan  sebagai amanah  Tuhan dan rakyat dalam rangka memperjuangkan kebajikan dan kebahagiaan hidup bersama. [ ]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close