Spiritus

Ribuan Warga Palestina Salat Subuh  di Masjid Al-Aqsa setelah Larangan 40 Hari yang Diberlakukan Israel

  • Di saat Lebanon masih membara, ada secercah pemandangan yang mengharukan dari Yerusalem Timur. Setelah 40 hari “sepi” dan terkunci, Al-Aqsa kembali bergema.
  • Namun, kegembiraan di Al-Aqsa tidak dirasakan secara merata di wilayah pendudukan lainnya. Di Tepi Barat, operasi militer Israel justru terus meningkat.

JERNIH – Untuk pertama kalinya dalam 40 hari, gerbang-gerbang besi yang biasanya dijaga ketat polisi Israel mulai terbuka lebar. Aliran manusia mengalir pelan namun pasti, menembus lorong-lorong batu menuju pelataran Masjid Al-Aqsa.

Ini adalah momen yang dinanti ribuan umat Muslim Palestina sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu. Setelah 40 hari dilarang total menginjakkan kaki di situs tersuci ketiga umat Islam tersebut, fajar kali ini membawa kabar kemenangan spiritual.

Berdasarkan verifikasi video dari Al Jazeera, sekitar 3.000 jemaah memadati area masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Pemandangan ini sangat kontras dengan pemandangan enam minggu terakhir, di mana situs-situs suci—baik Islam, Kristen, maupun Yahudi—seolah menjadi kota mati akibat pembatasan ketat pasca-pecahnya perang regional pada 28 Februari.

Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mengonfirmasi bahwa seluruh pintu Al-Aqsa kini terbuka kembali. Relawan dan petugas kebersihan tampak sibuk sejak Rabu malam, membersihkan karpet dan pelataran demi menyambut jemaah yang “haus” akan ibadah di kiblat pertama tersebut.

Pembatasan selama 40 hari ini meninggalkan luka mendalam. Untuk pertama kalinya sejak pendudukan Yerusalem Timur tahun 1967, otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Idulfitri di Al-Aqsa tahun ini. Perayaan Prapaskah, Paskah Barat, hingga Paskah Yahudi (Passover) pun terasa hambar tanpa akses ke situs suci.

Namun, pencabutan blokade ini datang tepat waktu bagi umat Kristen Ortodoks yang akan merayakan Paskah pada hari Minggu esok. Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre) juga dilaporkan telah dibuka kembali untuk umum.

Polisi Israel menyatakan pembukaan ini mengikuti “instruksi terbaru dari Komando Front Dalam Negeri”. Meski demikian, ratusan petugas kepolisian dan penjaga perbatasan tetap disiagakan di setiap sudut Kota Tua dengan alasan “mengamankan pengunjung”.

Namun, kegembiraan di Al-Aqsa tidak dirasakan secara merata di wilayah pendudukan lainnya. Di Tepi Barat, operasi militer Israel justru terus meningkat. Di Nablus dan Jenin, pasukan Israel dilaporkan melakukan penyerangan fajar, menahan sejumlah warga, dan merusak properti di desa Ya’bad.

Sementara itu seorang pemuda Palestina berusia 28 tahun, Alaa Khaled Mohammed Sbeih, tewas ditembak pasukan Israel di utara Tepi Barat pada Rabu malam. Militer Israel mengeklaim penembakan dilakukan oleh tentara yang sedang tidak bertugas terhadap seorang “pelempar batu”.

Data dari OCHA PBB menunjukkan statistik yang mengerikan. Lebih dari 1.100 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat sejak 2023 akibat serangan pasukan Israel dan pemukim, dengan 10.000 lainnya kehilangan tempat tinggal.

Pembukaan Al-Aqsa mungkin menjadi oase kecil di tengah gurun konflik regional yang sedang melibatkan Iran dan Lebanon. Bagi warga Palestina, bisa kembali bersujud di bawah kubah emas adalah sebuah kemenangan kecil atas kedaulatan spiritual mereka.

Namun, dengan bayang-bayang serangan di Tepi Barat dan agresi yang masih berlangsung di Gaza serta Lebanon, “kebebasan” di Al-Aqsa ini dirasakan sebagai gencatan senjata batin yang sangat rapuh.

Back to top button