
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang darah. Masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala klinis seperti demam tinggi dan menggigil secara berkala, sakit kepala hebat serta nyeri pada otot tangan dan kaki.
JERNIH – Indonesia menghadapi tantangan besar dalam sektor kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan lonjakan tajam kasus malaria yang mencapai lebih dari 700.000 kasus sepanjang tahun 2025. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 543.000 kasus.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, mengungkapkan bahwa mobilitas penduduk yang tinggi dan anomali cuaca menjadi faktor utama di balik pesatnya penyebaran penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles betina ini.
Dalam konferensi pers menyambut Hari Malaria Sedunia 2026, Kamis (30/4/2026), dr. Prima memaparkan fakta mengejutkan bahwa wilayah Papua menyumbang 95 persen dari total kasus nasional.
“Papua masih menjadi yang tertinggi. Tantangan eliminasi di sana sangat berat karena kondisi geografis yang sulit dijangkau, ditambah lagi tantangan pembiayaan akibat efisiensi anggaran saat ini,” jelas dr. Prima.
Meski terjadi lonjakan kasus secara total, pemerintah mengeklaim adanya kemajuan dalam proses eliminasi di tingkat daerah. Saat ini, sebanyak 412 dari 512 kabupaten/kota (sekitar 80%) di Indonesia telah dinyatakan bebas dari malaria.
Target besar pemerintah tetap tidak berubah: Indonesia harus mencapai eliminasi malaria total pada tahun 2030. Untuk itu, Kemenkes kini berfokus pada daerah pelosok dan lingkungan khusus, seperti komunitas yang beraktivitas di dalam hutan yang selama ini sulit dijangkau layanan kesehatan konvensional.
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang darah. Masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala klinis seperti demam tinggi dan menggigil secara berkala, sakit kepala hebat serta nyeri pada otot tangan dan kaki.
Kelompok yang paling berisiko adalah warga yang tinggal di daerah endemis, mereka yang bermukim di dekat genangan air, serta masyarakat yang sering beraktivitas di luar ruangan pada malam hari.
Kemenkes kini tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga memperkuat pencegahan berbasis lingkungan dan perubahan perilaku masyarakat melalui intervensi biologi dengan mencetah penyebaran larvasida, pelepasan ikan pemakan jentik, dan penanaman tanaman pengusir nyamuk seperti serai dan lavender.
Pemerintah juga melakukan proteksi fisik dengan distribusi kelambu di daerah endemis tinggi dan pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah. Tak hanya, juga dilakukan surveilans migrasi dengan melakukan penyelidikan epidemiologi bagi warga yang berpindah dari daerah endemis ke daerah rendah kasus guna mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB).
Dr. Prima menegaskan bahwa eliminasi malaria mustahil tercapai jika hanya mengandalkan sektor kesehatan. “Perlu kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat eliminasi. Kita mengutamakan pengendalian faktor risiko dan surveilans vektor yang ketat,” tambahnya.






