
Dunia menahan napas saat Teheran bergejolak. Pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang mengguncang kawasan, muncul sosok bertangan dingin dari pusat keagamaan Qom: Ayatollah Alireza Arafi.
WWW.JERNIH.CO – Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Maret 2026 akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel telah memicu transisi kepemimpinan paling kritis dalam sejarah Republik Islam Iran.
Di tengah ketidakpastian ini, nama Ayatollah Alireza Arafi muncul sebagai sosok sentral. Ia ditunjuk sebagai bagian dari Dewan Kepemimpinan Sementara yang bertugas menjalankan fungsi Pemimpin Tertinggi hingga Majelis Pakar (Assembly of Experts) memilih penerus tetap.
Ayatollah Alireza Arafi lahir pada tahun 1959 di Meybod, Provinsi Yazd. Ia berasal dari keluarga ulama terpandang; ayahnya, Ayatollah Mohammad Ibrahim Arafi, dikenal sebagai sahabat dekat pendiri revolusi, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sejak usia 11 tahun, Arafi telah mendalami pendidikan teologi di Qom, pusat spiritual Syiah, di bawah bimbingan ulama-ulama besar seperti Grand Ayatollah Vahid Khorasani.
Arafi bukan hanya seorang ulama tradisional. Ia memegang gelar Mujtahid, tingkatan tertinggi yang memungkinkannya mengeluarkan fatwa secara mandiri. Ia juga dikenal sebagai intelektual yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, serta telah menulis lebih dari 24 buku yang mencakup topik yurisprudensi Islam, filsafat, hingga pendidikan modern.
Karier Arafi meroket karena kepercayaan besar yang diberikan mendiang Khamenei kepadanya. Ia sering dianggap sebagai “arsitek birokrasi” yang bertugas menginternasionalisasi ideologi revolusi Iran.
Beberapa posisi strategis yang pernah dan sedang dijabatnya meliputi Kepala Seminari Nasional Iran dimana ia mengelola seluruh sistem pendidikan ulama di Iran.
Ia juga sempat menjabat Rektor Universitas Internasional Al-Mustafa (2009–2018). Lembaga ini memiliki jaringan global untuk melatih ulama non-Iran dan menyebarkan ajaran Syiah di luar negeri. Arafi tercatat pula sebagai anggota Dewan Penjaga (Guardian Council), lembaga kuat yang menyaring kandidat pemilu dan memastikan undang-undang sesuai dengan hukum Islam.
Ia pun seorang Imam Shalat Jumat di Qom, yang merupakan posisi prestisius yang menjadikannya suara resmi rezim di jantung keagamaan Iran.
Dalam pidato resminya setelah penunjukan sebagai pemimpin sementara, Arafi menggambarkan tewasnya Khamenei sebagai “kejahatan bersejarah” yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Ia menegaskan bahwa meskipun Iran kehilangan pemimpin tertingginya, fondasi sistem Velayat-e Faqih (Pemerintahan Ulama) tetap kokoh.
Arafi menekankan pentingnya stabilitas internal dan solidaritas nasional untuk mencegah kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan oleh pihak asing. Bagi Arafi, Iran saat ini berada dalam fase “revolusi yang lebih aktif,” di mana seminari-seminari dan lembaga negara harus bersinergi untuk mempertahankan kedaulatan negara dari tekanan eksternal.
Sebagai tokoh bergaris keras (hardliner), Arafi menyampaikan pesan yang sangat konfrontatif terhadap Washington dan Tel Aviv. Ia menyebut serangan yang menewaskan Khamenei sebagai deklarasi perang terbuka yang telah melewati “garis merah” terakhir.
Arafi bahkan bersumpah bahwa Iran memiliki “hak sah” untuk membalas para pelaku dan otak di balik serangan tersebut. Ia memperingatkan bahwa “api kemarahan rakyat Iran” akan menjangkau aset-aset AS di kawasan dan pusat-pusat strategis Israel.
Mengingat latar belakangnya di Universitas Al-Mustafa, Arafi menjanjikan mobilisasi “Front Perlawanan” secara global, mengisyaratkan bahwa proksi-proksi Iran akan meningkatkan intensitas serangan mereka.
Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan sementara, tidak akan ada ruang untuk negosiasi atau konsesi diplomasi dengan negara-negara yang ia sebut sebagai “entitas kriminal.” (*)
BACA JUGA: Pasca-Tewasnya Khamenei, Tiga Pejabat Tinggi Pimpin Masa Transisi di Iran






