DesportareVeritas

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Menang tapi Tak Menawan, Mengapa Brasil Belum Mencapai Standar Jogo Bonito?

Secara permainan, Selecao asuhan Carlo Ancelotti dinilai masih kaku, monoton, dan kehilangan kreativitas asli khas Brasil. Sektor mana saja yang harus segera dibenahi sebelum fase gugur?

WWW.JERNIH.CO –  Perjalanan tim nasional Brasil di fase grup Piala Dunia 2026 sejauh ini menghadirkan dua wajah yang bertolak belakang. Setelah sempat ditahan imbang 1-1 oleh Maroko pada laga pembuka di New York, anak asuh Carlo Ancelotti berhasil bangkit dan menggilas Haiti dengan skor telak 3-0 di Philadelphia.

Kendati mengantongi empat poin dan memuncaki klasemen Grup C, sebuah pertanyaan besar tetap mengemuka di kalangan pencinta sepak bola dunia: Apakah performa Selecao saat ini sudah sesuai dengan standar emas permainan Brasil yang sesungguhnya?

Jika standarnya adalah kemenangan, hasil melawan Haiti tentu memuaskan. Namun, jika tolok ukurnya adalah identitas asli Brasil—permainan menyerang yang cair, penuh kreativitas, dominan, dan dikenal sebagai Jogo Bonito—maka timnas Brasil saat ini jelas belum berada di standar tertingginya.

Pada pertandingan pertama melawan Maroko, kelemahan Brasil terekspos dengan nyata. Absennya Neymar yang belum fit membuat lini tengah dan depan kehilangan dirigen utama.

Brasil tampil gugup, kaku, dan kebobolan lebih dulu oleh gol Ismael Saibari sebelum akhirnya diselamatkan oleh aksi individu Vinícius Júnior. Pelatih Carlo Ancelotti bahkan terang-terangan mengakui bahwa tekanan mental mengenakan jersey kuning legendaris sempat membebani anak asuhnya di laga pembuka.

Memasuki laga kedua kontra Haiti, Brasil memang terlihat jauh lebih mapan. Dua gol dari Matheus Cunha dan satu sumbangan gol dari Vinícius Júnior di babak pertama memastikan tiga poin perdana mereka.

Kendati demikian, laporan taktis dari The Guardian menunjukkan bahwa skema permainan Brasil masih cenderung monoton. Alur bola sering kali mengandalkan penguasaan tempo yang lambat sebelum melepaskan umpan lambung ke belakang garis pertahanan lawan. Strategi ini memang menghasilkan gol, namun juga memicu banyak jebakan offside serta kehilangan bola secara cuma-cuma (cheap turnovers).

Untuk dapat melaju jauh dan merengkuh trofi ke-6 di turnamen ini, ada beberapa aspek kritikal yang wajib dibenahi oleh Ancelotti.

Tanpa kehadiran sosok kreatif di area sentral, transisi menyerang Brasil terlalu bertumpu pada kecepatan sayap seperti Vinícius Júnior. Ketika lawan menumpuk pemain di area luar, lini tengah Brasil kerap kehabisan ide dan terjebak dalam penguasaan bola yang pasif.

Di babak kedua melawan Haiti, Brasil cenderung menurunkan intensitas permainan dan membuang beberapa peluang emas. Salah satunya ketika Vinícius memilih menahan bola terlalu lama di dalam kotak penalti daripada mengesekusinya langsung. Di fase gugur nanti, ketidakefisienan seperti ini bisa berakibat fatal.

Brasil bermain luar biasa di babak pertama melawan Haiti, tetapi membiarkan lawan berkembang dan menerapkan formasi 4-4-2 yang lebih solid di babak kedua. Kelengahan ini bahkan sempat memaksa Alisson Becker melakukan penyelamatan akrobatik di menit-menit akhir dari tendangan jarak jauh pemain Haiti.

Performa Brasil di dua pertandingan ini belum sepenuhnya mencerminkan standar Brasil yang sesungguhnya. Mereka memiliki kedalaman skuad dan talenta individu yang luar biasa—terbukti dari kontribusi krusial Matheus Cunha dan Vinícius—namun sebagai sebuah unit tim, cetak biru permainan (pattern of play) Carlo Ancelotti belum sepenuhnya matang.

Ujian sesungguhnya untuk melihat apakah Brasil sudah kembali ke standar terbaiknya akan tersaji di laga pamungkas grup melawan Skotlandia, di mana determinasi dan kolektivitas tim akan diuji secara maksimal.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Terlalu Andalkan Ronaldo, Portugal Ditahan Kongo

Back to top button