Keji! Israel Kerahkan 23 ‘Derek Pembunuh’ Otomatis untuk Membantai Pengungsi

JERNIH — Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) membongkar taktik keji terbaru Pasukan Pendudukan Israel (IDF) di Jalur Gaza. Militer Israel dilaporkan telah mengerahkan hampir dua lusin derek militer raksasa (military cranes) yang telah dimodifikasi menjadi mesin pembunuh otomatis berkamera dan bersenjata senapan mesin untuk membantai warga sipil dari ketinggian.
Para peneliti HAM di PCHR mendokumentasikan bahwa “derek pembunuh” ini ditempatkan di 23 titik strategis di sepanjang Yellow Line (Garis Kuning)—garis demarkasi yang memisahkan wilayah pendudukan militer Israel dengan sisa wilayah Gaza lainnya.
Berdasarkan investigasi PCHR dan kesaksian jurnalis di lapangan sebagian besar derek militer ini dioperasikan dari jarak jauh (remotely operated) oleh tentara Israel dari dalam bunker aman. Setiap derek dilengkapi dengan kamera pengawas berspesifikasi tinggi untuk memata-matai pergerakan warga sipil, berdampingan dengan senapan mesin otomatis yang siap menyalak kapan saja.
Jurnalis lokal di Gaza, Tamer Nahed, melalui unggahannya di platform X mengungkapkan bahwa derek-derek ini “menembak secara acak dan hampir terus-menerus ke arah tenda pengungsian, jalanan, dan lingkungan padat penduduk.”
PCHR menegaskan bahwa penggunaan teknologi ini merupakan bukti nyata dari kebijakan sistematis Israel untuk menghancurkan ruang hidup warga sipil dan menciptakan lingkungan koersif agar warga Palestina terus-menerus terusir dari tanah mereka.
Sepanjang pekan ini saja sudah beberapa warga Gaza yang menjadi korban derek pembunuh ini. Berdasarkan data UNICEF, seorang anak perempuan berusia 12 tahun ditembak tepat di bagian dadanya oleh senapan mesin yang terpasang di atas derek saat korban sedang berada di dalam tenda pengungsiannya.
Tamer Nahed melaporkan tiga warga sipil—termasuk seorang anak perempuan berusia lima tahun—tewas seketika akibat rentetan peluru nyasar dari derek tersebut di awal pekan ini.
Israel Terus Langgar Gencatan Senjata
Aksi brutal menggunakan derek pembunuh ini terus terjadi di tengah klaim gencatan senjata fiktif yang disepakati sejak Oktober tahun lalu. Otoritas Kesehatan Gaza mencatat, lebih dari 1.000 orang tewas dan 3.165 lainnya terluka hanya dalam kurun waktu sejak kesepakatan damai 10 Oktober tersebut dinyatakan berlaku.
Bahkan pada hari Kamis kemarin, serangan udara baru Israel kembali menewaskan empat orang: tiga orang tewas akibat rudal yang menghantam sebuah mobil di Kota Gaza, dan satu orang lagi ditembak mati di Gaza Tengah.
Agresi tanpa henti ini terjadi justru di saat para mediator internasional tengah berkumpul di Kairo, Mesir, untuk membahas roadmap (peta jalan) perdamaian yang diajukan oleh Donald Trump. Rencana damai tersebut mencakup poin penarikan mundur pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas. Utusan khusus Trump untuk Gaza, Nickolay Mladenov, dilaporkan masih berada dalam fase negosiasi ketat dengan faksi Palestina terkait penonaktifan senjata tersebut.






