
Tiga tahun berjuang dalam koma akibat infeksi langka, kepergian Putri Bajrakitiyabha meninggalkan duka mendalam bagi Thailand. Ini sosok “Putri Hukum” yang paling dicintai rakyat.
WWW.JERNIH.CO – Kabar kondisi kesehatan Putri Mahkota Thailand, Bajrakitiyabha Narendiradebyavati (atau yang akrab disapa Putri Bha), terus menjadi sorotan dunia dan membawa kesedihan mendalam bagi rakyat Thailand. Sang putri akhirnya meninggal dunia.
Sebagai putri tertua dari Raja Maha Vajiralongkorn, sosoknya tak cuma sebagai simbol kerajaan biasa, melainkan pilar reformasi hukum dan perwakilan kemanusiaan yang sangat dicintai.
Tragedi ini bermula pada 15 Desember 2022. Saat itu, Putri Bajrakitiyabha sedang melatih anjing peliharaannya di Distrik Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima, guna mempersiapkan kompetisi militer.
Secara mendadak, sang putri kehilangan kesadaran akibat gangguan ritme jantung (aritmia berat) yang dipicu oleh infeksi bakteri (mikoplasma). Kondisi ini menyebabkan pasokan oksigen ke otak dan organ vitalnya terhenti seketika.
Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Memorial King Chulalongkorn di Bangkok. Sejak hari itu, sang putri berada dalam kondisi koma total dan bergantung sepenuhnya pada alat penunjang hidup.
Selama lebih dari tiga tahun berada di rumah sakit, tim medis kerajaan terus berjuang tanpa henti. Namun, pihak Biro Rumah Tangga Kerajaan mengonfirmasi bahwa kondisinya kian memburuk akibat komplikasi infeksi parah yang tidak terkendali.
Infeksi bakteri tersebut menyebar hingga memicu peradangan pada usus besar serta menyebabkan kegagalan fungsi multiorgan, termasuk paru-paru dan ginjal.

Lahir pada 7 Desember 1978, Putri Bajrakitiyabha (47 tahun) adalah anak tunggal dari pernikahan pertama Raja Vajiralongkorn dengan Putri Soamsawali. Berbeda dengan citra bangsawan tradisional yang cenderung pasif, “Princess Bha” dikenal sebagai sosok intelektual yang sangat progresif.
Ia menempuh pendidikan hukum di universitas top Thailand sebelum akhirnya meraih gelar Doktor Hukum (Ph.D.) dari Cornell University, Amerika Serikat. Kombinasi antara darah bangsawan dan kecerdasan akademis ini membentuknya menjadi salah satu figur paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Bagi masyarakat Thailand, sang putri adalah simbol emansipasi dan keadilan. Ia memegang berbagai peran krusial yang berdampak langsung pada kesejahteraan sosial.
Melalui inisiatif “Kamlangjai” (Inspire), ia mereformasi sistem penjara Thailand agar lebih manusiawi bagi narapidana wanita dan ibu menyusui. Ia juga sukses menginisiasi “Aturan Bangkok” (Bangkok Rules) di PBB, yang menjadi standar global pertama untuk perlakuan terhadap tahanan perempuan.
Ia pernah mengabdi sebagai Jaksa Agung di beberapa provinsi Thailand sebelum diangkat menjadi Duta Besar Thailand untuk Austria (2012–2014) serta bekerja erat dengan UN Women.
Menjelang masa-masa sakitnya, ia menyandang pangkat Jenderal dan menjabat sebagai Kepala Staf Komando Keamanan Kerajaan.
Berdasarkan hukum suksesi Thailand, posisi putra mahkota diutamakan bagi laki-laki. Namun, karena dedikasi dan kecintaannya yang begitu besar dari rakyat, Putri Bajrakitiyabha secara luas dipandang sebagai sosok yang paling layak dan kompeten untuk memimpin monarki Thailand di masa depan.(*)
BACA JUGA: Anutin Charnvirakul Resmi Kembali Pimpin Thailand Menuju Era Stabilitas






