Politeia

Prakasa Rucira Garjita, Museum Penanggulangan Terorisme

DENPASAR – Prakasa Rucira Garjita, merupakan satu-satunya museum penanggulangan terorisme pertama di Indonesia yang terletak di Lapangan Tembak Jalan WR Supratman, Denpasar Timur. Museum itu mengingatkan pada peristiwa Bom Bali 2002 atau kerap disebut Bom Bali I, terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002.

Ada tiga lokasi yang menjadi sasaran aksi tersebut, dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, dan ledakan ketiga dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat. Akibatnya, ratusan korban jiwa dan luka-luka.

Saat meresmikan Prakasa Rucira Garjita, Kapolda Bali, Irjen Pol Petrus Golose, mengatakan museum tersebut untuk mengingat para generasi muda, masyarakat, dan terkhusus rakyat Bali bahwa teroris merupakan musuh rakyat Indonesia, bukan hanya penegak hukum.

Selain itu, untuk mengenang jasa-jasa para penegak hukum yang gugur saat mengamankan serangan teror bom Bali. “Museum ini untuk mengenang apa yang sudah dilakukan para penegak hukum, apa yang sudah dilakukan satgas antiteror Densus 88, BNPT, dan seluruh stakeholder kepolisian daerah,” katanya.

Golose menginggatkan penegakan hukum terutama kepolisian tetap pada bingkainya. Karena itu, museum tersebut dapat dilihat bagaimana pengorbanan polisi dalam bertugas.

“Saya tidak mau seperti zero memorial, kita yang sacrifice kita yang kena masalah, tidak berbuat apa-apa,” kata dia.

Di dalam museum itu, berisikan dokumentasi aksi terorisme sejak tahun 2002 hingga 2019. Bahkan bom Medan yang terjadi pada Rabu (13/11/2019) lalu juga ada. Sejumlah replika dan foto-foto kejadian Bom Bali I dan Bom Bali II juga ada dipajang.

Sekadar diketahui, pasca bom 12 Oktober 2002 kemudian disusul pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil dan bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing.

Setelah itu, para penegak hukum memeriksa puluhan saksi. Bahkan Tim Forensik Australia ikut diterjunkan untuk identifikasi jenazah, guna membantu Kepolisian. Dari tim gabungan menyimpulkan, bom di Paddy’s Pub berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club merupakan bom RDX berbobot antara 50–150 kg. Sementara di dekat konsulat Amerika Serikat menggunakan jenis TNT berbobot kecil yakni 0,5 kg.

Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat Presiden RI, mendesak agar bom Bali itu segera dituntaskan. Hasilnya, tiga sketsa wajah tersangka pengebom dipublikasikan. Lalu pada 5 November 2002, polisi menangkap Amrozi bin Nurhasyim di rumahnya di di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, kemudian diterbangkan ke Bali.

Pada hari berikutnya, satu sketsa wajah dipublikasikan. Abu Bakar Ba’asyir disebut punya hubungan dengan Amrozi. Namun Ba’asyir membantah dan menyebut hal itu sebagai rekayasa pemerintah dan Kepolisian, sebab mendapat tekanan dari pihak luar.

Amrozi akhirnya membeberkan lima orang, yakni Ali Imron, Ali Fauzi, Qomaruddin, M Gufron, dan Mubarok. Mereka merupakan keluarga dimana Muhammad Gufron adalah kakak Amrozi, Ali Imron adik Amrozi, dan Ari Fauzi saudara lain dari ibu kandung Amrozi. Sementara Qomaruddin adalah petugas kehutanan, teman dekat Amrozi di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan.

Tiga orang yang diduga menjadi perakit bom yakni Imam Samudra, Idris, dan Dulmatin menjadi tersangka, bersama Umar alias Wayan, Umar alias Patek, Rahmat, Hermiyanto, dan sejumlah tersangka lainnya lalu ditangkap.

Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron divonis mati. Kemudian mengajukan peninjauan kembali namun ditolak. Pada 9 November 2008, Amrozi dan beberapa orang dieksekusi mati di Nusakambangan. [Fan]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close