POTPOURRI

19 Desember 1948: Titik Penentu Mati Hidupnya Indonesia

JAKARTA—Bahwa hari ini diperingati sebagai Hari Bela Negara, merujuk kepada peringatan deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat, 19 Desember 1948, semua tentu telah mengetahuinya. Namun banyak di antara kita yang lupa, hari ini 71 tahun lalu benar-benar menentukan mati hidupnya negara bernama Indonesia.

Segera setelah agresi militer II Belanda, dua serangkai Soekarno-Hatta pun ditawan. Banyak polemik seputar hal tersebut, terutama soal kecewanya Jenderal Soedirman setelah tahu bahwa Soekarno lebih memilih ditawan dibanding berjuang, memimpin perang gerilya. Namun ada peristiwa yang dalam banyak hal seolah ‘ditekak-tekuk’ para penulis sejarah.      

Umumnya banyak yang menulis dengan ringan bahwa  Soekarno, seiring vakumnya kekuasaan, memberikan mandat penuh kepada Mr. Syafrudin untuk menjalankan pemerintahan dengan membentuk PDRI di Padang, guna menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia. Sebagian sejarahwan menegaskan, sejatinya yang terjadi tidaklah demikian.

Kawat yang dikirimkan Hatta kepada Syafruddin yang saat itu tengah berada di Bukittinggi, tidak prnah sampai. Kawat yang tak sampai itu berbunyi:

“Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra..”

Hanya naluri kepemimpinan dan cinta tanah Air dari Syafruddin yang tengah berada di Bukittinggi itulah yang kemudian menyelamatkan Republik. Sebagaimana Yogya, Bukittinggi adalah pusat komando dan kota politik di Sumatera. Segera saja Mr Syafruddin bersama Komandan Komando Teritorium Sumatera Kolonel Hidayat dan Gubernur Sumatera Teuku Mohamad Hasan, membentuk PDRI. Tempatnya di sebuah rumah kecil di tepi Ngarai Sianok.

Pada 21 Desember, Belanda mulai mengepung Bukittinggi, mencari Syafruddin dkk. Sjafruddin, dalam hujan peluru yang ditembakkan pesawat ‘Cocor Bebek’ Belanda, harus melakukan evakuasi demi meneruskan kepemimpinan negeri. Dalam perjalanan yang terus diintai Si Mustang, Syafruddin dkk berangkat ke Halaban, 33 km dari Bukittinggi.

Tapi bukan taka da perlawanan dari tentara Indonesia. Dari kota Kamang, perwira paling senior di jajaran perwira TNI di Sumatera, Letnan Kolonel Dahlan Djambek, memimpin perlawanan. Dari Sumatera via PDRI itu pula, dunia tahu bahwa Republik Indonesia masih ada. Itu yang membuat dunia menekan Belanda untuk berunding dengan RI.

Sayangnya entah mengapa jasa para tokoh PDRI seperti kurang diapresiasi negeri ini. Seyogyanya urusan politik harus terpinggirkan fakta, bila sejarah memang berkata demikian adanya. [ ]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close