Solilokui

Kunang-kunang, Hotaru dan Singkatnya Hidup

Kunang-kunang yang lemah namun cantik ketika dilihat dalam jumlah besar di hutan pinus atau di padang rumput pada malam hari, seperti perlambang kepedihan kehidupan kita sendiri: singkat dan cepat berlalu, namun memiliki kekuatan, harapan, keindahan. 

Oleh  : Yuliani Liputo

JERNIH– Pada awal musim hujan seperti sekarang, saya dan anak-anak suka duduk di teras belakang menjelang malam, melihat kunang-kunang.

Waktu kecil, mereka pernah benar-benar menangkap beberapa kunang-kunang dan menyimpannya di dalam botol kaca, hanya untuk mencoba membuat lampu kunang-kunang seperti banyak digambarkan dalam komik dan anime, lalu dilepas lagi.

Ada kesan lembut dan halus pada kunang-kunang yang membuatnya amat menarik perhatian. Kelap-kelipnya yang lemah dan terbangnya yang lambat seperti suar bergerak dalam gelap. Daya tarik makhluk bercahaya ini membuat berkembangnya banyak cerita rakyat, mitos, takhayul, dan puisi terkait dengan kunang-kunang dalam berbagai latar budaya.

Yuliani Liputo bersama Karen Armstrong

Di Indonesia, misalnya, dikatakan bahwa kunang-kunang berasal dari kuku orang mati. Di Cina zaman kuno, kunang-kunang diyakini berasal dari pembakaran rumput. Naskah Cina kuno mengisyaratkan bahwa hobi yang populer di musim panas adalah menangkap kunang-kunang dan menaruhnya di kotak transparan, untuk digunakan sebagai lentera. Sedangkan dalam tradisi Victoria, Inggris, ada takhayul bahwa jika kunang-kunang masuk ke dalam rumah berarti tak lama lagi ada yang akan wafat di rumah tersebut.

Kunang-kunang juga sering muncul dalam cerita rakyat pribumi Amerika. Dalam sebuah legenda Suku Apache dikisahkan tentang seekor rubah penipu yang mencoba mencuri api dari desa kunang-kunang. Ekor si rubah terbakar karena dijilat api yang melahap kulit kayu. Rubah melarikan diri dan memberikan kulit kayu itu kepada Elang, yang membawanya terbang dan menyebarkan bara api ke seluruh dunia. Dengan cara itulah Suku Apache pertama kali mengenal api.

Paling menarik adalah di Jepang, yang memiliki kecintaan khusus pada serangga yang mereka sebut “hotaru” ini. Pernah tinggal di Tokyo selama hampir lima tahun, saya bisa menyaksikan betapa musim panas di sana menyengat segenap indera kita. Bunyi tonggeret tanpa henti sepanjang siang, dan rombongan kunang-kunang pada malam hari di sepanjang tepi sungai yang sering saya lalui.

Sejak dahulu pemandangan kunang-kunang pada malam musim panas menjadi pertunjukan yang dinanti-nanti. Hingga kini beberapa tempat di Jepang rutin mengadakan festival kunang-kunang—hotaru matsuri—dengan melepaskan ribuan kunang-kunang yang dalam budaya Jepang diasosiasikan dengan ruh para pejuang yang tewas di medan perang. 

Di Kyoto, misalnya, ada wisata terkenal untuk melihat kunang-kunang di sepanjang ruas jalan yang dijuluki Philosopher’s Path, jalur sempit di tepi sungai kecil yang terhubung ke Danau Biwa di kaki Higashiyama.

Dalam budaya populer ada lagu “Hotaru no Hikari (Cahaya Kunang-kunang)” yang mungkin merupakan salah satu lagu Jepang yang paling dikenal, sering dinyanyikan pada saat perpisahan, seperti pada upacara wisuda, penutupan acara, dan akhir tahun. Ada pula lagu anak-anak terkenal yang berjudul “Hotaru Koi (Kunang-kunang Kemarilah).”

Hotaru juga menginspirasi banyak film dan anime, salah satunya “Grave of Fireflies (Hotaru no Haka)”, produksi Studio Ghibli pada 1988, yang disebut sebagai film anti-perang terbaik yang pernah dibuat.

Ajaran Buddhisme Zen Jepang menjadikan hotaru sebagai salah satu simbol bagi konsep sentralnya tentang singkatnya kehidupan. Dalam Zen, hotaru adalah simbol kesementaraan yang ditafsirkan secara positif. Kunang-kunang yang lemah namun cantik ketika dilihat dalam jumlah besar di hutan pinus atau di padang rumput pada malam hari, seperti perlambang kepedihan kehidupan kita sendiri: singkat dan cepat berlalu, namun memiliki kekuatan, harapan, keindahan. 

Dengan daya tariknya yang lembut dan menyenangkan, tak heran jika kunang-kunang juga kerap digunakan dalam ungkapan puitis dan masuk ke dalam tradisi penulisan haiku. Sejak abad ke-8, dalam antologi Man’you-shu, kunang-kunang telah menjadi metafora untuk kecintaan pada puisi.

Izumi Shikibu, yang dianggap sebagai penyair perempuan terhebat periode Heian, menuliskan haiku berikut untuk melukiskan kerinduan yang dirasakannya pada kekasih yang telah tiada:

    Mengenangmu…

    Kerlip kunang-kunang di lembah

    Bagaikan cahaya kerinduanku

Penyair besar abad ketujuh belas Matsuo Basho mengarahkan perhatiannya pada makhluk kecil dengan masa hidup yang singkat ini, untuk mengingat keterbatasan kita sendiri:

    Kunang-kunang jatuh

    Dari sehelai rumput

    Kembali terbang

Katsura Nobuko (1914–2004) penyair perempuan penulis haiku modern yang puisi-puisi awalnya agak erotis, mengambarkan pertemuan pada suatu malam musim panas:

    Kukenakan kimono longgar

    Untuk menemui dia

    Di malam kunang-kunang

Kunang-kunang dengan sayapnya yang halus adalah pengingat tentang perlunya kepasrahan di hadapan keagungan dan misteri alam semesta. Kobayasi Issa, pendeta Buddhis abad ke-18 yang juga seorang master haiku, menulis 230 puisi tentang kunang-kunang. Dalam salah satu haikunya yang paling terkenal, dia merekam momen keheningan sejenak ketika laju waktu terasa lebih lambat:

    Kunang-kunang berkelip

    Bahkan di dalam mulut katak

    Yang menganga lebar

Haiku-haiku ini mengabadikan momen-momen singkat yang memberi pencerahan dari kehadiran kunang-kunang.  Kerlipnya yang lemah dan singkat sebagaimana tubuh dan hidupnya sendiri, mampu menginspirasi ungkapan puitis dan mengabadi dalam karya berbagai budaya.

Kunang-kunang dalam kelembutan dan kerapuhannya memberi penegasan, betapa berharganya setiap kehidupan yang kita jumpai di tengah semesta, di mana kita pun tak lebih dari sebutir debu.

Bahkan cahayanya yang rapuh dan sekejap dalam kegelapan dapat memicu harapan dan kenangan yang membahagiakan untuk saat ini. [  ]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close