Crispy

Israel Terbukti Gunakan Bom Fosfor Putih di Kawasan Sipil Lebanon

JERNIH – Militer Israel dilaporkan telah menggunakan senjata kimia fosfor putih (white phosphorus) di kawasan padat penduduk di Lebanon Selatan selama operasi ofensifnya yang masih berlangsung. Padahal, hukum internasional secara tegas melarang penggunaan zat kimia tersebut di area pemukiman warga karena efek bakarnya yang mematikan dan sifat serangannya yang tidak pandang bulu (indiscriminate).

Laporan investigasi terbaru dari The New York Times berbasis analisis rekaman video yang dipublikasikan pada Sabtu (6/6/2026) mendapati bahwa zat kimia berbahaya ini telah dijatuhkan di beberapa wilayah Lebanon Selatan dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di sekitar kota-kota besar seperti Tyre dan Nabatieh.

Meskipun militer Israel secara resmi membantah menggunakan fosfor putih dalam proyektil tabir asap mereka, bukti-bukti visual di lapangan menunjukkan hal yang kontras.

Rekaman siaran langsung serta video yang telah diverifikasi oleh tim ahli amunisi menunjukkan pola ledakan udara khas fosfor putih melepaskan serpihan membakar di beberapa titik krusial.

Pekan lalu, amunisi dengan jejak asap putih yang khas terekam dijatuhkan di Kota Arnoun bersamaan dengan bergeraknya pasukan Israel untuk merebut benteng bersejarah Beaufort di dekatnya. Investigasi visual juga memvalidasi penggunaan zat kimia ini di dekat kota-kota berpenduduk mayoritas Syiah seperti Khiam dan Yohmor, serta desa berpenduduk Kristen, Qlayaa.

Lembaga pemantau hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) juga telah mendokumentasikan pelanggaran ini, termasuk laporan pada Maret lalu yang menyatakan Israel secara melawan hukum menggunakan fosfor putih di Yohmor.

Invasi skala besar Israel ke Lebanon Selatan sendiri pecah sejak Maret lalu, menyusul aksi saling serang roket lintas batas pasca-serangan AS-Israel ke Iran. Akibat pengeboman 24 jam non-stop, sebagian besar kota Syiah dekat perbatasan, termasuk Khiam dan Yohmor, kini dilaporkan telah rata dengan tanah setelah direbut oleh pasukan Israel.

Senjata Kimia yang Membakar Kulit dan Organ

Secara teknis militer, fosfor putih sebenarnya umum digunakan untuk membuat tabir asap (smokescreen) atau menerangi medan perang di malam hari. Namun, karakteristik fisiknya membuatnya sangat mematikan jika disalahgunakan sebagai senjata pembakar/

Zat kimia padat ini langsung bereaksi dan terbakar hebat begitu bersentuhan dengan oksigen, menghasilkan panas ekstrem hingga lebih dari 800 derajat Celsius. Kontak langsung dengan manusia akan mengakibatkan luka bakar kimiawi yang sangat dalam hingga menembus tulang dan memicu kegagalan organ.

Ledakannya dapat memicu kebakaran lahan dan merusak bangunan selama berhari-hari. Selain itu, asap tebal yang dihirup dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata dan organ dalam. Militer sering kali meledakkan amunisi ini di udara agar zat beracun tersebut menyebar ke area yang jauh lebih luas, yang justru membuatnya menjadi sangat fatal jika dijatuhkan di atas pemukiman sipil.

Ini bukan pertama kalinya militer Israel kedapatan menggunakan fosfor putih dalam operasi militernya. Israel terbukti menjatuhkan zat kimia ini di lingkungan padat penduduk Gaza dalam perang 2008-2009. HRW mendokumentasikan sekitar 200 amunisi yang menyebabkan puluhan korban jiwa dari pihak sipil.

Meski sempat berjanji akan menghentikan penggunaannya pada tahun 2013, Israel kembali memakai senyawa ini di Lebanon tak lama setelah konflik dengan Hezbollah pecah pasca-serangan 7 Oktober 2023.

Laporan HRW tahun 2024 memverifikasi pengerahan fosfor putih di sedikitnya 17 munisipalitas (daerah tingkat dua) di Lebanon sepanjang periode Oktober 2023 hingga Juni 2024. Pada Desember 2023, laporan investigasi The Washington Post mengungkapkan bahwa sebagian amunisi fosfor putih yang digunakan Israel di Lebanon Selatan dipasok langsung oleh Amerika Serikat.

Back to top button