Crispy

Amazon Akuisisi Globalstar demi Kuasai Angkasa

Amazon caplok raksasa satelit Globalstar senilai Rp 180 triliun guna mewujudkan ambisi Jeff Bezos menghadirkan koneksi internet langsung ke ponsel pintar di seluruh dunia.

WWW.JERNIH.CO – Dunia teknologi kembali diguncang oleh manuver strategis terbaru dari Jeff Bezos. Melalui Amazon, sang raksasa e-commerce dan cloud ini secara resmi mengumumkan kesepakatan akuisisi terhadap Globalstar, Inc., sebuah perusahaan komunikasi satelit terkemuka yang berbasis di Louisiana, Amerika Serikat.

Langkah ini bukan hanya akan menambah aset, melainkan pernyataan perang terbuka di industri internet satelit yang selama ini didominasi oleh SpaceX.

Amazon menyepakati nilai akuisisi yang fantastis, yakni lebih dari Rp180 triliun. Dalam struktur kesepakatan ini, pemegang saham Globalstar diberikan pilihan untuk menerima USD 90 per saham dalam bentuk tunai atau menukarnya dengan saham Amazon. Nilai ini mencerminkan premi yang sangat tinggi—mencapai 117% dari harga pasar sebelumnya—menunjukkan betapa krusialnya Globalstar bagi masa depan Amazon.

Alasan utama Amazon mengakuisisi Globalstar bukanlah jumlah satelitnya yang banyak, melainkan spektrum frekuensi dan pengalaman operasional. Globalstar memiliki lisensi spektrum L-band dan S-band yang sangat berharga secara global. Frekuensi ini adalah “jalur tol” yang memungkinkan layanan Direct-to-Device (D2D), di mana ponsel pintar standar dapat terhubung langsung ke satelit tanpa memerlukan terminal atau antena khusus yang besar.

Selain itu, Globalstar adalah mitra utama Apple. Sejak iPhone 14, Apple menggunakan jaringan Globalstar untuk fitur Emergency SOS dan pengiriman pesan satelit. Dengan membeli Globalstar, Amazon kini memegang kendali atas infrastruktur yang menyokong fitur keamanan krusial milik kompetitor sekaligus mitra potensialnya tersebut.

Melalui akuisisi ini, Amazon mengintegrasikan infrastruktur Globalstar ke dalam Amazon Leo (sebelumnya dikenal sebagai Project Kuiper). Strategi utama Amazon ke depan meliputi:

 Layanan Direct-to-Device (D2D): Amazon menargetkan peluncuran layanan koneksi langsung ke ponsel pada tahun 2028. Ini akan memungkinkan pengguna tetap terhubung meski berada di tengah hutan, laut, atau daerah pelosok yang tidak terjangkau menara seluler (BTS).

Ekosistem IoT dan Logistik: Amazon akan menggunakan jaringan ini untuk melacak armada pengiriman, inventaris, dan perangkat pintar di seluruh dunia secara real-time.

 Kemitraan Strategis: Amazon telah menandatangani perjanjian dengan Apple untuk memastikan layanan darurat iPhone tetap berjalan di bawah naungan infrastruktur Amazon.

Target utama Amazon tidak lain adalah Starlink milik Elon Musk. Saat ini, Starlink memimpin jauh dengan lebih dari 6.000 satelit di orbit dan jutaan pelanggan. Namun, Amazon memiliki keunggulan pada integrasi layanan cloud (AWS) dan ekosistem perangkat konsumen (Kindle, Echo, Fire TV). Dengan Globalstar, Amazon berusaha memangkas waktu pengembangan bertahun-tahun untuk mengejar ketertinggalan teknologi komunikasi seluler satelit.

Reaksi pasar dan pesaing cukup beragam. Saham Globalstar melonjak drastis segera setelah pengumuman, sementara perusahaan pesaing di sektor yang sama, seperti AST SpaceMobile, sempat mengalami penurunan nilai saham karena kekhawatiran akan dominasi Amazon.

Analis melihat langkah ini sebagai konsolidasi besar yang akan memaksa operator telekomunikasi tradisional untuk segera menentukan pihak mana yang akan mereka ajak bekerja sama: faksi Elon Musk atau faksi Jeff Bezos.

Dengan rampungnya akuisisi ini (yang diperkirakan final pada 2027 setelah persetujuan regulasi), peta persaingan ruang angkasa tidak lagi hanya tentang eksplorasi, melainkan tentang siapa yang menguasai sinyal di genggaman tangan setiap manusia di bumi.(*)

BACA JUGA: Blunder ‘Project Dawn’: Amazon Tak Sengaja Bocorkan PHK Massal Lewat Email Nyasar

Back to top button