CrispyDesportare

Bournemouth Adalah Maut Tim Papan Atas dan Hancurkan Impian City

Arsenal, Liverpool, hingga Man City bergantian menjadi korban keganasan Bournemouth musim ini. Menahan imbang City 1-1, The Cherries tidak hanya mencetak sejarah lolos ke Eropa, tapi juga resmi menjadi penentu takhta juara liga.

WWW.JERNIH.CO –  Malam yang krusial di Vitality Stadium pada Selasa, 19 Mei 2026 (Rabu dini hari WIB), resmi menjadi panggung runtuhnya dominasi Manchester City di Premier League musim 2025/2026.

Bertamu ke markas AFC Bournemouth pada pekan ke-37, sang juara bertahan dipaksa bermain imbang 1-1. Hasil satu poin ini merenggut peluang The Citizens untuk membawa perebutan gelar juara ke pekan terakhir, sekaligus memastikan Arsenal keluar sebagai juara Premier League untuk pertama kalinya dalam 22 tahun.

Manchester City yang baru saja menguras energi setelah menundukkan Chelsea di final Piala FA tiga hari sebelumnya, tampil dengan spionase kelelahan yang nyata. Di sisi lain, Bournemouth bermain lepas tanpa beban demi mengamankan tiket kompetisi Eropa pertama sepanjang 127 tahun sejarah klub.

Malapetaka bagi armada Pep Guardiola datang di menit ke-38. Penyerang muda berumur 19 tahun milik Bournemouth, Eli Junior Kroupi, melepaskan tembakan melengkung indah memanfaatkan assist Adrien Truffert yang menembus pojok atas gawang Gianluigi Donnarumma.

Tertinggal 1-0, City mengurung pertahanan tuan rumah. Segala upaya dikerahkan, termasuk memasukkan Rayan Cherki dan Phil Foden di babak kedua.

Kebuntuan baru pecah pada masa injury time (90+6′) ketika tendangan Rodri membentur tiang gawang dan langsung disambar oleh Erling Haaland menjadi gol. Skor berubah 1-1, namun peluit panjang berbunyi tak lama kemudian.

Tangis haru pendukung Bournemouth pecah menyambut sejarah baru ke Eropa, sementara City harus merelakan trofi liga terbang ke London Utara.

Di bawah racikan taktik Andoni Iraola, Bournemouth menjelma sebagai pembunuh raksasa (giant killer) yang paling ditakuti sepanjang musim 2025/2026. Arsenal pernah ditumbangkan 2-1. Liverpool juga dengan skor 3-2. Tottenham malah dua kali digilas. MU dua kali bertemu, dua kali imbang. Senasib dengan Chelsea.

 Hasil imbang melawan City memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 17 pertandingan beruntun di liga. Ada tiga faktor utama mengapa Vitality Stadium menjadi kuburan tim papan atas.

Iraola menerapkan skema high-pressing yang sangat agresif. Tim-tim besar yang gemar membangun serangan dari bawah seperti Man City dan Liverpool kerap kali dibuat frustrasi karena tidak diberikan ruang bernapas.

Bournemouth mengandalkan kecepatan pemain seperti Antoine Semenyo dan kreativitas Kroupi, Bournemouth sangat mematikan dalam serangan balik.

Manajemen cerdas merekrut pemain potensial (seperti kiper Djordje Petrovic dan bek Adrien Truffert) membuat kestabilan taktik Iraola terjaga meski menghadapi jadwal padat.

Seusai laga, Pep Guardiola tidak mencari alasan dan secara jantan memberikan selamat kepada rival terdekat mereka. “Kami memiliki peluang lewat Nico (O’Reilly), lalu ada offside dari Erling. Kami berhasil mencetak gol, tapi itu sudah sangat terlambat. Para pemain telah memberikan segalanya musim ini dan bertarung dalam situasi sulit hingga akhir,” ujar Guardiola.

Pep juga mengakui bahwa kelelahan fisik setelah final Piala FA menjadi faktor pembeda yang membuat City kehilangan ketajaman konvensionalnya.

 “Saya tentu ingin bersaing sampai momen terakhir… tapi hari ini rasa lelah itu sangat terlihat. Atas nama Manchester City, kami mengucapkan selamat kepada Arsenal, Mikel (Arteta), dan para penggemar mereka. Mereka layak mendapatkannya.”

Ketika disinggung mengenai masa depannya di Etihad Stadium—mengingat spekulasi bahwa ini adalah musim terakhirnya—manajer asal Katalan tersebut memilih menghindar dan menyatakan akan berbicara terlebih dahulu dengan jajaran hierarki klub sebelum mengambil keputusan final.(*)

BACA JUGA: Taklukkan Chelsea, Manchester City Juara Piala FA dan Siap Senggol Arsenal

Back to top button