CrispyVeritas

AS Mulai ‘Melunak’ Saat Iran Diam-diam Membangun Kembali Kekuatan Militernya

Para pejabat AS mengakui meskipun digempur pemboman intensif berbulan-bulan dan kehilangan banyak komandan senior, perang ini justru melahirkan musuh yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu mengancam pesawat AS, infrastruktur energi Teluk, hingga keamanan di Selat Hormuz.

JERNIH – Hubungan diplomasi antara Teheran dan Washington kini berada di tengah ketidakpastian yang akut. Kawasan Timur Tengah terus berayun di antara ancaman konfrontasi militer baru dan kesepakatan politik yang rapuh, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap Iran demi memberikan waktu bagi proses negosiasi.

Para analis asal Iran menilai Washington mulai melunakkan sebagian posisi tawar mereka dalam negosiasi. Di sisi lain, para pejabat militer AS justru memperingatkan bahwa Teheran sengaja memanfaatkan masa gencatan senjata satu bulan terakhir untuk memperkuat kembali taji militernya.

Analis Iran, Hadi Mohammadi, mengungkapkan kepada The New Arab bahwa pemahaman awal mulai muncul dalam negosiasi terbaru antara Tehran dan Washington. Kedua belah pihak sepakat untuk mendedikasikan waktu selama 30 hari guna membahas berbagai sengketa yang belum terselesaikan.

Menurut Mohammadi, sejumlah pergeseran sikap yang ditunjukkan oleh kedua negara. Washington dilaporkan mulai “melangkah mundur” dari tuntutan awal mereka yang mengharuskan seluruh material nuklir yang diperkaya dipindahkan sepenuhnya dari Iran ke luar negeri. Sebagai imbalannya, Iran setuju untuk mendiskusikan masa depan cadangan uranium mereka yang telah diperkaya hingga tingkat 60% selama periode negosiasi tersebut.

Selain itu, sanksi minyak mulai longgar. Mohammadi menyebut tidak ada perselisihan besar terkait pelonggaran beberapa sanksi ekonomi, khususnya yang menargetkan sektor minyak Iran. Diskusi juga mencakup tuntutan Iran terkait kompensasi melalui dana rekonstruksi dan pembangunan. Namun, perbedaan pendapat masih tajam mengenai skala dan garis waktu pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.

Intelijen AS Cemas Militer Iran Makin Tangguh

Sikap Washington yang melunak disinyalir kuat berkaitan dengan laporan intelijen militer AS. Pihak Pentagon meyakini bahwa Iran telah menghabiskan masa gencatan senjata selama sebulan ini untuk mengadaptasi taktik tempur mereka guna menghadapi konfrontasi masa depan dengan Amerika Serikat.

Laporan eksklusif The New York Times membeberkan sejumlah temuan krusial di lapangan. Iran berhasil menggali dan membangun kembali sejumlah besar situs rudal balistik yang sebelumnya sempat hancur akibat serangan udara AS. Pasukan Iran juga memindahkan posisi peluncur rudal bergerak (mobile missile launchers) dan memperkuat fasilitas bawah tanah yang dipahat di dalam pegunungan granit.

Dengan potensi bantuan dari Rusia, para komandan Iran dilaporkan telah mempelajari pola penerbangan militer Amerika selama masa gencatan senjata. Insiden jatuhnya jet tempur F-15E serta tembakan darat yang berhasil mengenai jet siluman F-35 milik AS berhasil mengekspos kelemahan taktik penerbangan Amerika yang dinilai kian mudah diprediksi.

Para pejabat AS akhirnya mengakui bahwa meskipun telah digempur pemboman intensif berbulan-bulan dan kehilangan banyak komandan senior, perang ini justru melahirkan musuh yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu mengancam pesawat AS, infrastruktur energi Teluk, hingga keamanan di Selat Hormuz.

3. Di Balik Penundaan Serangan Sabtu Malam oleh Trump

Analis Iran lainnya, Ali Gholhaki, mengungkapkan kepada The New Arab bahwa Presiden Donald Trump sebenarnya sudah “sangat bertekad” untuk meluncurkan serangan besar-besaran pada Sabtu pekan lalu. Namun, serangan itu mendadak ditunda setelah Tehran menerima peringatan dini dari “negara sahabat di kawasan”, yang kemungkinan besar adalah Qatar.

Gholhaki berpendapat penundaan tersebut mencerminkan adanya keraguan besar di internal Washington dan Tel Aviv mengenai apakah target militer mereka benar-benar bisa dicapai di lapangan. Ada ketakutan mendalam mengenai potensi balasan regional yang lebih luas serta keraguan atas kelayakan rencana pembunuhan para pemimpin politik dan militer senior Iran.

Teheran dilaporkan langsung menolak proposal terbaru AS yang mendesak agar kesepakatan komprehensif ditandatangani segera. Sebaliknya, kepemimpinan Iran menetapkan syarat mati sebelum masalah nuklir dibahas secara penuh. Syarat itu menyangkut perang harus dihentikan total, blokade laut terhadap Iran harus dicabut, Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya serta Ekspor minyak Iran diizinkan kembali berjalan normal.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium di bawah Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) adalah harga mati dan “tidak dapat dinegosiasikan”. Iran hanya akan mempertimbangkan pengurangan tingkat pengayaan jika mendapat konsesi atau kompensasi yang signifikan dari Washington.

Di tengah ketegangan ini, Pakistan terus bergerak aktif menjadi penengah pihak-pihak yang bertikai. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Tehran pada Senin malam untuk mendiskusikan upaya mengakhiri perang.

Baghaei membenarkan bahwa negosiasi dengan Washington saat ini terus berjalan melalui mediasi Pakistan, meskipun AS sempat menolak proposal terakhir dari Tehran dan mengembalikan draf amandemen tersebut melalui Islamabad.

Back to top button