AS Siagakan Pesawat B-2 Boomber dari Australia

AS memilih alutsista B-2 Bomber yang berpangkalan di Australia guna mensiagakan serangan masif ke Iran. Itulah alasan mengapa Pete Hegseth begitu nafsu memakai pesawat boros bahan bakar itu.
WWW.JERNIH.CO – Keterlibatan pesawat pembom siluman B-2 Spirit milik Amerika Serikat menjadi elemen kunci yang paling ditakuti. Dalam perang melawan Iran, B-2 merupakan alutsista yang agaknya jadi kunci serangan AS itu.
Dan, pangkalan operasional B-2 Bomber milik AS tersebar di kawaan Asia Pasifik. Itulah mengapa Pete Hegseth mengusulkan untuk membuka akses udara Indonesia secara otomatis berkaitan erat dengan efisiensi operasional monster langit ini.
Meskipun pangkalan utama (home base) B-2 berada di Whiteman Air Force Base, Missouri (AS), pesawat ini beroperasi di Pasifik melalui sistem rotasi Bomber Task Force. Ada empat air base di luar Amerika itu sendiri yang menjadi tumpuan di tahun 2026:

RAAF Base Tindal, Australia Utara: Menjadi pangkalan paling krusial pasca kesepakatan AUKUS. AS telah meningkatkan fasilitas di sini untuk menampung B-2 secara permanen. Pangkalan ini adalah titik tolak utama yang membutuhkan akses udara Indonesia untuk menuju Iran.
Andersen Air Force Base, Guam: Pangkalan garis depan utama di Pasifik Barat. Berfungsi sebagai pusat logistik dan pengisian bahan bakar sebelum B-2 bergerak ke wilayah Asia Tenggara atau Asia Timur.
Diego Garcia (British Indian Ocean Territory): Meskipun secara geografis berada di Samudra Hindia, pangkalan ini adalah “sarang” B-2 untuk menyerang target di Timur Tengah. Dari sini, B-2 tidak perlu melewati Indonesia jika targetnya adalah Iran, namun fleksibilitas dari Australia (Tindal) menjadi alternatif utama jika Diego Garcia terancam.

Joint Base Pearl Harbor-Hickam, Hawaii: Titik transit utama antara daratan AS dan teater operasi di Asia.
B-2 Spirit tetap menjadi pesawat tempur paling canggih dan mahal di dunia (sekitar Rp 35,7 Triliun per unit). Pesawat ini memiliki teknologi siluman (Stealth). Desain flying wing (sayap terbang) tanpa ekor vertikal membuatnya memiliki radar cross-section sekecil burung, sehingga sulit dideteksi sistem pertahanan udara S-300 atau S-400 milik musuh.
Ia juga satu-satunya pesawat yang mampu membawa GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP), bom seberat 13,6 ton (30.000 pon) yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah yang dilapisi beton tebal.
B-2 mampu membawa hingga 18.000 kg amunisi (konvensional maupun nuklir). Karena misi sering berlangsung lebih dari 30 jam, kokpit B-2 dilengkapi dengan kasur lipat kecil dan microwave untuk dua kru yang bertugas.
Hingga April 2026, tercatat B-2 telah melakukan beberapa operasi besar terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa B-2 kembali dikerahkan pada awal Maret 2026 untuk menghantam fasilitas rudal balistik dan peluncur drone Iran sebagai balasan atas serangan yang menewaskan personel AS di Kuwait..
Pesawat B-2 adalah monster yang haus bahan bakar. Konsumsi: B-2 menggunakan empat mesin General Electric F118-GE-100. Dalam misi jarak jauh, B-2 membutuhkan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling) setiap 5 hingga 7 jam sekali.
Penerbangan dari Australia Utara ke Iran tanpa melintasi Indonesia mengharuskan pesawat memutar melewati perairan internasional di selatan, menambah waktu terbang sekitar 4-6 jam.
Dengan melintasi ruang udara Indonesia (garis lurus), AS dapat menghemat puluhan ribu galon bahan bakar per pesawat. Yang lebih penting, ini mengurangi frekuensi pengisian bahan bakar di udara yang berisiko tinggi karena pesawat tanker pengisi bahan bakar lebih mudah dideteksi radar lawan daripada pesawat pembom itu sendiri.(*)






