Crispy

Demo anti-Hijab di Iran Meluas, Presiden Raisi Angkat Bicara, Ayatollah Khamenei Tetap Diam

  • Isu yang diangkat pedemo bukan lagi anti-hijab, tapi anti-Republik Islam Iran.
  • Ebrahim Raisi mengatakan kematian Mahsa Amini adalah tragedi, tapi kekacauan tak bisa diterima.

JERNIH — Dua pekan setelah kematian Mahsa Amini, gadis Kurdi yang tewas di tangan polisi moral akibat mengenakan hijab tak layak, pemerintah Iran mulai mencium bahaya dan angkat bicara.

“Kematian Mahsa Amini adalah tragedi, tapi kekacauan tidak dapat diterima,” kata Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam wawancara dengan TV pemerintah.

Saat wawancara berlangsung, protes dengan kekerasan berlangsung di seluruh negeri. Korban luka berjatuhan, dan penangkapan aktivis terus terjadi.

Pedemo tidak lagi meneriakan simpati kepada Mahsa Amini, tapi menyeru diakhirinya empat dekade kekuasaan ulama.

“Kami semua sedih dengan insiden yang menimpa Mahsa Amini,” kata Raisi. “Namun, garis merah pemerintah adalah keamanan rakyat kita. Orang tidak bisa membiarkan yang lain mengganggu kedamaian masyarakat dengan cara menciptakan kerusuhan.”

Meski jumlah korban terus meningkat dan aparat keamanan Iran makin keras bertindak; menggunakan gas air mata, pentungan, dan dalam beberapa kasus menggunakan peluru tajam, aksi demo sama sekali tak mereda.

Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, seorang pengunjuk rasa berteriak; “Matilah diktator.”

Seorang pengamat mengatakan Republik Islam Iran masih terlalu kuat untuk diruntuhkan dari dalam negeri. Seluruh pemimpin Iran bertekad tidak memperlihatkan kelemahan seperti diperlihatkan rezim Shah Iran tahun 1979.

Semula hanya unjuk rasa simpati atas kematian Mahsa Amini, lalu berkembang menjadi demo anti-hijab, dan kini menjadi gerakan anti-Republik Islam.

Demo sepanjang pekan pertama sejak kematian Mahsa Amini seolah tak mengganggu pemerintah Iran. Presiden Ebrahim Raisi lebih suka sibuk dengan isu-isu internasional, terutama soal perundingan nuklir.

Memasuki pekan kedua, setelah demo menyebar ke lebih dari 80 kota di sekujur Iran, pemerintah Iran mulai bergeming. Ebrahim Raisi memerintahkan penyelidikan atas kematian Amini dan tim forensik akan memberikan laporan penyebab kematiannya dalam beberapa hari mendatang.

Kini, semua orang menunggu pernyataan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi spiritual Iran dan pilar utama Republik Islam Iran.

Pers Iran mengatakan Ayatollah Ali Khamenei menunjuk badan pengawas untuk meminta pengadilan menangani pelaku utama aksi unjuk rasa dan mereka yang bertanggung jawab melukai dan membunuh orang tak bersalah.

Back to top button