Gempa Terkuat dalam 125 Tahun di Venezuela Tewaskan 1.450 Orang, Indonesia Sampaikan Belasungkawa

JERNIH – Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang wilayah pesisir utara Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam kini tercatat sebagai bencana seismik paling mematikan yang melanda negara tersebut dalam kurun waktu lebih dari 125 tahun terakhir. Guncangan kembar yang terjadi hanya dalam hitungan detik tersebut telah melumpuhkan infrastruktur kota dan memicu krisis kemanusiaan yang mendalam.
Berdasarkan pembaruan data terbaru hingga Minggu (29/6/2026), Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengumumkan bahwa jumlah korban tewas telah melonjak drastis menyentuh angka 1.450 jiwa. Angka ini meningkat signifikan dari laporan beberapa hari sebelumnya yang sempat mencatat 920 hingga 1.430 kematian.
Dua Guncangan Maut dalam 39 Detik
Menurut data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), petaka ini bermula ketika dua gempa bumi besar berkekuatan Magnitudo 7,5 dan 7,2 mengguncang wilayah Yaracuy dengan selang waktu yang sangat singkat, yakni hanya 39 detik. Gempa berkekuatan M 7,5 berpusat sekitar 23 kilometer di tenggara Yumare. Kemudian gempa berkekuatan M 7,2 menyusul dengan pusat sekitar 23,9 kilometer di timur laut San Felipe.
Dampak dari dua hantaman beruntun ini luar biasa merusak. Wilayah La Guaira dan ibu kota Caracas menjadi dua daerah dengan tingkat kerusakan infrastruktur paling parah. Sebanyak 774 bangunan dilaporkan runtuh rata dengan tanah, memaksa Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, menetapkan Status Darurat Nasional.
Kepanikan massal bahkan sempat kembali melanda warga pada Jumat (26/6/2026) sore, setelah gempa susulan bermagnitudo 4,9 kembali menghentak kawasan Caracas dan Maracay di tengah proses evakuasi yang sedang berjalan.
Hingga saat ini, lebih dari 3.150 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara 12.721 warga lainnya terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal atau terdampak langsung oleh bencana.
Pemerintah Venezuela kini tengah berpacu dengan waktu dalam operasi pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue). Guna mengevakuasi korban yang masih tertimbun runtuhan bangunan, sebuah operasi kemanusiaan masif dikerahkan di lapangan.
Lebih dari 25.000 personel gabungan dari unsur militer, polisi, tim perlindungan sipil, Palang Merah, dan organisasi kemanusiaan lokal diterjunkan ke titik-titik parah. Selain itu, sebanyak 2.624 personel penyelamat internasional dari berbagai negara mitra—termasuk respons cepat dari Amerika Serikat—telah tiba di lokasi dengan didukung oleh 137 anjing pelacak dan 49 kendaraan taktis pendukung.
Tragedi memilukan yang menimpa Venezuela memicu gelombang duka cita dari komunitas internasional, termasuk dari Pemerintah Republik Indonesia. Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI yang diunggah di platform X pada Sabtu (27/6/2026), Indonesia menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada pemerintah, rakyat, serta keluarga korban di Venezuela.
“Kami menyampaikan duka cita kepada keluarga para korban dan seluruh masyarakat yang terdampak oleh tragedi ini. Kami yakin masyarakat Venezuela memiliki kekuatan dan ketangguhan untuk bangkit dan pulih kembali,” tulis Kemlu RI sebagai bentuk solidaritas penuh di masa-masa sulit ini.






