Crispy

Impor dan Ekspor Buah-buahan Indonesia dengan Iran Kena Gempuran AS-Israel

JERNIH– Di balik kepulan asap ledakan yang menyelimuti Teheran dan deru jet tempur Amerika Serikat serta Israel, ada relasi ekonomi yang unik namun kini terancam yakni piring buah di Indonesia dan Iran.

Selama ini, hubungan Indonesia dan Iran mungkin lebih sering terdengar dalam koridor diplomasi politik. Namun, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Senin (2/3/2026) mengungkap fakta mengejutkan, hampir seluruh barang yang kita beli dari Iran adalah buah-buahan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, membeberkan bahwa sepanjang 2025, Indonesia mengimpor barang senilai US$8,4 juta dari Iran. Menariknya, sebesar US$5,9 juta di antaranya adalah buah-buahan (HS 08), disusul oleh besi, baja, serta peralatan mekanis.

Bahkan di awal tahun 2026, ketergantungan ini semakin menguat. “Sekitar 94,07% impor Indonesia dari Iran berupa buah-buahan,” tutur Ateng. Produk seperti kurma, kismis, hingga kacang-kacangan khas Persia yang kerap menghiasi supermarket dan pasar tradisional kita kini berada di jalur peperangan.

Hubungan ini tidak searah. Indonesia justru mencatatkan surplus besar dalam perdagangan nonmigas ke Iran dengan nilai ekspor mencapai US$249,1 juta. Indonesia mengekspor buah-buahan tropis senilai US$86,4 juta, otomotif berupa kendaraan dan bagiannya senilai US$34,1 juta serta lemak dan minyak hewan/nabati senilai US$22 juta.

Di bulan Januari 2026 saja, meski tensi mulai memanas, kapal-kapal masih sempat mengangkut buah-buahan tropis kita senilai US$9,1 juta ke Teheran.

Kini, kelancaran tukar-menukar buah dan mesin ini terancam berhenti total. Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai balasan atas tewasnya Ayatollah Ali Khamenei telah menciptakan “sumbatan” pada urat nadi perdagangan dunia.

Jalur sempit yang menangani seperlima pasokan minyak dunia ini kini sepi dari lalu lintas kapal tanker. Dampaknya langsung terasa pada harga energi global. Harga minyak Brent melonjak hingga 13% (tertinggi sejak Januari 2025) ke level US$77,69 per barel. Sementara minyak WTI menguat ke level US$71,45 per barel.

Eskalasi serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Timur Tengah membuat para pemilik kapal memilih untuk menghentikan pelayaran. Bagi Indonesia, ini bukan hanya soal harga BBM yang akan “mendidih”, tetapi juga soal potensi kelangkaan komoditas spesifik dari Iran serta terhentinya pasar ekspor kendaraan dan kelapa sawit kita ke sana.

Back to top button